Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Ramadhan Momen Mengembangkan Kapasitas

Agama Islam sebagai sebuah ajaran yang sempurna meletakkan kepentingan individu dan sosial dalam hubungan yang harmonis: tidak ada kehidupan sosial yang baik tanpa individu-individu yang baik, begitu pula seorang individu yang baik tidaklah sempurna manakala ia hidup dalam kehidupan sosial yang tidak baik. Prinsip semacam ini bisa kita dapati tercermin dalam banyak aspek ajaran Islam, baik yang langsung mengangkut muammalah, ibadah, bahkan aqidah.

Hal ini dapat kita tangkap dari pesan-pesan dalam ibadah yang kita jalani. Misalnya saja shalat, bagaimana shalat itu diharapkan memberi dampak kepada pelakunya agar tercegah dari perbuatan keji dan munkar. Contoh lain, mekanisme Zakat-Sedekah yang memungkinkan distribusi kekayaan dari Si Kaya kepada Si Miskin secara efektif—jauh lebih efektif sebenarnya daripada mekanisme pajak.

Khusus pada Bulan Ramadhan ini, kita umat muslim seluruh dunia menjalankan ibadah puasa. Tidak berbeda dengan ibadah lain, disamping mengembangkan kapasitas individual pelakunya ibadah ini juga mengajarkan kepada kita pentingnya kesalehan sosial. Baik kita sadari maupun tidak, ibadah Puasa memungkinkan kita menjadi orang yang lebih baik, baik bagi diri kita sendiri maupun bagi makhluk Allah yang lain. Uraian selanjutnya akan menjelaskan mengenai pernyataan tersebut.

Ramadhan dan pengembangan kapasitas individual

Secara etimologi, ramadhan berasal dari kata ra-mi-dha yang artinya “panas” atau “panas yang menyengat”. Kata ini berkembang sebagaimana umumnya dalam struktur bahasa Arab dan bisa dimaknai “menjadi panas, atau sangat panas”, atau diartikan “hampir membakar”. Dalam kamus Al-Munjid, ramidha atau ramdha’ memiliki makna syadid al-har (“sangat panas”, “terik”).

Ar-Ramadhu juga bisa berarti “batu yang panas karena panas teriknya matahari” sebagaimana terdapat dalam kitab Matn Al-Lughah. Ibnu Manzhur berpendapat: “Ramadhan adalah salah satu nama bulan yang telah dikenal”. Ibnu Duraid menambahkan: “Ketika orang-orang mengadopsi nama-nama bulan dari bahasa kuno secara sima’i dengan zaman (masa) yang ada dalam bulan itu, maka bulan Ramadhan bertepatan dengan masa panas terik, lalu dinamakanlah dengan Ramadhan.

Menurut Quraish Shihab, ramadhan berasal dari akar kata yang berarti “membakar” atau “mengasah”. Disebut demikian karena pada bulan ini dosa-dosa manusia pupus, habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya. Bisa juga karena bulan tersebut dijadikan waktu untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.

Dari sudut pandang lain, kita menemukan menurut al-Ghazali makna Ramadhan juga sebagai sebuah proses “pengurangan” dan “pengosongan”. Pengurangan (taqliil) yang mesti kita lakukan dalam bulan Puasa, yakni pengurangan terhadap pemuasan kebutuhan konsumtif kita baik itu dalam hal konsumsi makanan, konsumsi seksual, bahkan konsumsi penampilan. Konsumsi penampilan adalah pemuasan atas kecenderungan kita untuk memperlihatkan diri sebagai orang suci di depan orang lain namun penampakan itu hanya sebatas topeng belaka.

Sayangnya, menurut al-Ghazali, kita sering luput dalam aspek pengurangan ini. Yang terjadi kemudian malah puasa hanya sebatas penundaan, bahkan pelipatan. Kita hanya menunda konsumsi yang biasanya kita penuhi saat siang menjadi saat malam, bahkan pelipatan konsumsi/penambahan jumlah pemenuhan kebutuhan kita. “Memakan apa yang tak dimakan di selain bulan Ramadan, mengonsumsi sesuatu lebih banyak dari hari-hari non-puasa, sungguh telah jauh melenceng dari ruh puasa,” demikian tulis al-Ghazali.

Ketika kita berhasil melakukan “pengurangan”, maka kita perlu berlanjut pada tahap “pengosongan” (al-khawaa’) dan penaklukan keinginan-keinginan diri (kasr al-hawaa) yang bersifat fisikal. Dengan perubahan fokus dari alam fisikal ke alam spiritual, barulah jiwa seseorang diyakini bisa mencapai level takwa. Pengurangan intensi dalam aspek-aspek yang fisikal diandaikan akan meninggikan sensitivitas terhadap alam spiritual.

Beberapa hadits populer menegaskan fungsi puasa Ramadhan sebagai sarana pengembangan kapasitas diri sebagai mana dijelaskan al-Ghazali. “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu” juga berarti puasa Ramadhan berdampak pada pengosongan dosa. Bahkan hadits “Berpuasalah niscaya kalian sehat”, bermakna peningkatan kualitas jasmani.

Ramadhan dan pengembangan kapasitas komunal

Sudah jamak diketahui bahwa puasa bukanlah ibadah ekslusif umat Islam. Ulama menggolongkan puasa dalam salah satu ajaran yang dilandaskan pada syariat pra-Islam dikarenakan umat-umat sebelumnya sudah menjalankan ibadah semacam ini. Sebagaimana perintah puasa dalam al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al-Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an (Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam.

Dalam sebuah hadits sahih diceritakan, ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari, hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain juga senada, orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan Ramadan. Pemeluk agama Yahudi misalnya, berpuasa selama 25 jam, pada hari kesepuluh Tishrei atau yang dikenal dengan hari Yom Kippur, setiap tahunnya. Demikian juga pemeluk agama Kristen Timur, yang berpuasa selama 40 hari sebelum perayaan paskah.

Mengapa Ramadhan kemudian menjadi bulan spesial yang dipilih sebagai bulan wajib puasa? Apabila kita bandingkan Ramadhan dengan bulan ke-11, 12, 1, dan 7 dalam penanggalan Hijrah–secara berturut-turut kita kenal sebagai bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, kita akan menemukan fakta bahwa dalam kelender Arab pagan, maupun Islam sekalipun, Ramadhan sebelumnya tidak memiliki status sebagai bulan haram. Bulan haram sendiri adalah institusi Arab pra-Islam yang dilembagakan untuk meredam pertumpahan darah yang sering terjadi di jazirah Arab. Pada bulan-bulan ini, setiap bentuk kekerasan dan peperangan dilarang. Festival keagamaan kuno, seperti umrah pada bulan Rajab pun dilakukan, demikian pula festival haji besar yang berlangsung pada Dzulhijjah, dan bangsa Arab untuk sementara menikmati status sebagai bangsa beradab.

Salah satu bulan haram terpenting adalah Muharram, ia bertepatan dengan Tishrei yang menjadi bulan suci bangsa Yahudi. Dalam penanggalan Yahudi yang juga menganut sistem lunisolar, Tishrei bertepatan dengan masa panen raya yang biasanya jatuh pada bulan September dan Oktober. Hari kesepuluh Tishrei dirayakan oleh bangsa Yahudi sebagai masa berpuasa untuk memperingati turunnya 10 perintah Tuhan kepada Musa atau biasa dinamakan sebagai Yom Kippur, Hari Pertobatan. Pada mulanya, perintah puasa bagi umat Islam dilakukan bersamaan dengan Hari Raya umat Yahudi tersebut. Jejak dari perubahan waktu berpuasa umat Islam ini bisa kita baca dari redaksi ayat 2:183-4 yang memperkenalkan perintah untuk berpuasa tanpa petunjuk khusus tentang waktu tertentu untuk melakukannya. Dalam banyak literatur, kedua ayat ini secara tidak langsung merujuk pada puasa 10 Muharram yang saat itu mengikuti perayaan Yom Kippur. Pengenalan Ramadhan sebagai waktu untuk berpuasa, baru hadir di ayat 2:185, yang merevisi term hari-hari tertentu, ayyam ma’dudat, pada Yom Kippur menjadi kewajiban berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Dikemudian hari, 10 Muharram mengalami modifikasi makna dikalangan muslim Syiah, menjadi hari untuk memperingati kematian Hussein pada perang Karbala.

Enam bulan setelah Muharram, ada Rajab yang merupakan satu-satunya bulan haram diluar 3 bulan haram yang saling berurutan. Ia hadir pada awal musim semi, sekitar Maret, dan berkorelasi dengan salah satu hari raya Yahudi dan Kristen. Dalam banyak peradaban kuno, awal musim semi atau akhir musim dingin selalu menjadi hari besar yang dirayakan. Dalam peradaban Cina, kita mengenal Imlek yang merayakan saat pergantian musim itu dan awal masa bercocok tanam. Dalam kalender Yahudi, awal musim semi ini dikenal dengan nama Nisan, didalamnya ada perayaan Passover, yang memperingati keluarnya Musa dari Mesir. Passover dikemudian hari mengalami modifikasi makna oleh umat Kristen menjadi hari penyaliban dan kenaikan Isa ke langit, atau lebih dikenal sebagai perayaan Paskah. Kedudukan perayaan-perayaan besar di luar dunia Arab ini pada akhirnya mempengaruhi mereka dalam mempersepsi Rajab yang dirayakan didalamnya ibadah umrah, sekaligus menjadi festival pasar tahunan bangsa Arab.

Perubahan waktu wajib puasa bagi “ummah” saat itu menegaskan bahwa agama Islam memiliki independensi dan tidak sekedar meniru konsep agama sebelumnya. Perubahan ini tidak sekedar perubahan waktu semata, namun perubahan paradigma. Bersama dengan dua perubahan lain (perubahan kiblat dari Yerussalem ke Mekkah) dan perubahan waktu shalat, kewajiban puasa di Bulan Ramadhan memberi kita pesan bahwa komunitas muslim semestinya memiliki kepercayaan diri untuk tidak ikut-ikutan dalam hal beribadah atau berprinsip. Inilah pesan pertama dari peribadatan puasa Ramadhan secara komunal: umat muslim memiliki kemiripan dengan umat terdahulu namun juga memiliki ciri khas tersendiri yang harus dibanggakan.

Kedua, puasa Ramadhan juga menegaskan bahwa kebaikan sebuah “ummah” dibentuk dari kebaikan-kebaikan individual yang berhasil dicapai oleh anggota-anggota sebuah komunitas. Darimana kesimpulan ini kita dapatkan?

Mari kita perhatikan kembali ayat al-Qur’an mengenai perintah puasa dalam QS. Al-Baqarah: 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Jelas bahwa perintah puasa ditujukan bagi orang-orang yang beriman (mukmin) agar bisa meningkatkan kualitas menjadi orang bertakwa (muttaqin). Dan orang yang bertakwa adalah mereka yang berimankepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang dianugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (QS.2:3-4). Orang muttaqin juga seorang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang serta orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (QS.3:134-135).

Dapat kita lihat secara eksplisit bahwa parameter ketakwaan secara umum terdiri atas dua aspek pokok: kesalehan ritual (beriman dan shalat) serta kesalehan sosial (membagi rizki, menahan marah, suka memaafkan, suka merenung dan bertobat).

Jadi secara sederhana bisa dikatakan puasa—yang dilakukan dengan iman dan sungguh-sungguh—akan menjadikan seseorang bertakwa dan orang yang bertakwa akan melakukan kebaikan pribadi yang berdampak pula pada kebaikan ummah, kebaikan masyarakat.

Sebuah renungan

Efek luas dari puasa adalah terciptanya keseimbangan yang tampak dalam kebaikan pribadi dan kebaikan ummah. Jika realitas sosial kita berkata lain, maka patutlah kita merenung apakah puasa-puasa yang kita lakukan masih sebatas untuk kepentingan diri sendiri dan belum berdampak pada kebaikan ummah? Ataukah malah juga belum berdampak pada kebaikan diri?

Maka pantas bagi kita untuk selalu mengingat agar waspada. Mari kita menjadikan puasa Ramadhan ini kembali pada tujuannya sebagai sarana “pembakaran”, “pengurangan”, dan “pengosongan” diri dan ummah. Karena jika kebaikan puasa itu bisa kita dapatkan, maka bukankah kita dan ummah ini akan mendapatkan solusi dari aneka problematika modernitas yang melanda kita sekarang ini. Sebuah janji yang diberikan oleh Allah swt: “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…Dan barang-siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (QS. Ath-Thalaq:2-4).

Wallahu ‘alam bisshawab.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 9, 2013 by in Humanis, Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: