Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Kualitas Komunal Ramadhan

Sudah jamak diketahui bahwa puasa bukanlah ibadah ekslusif umat Islam. Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang berbeda.

Ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan. Pemeluk Yahudi, berpuasa selama 25 jam, pada hari kesepuluh Tishrei atau yang dikenal dengan hari Yom Kippur, setiap tahunnya. Demikian juga pemeluk agama Kristen Timur, yang berpuasa selama 40 hari sebelum perayaan paskah.

Mengapa Ramadhan kemudian menjadi bulan spesial yang dipilih sebagai bulan wajib puasa? Apabila kita bandingkan Ramadhan dengan bulan ke-11, 12, 1, dan 7 dalam penanggalan Hijrah–secara berturut-turut kita kenal sebagai bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, kita akan menemukan fakta bahwa dalam kelender Arab pagan, maupun Islam sekalipun, Ramadhan sebelumnya tidak memiliki status sebagai bulan haram. Bulan haram sendiri adalah institusi Arab pra-Islam yang dilembagakan untuk meredam pertumpahan darah yang sering terjadi di jazirah Arab. Pada bulan-bulan ini, setiap bentuk kekerasan dan peperangan dilarang. Festival keagamaan kuno, seperti umrah pada bulan Rajab pun dilakukan, demikian pula festival haji besar yang berlangsung pada Dzulhijjah, dan bangsa Arab untuk sementara menikmati status sebagai bangsa beradab.

Perubahan waktu wajib puasa bagi “ummah” saat itu menegaskan bahwa agama Islam memiliki independensi dan tidak sekedar meniru konsep agama sebelumnya. Perubahan ini tidak sekedar perubahan waktu semata, namun perubahan paradigma. Bersama dengan dua perubahan lain (perubahan kiblat dari Yerussalem ke Mekkah) dan perubahan waktu shalat, kewajiban puasa di Bulan Ramadhan memberi kita pesan bahwa komunitas muslim semestinya memiliki kepercayaan diri untuk tidak ikut-ikutan dalam hal beribadah atau berprinsip. Inilah pesan pertama dari peribadatan puasa Ramadhan secara komunal: umat muslim memiliki kemiripan dengan umat terdahulu namun juga memiliki ciri khas tersendiri yang harus dibanggakan.

Kedua, puasa Ramadhan juga menegaskan bahwa kebaikan sebuah “ummah” dibentuk dari kebaikan-kebaikan individual yang berhasil dicapai oleh anggota-anggota sebuah komunitas. Telah jelas bahwa Puasa Ramadhan diwajibkan bagi “mukmin agar menjadi muttaqin”. Sedangkan dapat kita lihat secara eksplisit bahwa parameter ketakwaan dalam ayat-ayat al-Qur’an secara umum terdiri atas dua aspek pokok: kesalehan ritual (beriman dan shalat) serta kesalehan sosial (membagi rizki, menahan marah, suka memaafkan, suka merenung dan bertobat).

Jadi secara sederhana bisa dikatakan puasa—yang dilakukan dengan iman dan sungguh-sungguh—akan menjadikan seseorang bertakwa dan orang yang bertakwa akan melakukan kebaikan pribadi yang berdampak pula pada kebaikan ummah, kebaikan masyarakat.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 25, 2016 by in Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: