Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Qurban dengan Ikhlas dan Syukur

Secara syariat, Ibadah Qurban dilakukan mencontoh peristiwa ‘penyembelihan’ Ismail oleh Nabi Ibrahim as, meski secara historis Qurban sudah dilakukan sejak zaman Nabi Adam as. Dikisahkan bahwa setelah lama tidak dikarunia putra, Nabi Ibrahim as akhirnya mendapatkan keturunan dari istri barunya Hajar. Tentu tidak terkira kebahagiaan Ibrahim atas adanya Ismail. Namun kebahagiaan ini mendapatkan ujian, Ibrahim harus meninggalkan Hajar dan Ismail di tanah tandus Mekkah. Kelak perjuangan Hajar dan Ismail ini menjadi permulaan berkembangnya peradaban Mekkah dengan adanya penemuan sumur Zam-zam.

Setelah lama berpisah dengan isti dan anaknya, Nabi Ibrahim as kembali mendapatkan kesempatan untuk bertemu. Beliau mendatangi keluarganya itu ketika Ismail sudah cukup besar. Betapa bahagianya Nabi Ibrahim as bertemu Ismail, sebagaimana kita sebagai orangtua bertemu anak kita setelah berpisah cukup lama. Namun lagi-lagi Nabi Ibrahim as diuji keimanannya, beliau diperintahkan menyembelih Ismail. Singkat cerita, keduanya berhasil mengatasi ujian ini dan kewajiban menyembelih Ismail diganti dengan kewajiban menyembelih hewan.

Keihlasan yang dilakukan keduanya, perlu menjadi ibrah bagi kita semua. Sebagaimana kisah-kisah religius lainnya, ibadah Qurban menjadi tindakan paradigmatik kita sebagai manusia muslim. Tindakan paradigmatik itu adalah perilaku mengulang dan meniru peristiwa asal yang dijadikan model. Dalam konteks qurban, tentu yang kita tiru bukanlah semata penyembelihan hewan namun motif yang menyebabkannya.

Pengurbanan Ismail oleh Nabi Ibrahim as bermakna penyerahan diri total kepada perintah Allah swt. Penyerahan diri yang total (kaffah) itu tentu membutuhkan pengorbanan, dan Nabi Ibrahim as dihadapkan dengan situasi ekstrem ini—mengorbankan yang paling dikasihinya. Maka tindakan paradigmatik yang menjadi motif kita adalah bagaimana kita membuktikan totalitas kita sebagai makhluk beragama (homo religious) dalam bentuk pengorbanan sesuatu yang kita sukai. Semakin besar nilai sesuatu yang kita korbankan—dalam hal ini adalah harga hewan qurban maka semakin terbuktilah totalitas keagamaan kita.

Namun kita juga perlu hati-hati, manusia juga diberi Allah swt kecenderungan menyenangi keduniaan. “Dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap syahwat dari wanita, anak-anak lelaki, harta benda yang berlimpah berupa emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan pertanian, itulah perhiasan kehidupan dunia. Dan di sisi Allah tempat kembali yang baik.” (Q.S. Ali Imran:14). Karenanya semakin besar ‘nilai’ hewan qurban kita, semakin besar pula godaannya. Godaan itu berupa keinginan mendapatkan pujian (riya’) yang bisa mengikis keihlasan, padahal keihlasan adalah kunci qurban.

Nabi berpesan: “Tidak ada amal yang dilakukan oleh anak Adam pada hari nahr yang lebih dicintai Allah, selain mengalirkan darah (menyembelih hewan). Dan haiwan yang disembelih itu kelak di hari kiamat akan datang (menemui orang yang korban) lengkap dengan tanduk, kuku dan sepatu kakinya. Dan sesungguhnya darah akan diterima Allah sebelum darah itu jatuh ke tanah. Kerana itu lakukanlah korban itu dengan seikhlas mungkin” (HR. Tirmidzi).

Juga disebutkan dalam al-Qur’an, “Daging-daing unta & darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS Al Hajj: 37).

Humanitas Qurban

Imam Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menekankan bahwa makna sejati dari ibadah Qurban adalah pendistribusian nilai-nilai kemanusiaan (humanitas). Nilai-nilai itu diantaranya adalah penghargaan terhadap pentingnya kemanusiaan. Peristiwa penggantian qurban dari seorang manusia (Ismail) menjadi seekor hewan, adalah kritik terhadap praktik pengurbanan manusia yang menjadi tradisi baik pada saat itu maupun sesudahnya pada beberapa kebudayaan.

Qurban juga berfungsi memperkuat ikatan sosial dalam sebuah komunitas. Dengan adanya qurban, terjadi distribusi kekayaan dari orang kaya kepada yang kurang mampu. Dalam hal ibadah qurban, Islam hadir dalam bentuk perayaan kultural yang melekatkan antar elemen masyarakat. Ini sesuai dengan tesis Emile Durkheim dalam ‘The Elementary Forms of the Religious Life’ bahwa ‘Agama adalah sesuatu yang amat bersifat sosial’ dan ‘Masyarakat adalah roh agama’.

Muncul juga kritikan terhadap makna qurban yang disebutkan terakhir. Kritikan ini didasarkan pada fakta bahwa pada hari-hari biasa, orang bisa merasakan nikmatnya daging sehingga daging yang diterima dari seorang pengqurban tidaklah terasa spesial. Kritikan semacam ini tidaklah berdasar, karena secara psikologis daging qurban berbeda dengan daging yang kita beli di waktu lain. Qurban adalah sebuah perayaan (festival) juga, dan manusia sebagai makhluk yang menyukai perayaan (homo festivus) mengalami perasaan berbeda dalam perayaan tersebut. Perbedaan rasa ini tidak semata dalam konteks fisik, namun juga psikis. Karena bagi manusia beragama (homo religious) ruang dan waktu tidaklah homogen, ada ruang waktu sakral (suci) dan ruang waktu profan (tak suci/netral). Dan daging qurban adalah sesuatu yang berasal dari ruang-waktu yang sakral tersebut. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 4, 2013 by in Religius and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: