Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Ketika Ibadah Jadi Musibah

Pembagian zakat di rumah Probosutedjo memakan korban. Belasan orang pingsan akibat berdesak-desakan ketika berebut zakat senilai Rp. 100 ribu per orang tersebut. Panitia bersama aparat kewalahan karena gelombang warga yang mengantre melebihi perkiraan (jogja.tribunnews.com, 5/8/2013). Kericuhan yang sama juga terjadi di beberapa tempat lain, di kediaman Bupati Nganjuk warga yang tidak mendapatkan kupon berebut sembako 2,5 kilogram beras dan uang Rp. 10 ribu. Sedangkan di Polewali Mandar petugas pembagi kupon zakat seorang pengusaha sampai nyaris terlibat baku hantam dengan warga yang ingin mendapatkan kupon.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada tragedi Pasuruan. Pada pertengahan Ramadhan (15/9/2008) acara pembagian zakat Haji Syaikhon berujung maut. 21 orang tewas terinjak dan belasan lainnya pingsan terhimpit antrean. Padahal saat itu zakat yang dibagikan hanyalah sebesar Rp. 30 ribu per orang.

Para muzakki (pemberi zakat) agaknya kurang belajar dari pengalaman seperti ini. Buktinya distribusi zakat yang dilakukan tersentral dan tidak koordinasi masih terjadi, utamanya pada Bulan Ramadhan. Distribusi zakat yang menimbulkan kericuhan bahkan korban jiwa sangat jelas mengajarkan bahwa praktik-praktik keagamaan yang tidak dilakukan tidak dengan humanis justru menjadi musibah bukan lagi sebagai ibadah.

Dalam kasus pembagian zakat yang menimbulkan kericuhan, sesungguhnya para Muzakki itu telah melakukan kekerasan atas nama agama. Betul bahwa ia tidak secara langsung melakukan kekerasan, namun dalam perspektif teori Galtung, Muzakki yang seperti ini setidaknya telah melakukan kekerasan struktural (kekerasan yang bersumber dari struktur sosial) dan kekerasan kultural (simbolis untuk melegalisasi kekerasan).

Di masyarakat para Muzakki cenderung orang yang berada pada struktur atas. Pembagian zakat langsung yang dilakukan di kediamannya secara simbolis ingin menegaskan dominasinya atas warga masyarakat yang lain. Ia ingin menekankan kemampuan dirinya dibandingkan dengan kemampuan orang lain yang lebih tidak mampu. Bahkan dalam banyak kasus bisa kita pahami bahwa Muzakki yang semacam ini ingin mencitrakan diri sebagai seorang dermawan. Memang dalam Islam, zakat—dan sedekah—bisa dilakukan secara sembunyi atau terang-terangan (QS. 14:31). Memberi secara terang-terangan memang bisa bermakna ajakan agar orang lain ikut melakukan kebaikan semacam itu, asalkan niatnya ikhlas dan tidak tercampur riya’.

Namun ketika tidak dilakukan secara baik maka distribusi zakat yang terang-terangan malah memiliki lebih banyak kemudharatan. Islam telah memprediksi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi dalam pemberian terang-terangan dan lebih menekankan pada pemberian secara sembunyi-sembunyi (QS. 2:271).  Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa orang yang bersedekah tidak dengan terang-terangan sampai-sampai “tangan kiri” tidak mengetahui apa yang diinfakkan “tangan kanan” akan dinaungi oleh Allah di hari Kiamat (shahih Bukhari). “Tangan” di sini bisa dalam pengertian harfiah maupun simbolis, misalnya tangan juga bisa berarti “pembantu” atau “amil zakat”.

Kesulitan utama distribusi zakat terang-terangan dan langsung adalah terkait situasi sosial masyarakat. Pemberian zakat yang terang-terangan plus dilakukan tersentral dan tidak koordinatif cenderung berakhir ricuh. Kemampuan ekonomi masyarakat sekitar yang rendah dan budaya peminta-minta yang tinggi ikut menjadi faktor yang menyebabkan mengapa distribusi zakat tersentral selama ini cenderung berubah menjadi musibah. Masyarakat akan menyerbu tempat pemberian zakat meski ia tidak mendapatkan kupon karena berharap kemurahan Muzakki dan panitia pembagi.

Karenanya terkait kondisi sosial masyarakat, menditribusikan zakat melalui amil (panitia) yang memiliki kredibilitas dan berpengalaman menjadi lebih utama daripada menyalurkan zakat sendiri. Bahkan pada dasarnya zakat itu diambil dari para muzakki oleh pemerintah atau amil yang terpercaya (QS. 9:103). Dalam hal ini, mendistribusikan zakat melalui BAZ resmi yang terdaftar lebih baik daripada disalurkan sendiri. BAZ resmi tentu telah berpengalaman dalam membagi zakat kepada para mustahik, memiliki jaringan cukup luas serta memiliki data profil penerima zakat yang lebih tepat sasaran.

Namun sayangnya, selama ini sebagian masyarakat masih kurang mantap menyalurkan zakatnya melalui Lembaga amil. Di satu sisi terdapat perasaan yang lebih senang ketika kita mengetahui secara langsung mustahik yang diberi, di sisi lain ini mengindikasikan kredibilitas lembaga amil yang harus terus ditingkatkan. Dengan begitu, distribusi zakat di tahun-tahun mendatang bisa lebih baik dan ibadah tidak lagi berubah menjadi musibah.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 14, 2013 by in Religius and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: