Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Memaknakan Isra’ Mi’raj dalam Kehidupan Kekinian

Setiap tanggal 27 Rajab umat muslim memperingati sebuah peristiwa fenomenal, Isra’ Mi’raj. Dikisahkan setelah mengalami tahun kesedihan (‘am al-huzn) karena berbagai musibah yang mendera diantaranya kematian Khadijah dan Abu Tholib serta boikot yang dilancarkan kaum Quraisy kepada umat Islam, Rasulullah mengalami kejadian luar biasa dan menimbulkan kontroversi, bahkan sampai sekarang.

Menurut riwayat jumhur ulama, peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun ke-10 kenabian (621 M). Pada suatu malam ketika Nabi berada di rumah Hindun putri Abu Thalib. Beliau dijemput oleh Malaikat Jibril, menaiki kendaraan Buraq menuju Baitul Maqdis. Setelah shalat di Masjid al-Aqsa beliau naik ke Sidratul Muntaha dengan melewati beberapa pintu langit dan bertemu dengan beberapa nabi terdahulu. Sampai di Sidratul Muntaha beliau menerima perintah shalat dari Allah swt, turun kembali ke ke Masjidil Aqsa kemudian kembali ke Mekkah.

Menjelang fajar, Rasulullah sudah sampai di rumah sepupunya Hindun dan menceritakan pengalamannya ini. Oleh Hindun ia disarankan untuk tidak menceritakan pada orang lain agar tidak mendapat cemohan, namun nabi bersikeras menyampaikannya. Mendengar penuturan nabi ini beberapa pemeluk Islam sampai keluar lagi dari kepercayaannya serta pemuka-pemuka Quraisy merasa punya bahan lain mengolok-olok nabi. Namun beberapa sahabat utama menyatakan percaya pada apa yang disampaikan nabi.

Di sini kita tidak akan membicarakan detail dari peristiwa ini, alih-alih kita akan mencoba memandang peristiwa ini dalam beberapa perspektif. Pandangan ini difokuskan bukan pada apa yang sudah terjadi, namun lebih pada ‘apa yang bisa terjadi’ jika kita memaknakan peristiwa Isra’ Mi’raj ini dalam kehidupan kekinian. Agar pengalaman Rasulullah ini juga bisa kita alami, agar kita juga ber-isra’ mi’raj.

Perspektif Bahasa

Dalam al-Qur’an, berita mengenai kejadian Isra’ diabadikan pada surat al-Isra’ ayat 1 yang terjemahan bebasnya kira-kira “Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

Selama ini, kata isra’ secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”. Padahal, kata isra’ itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Kata sariyah yang satu dasar kata dengan isra’ berarti pencarian. Jadi isra’ di sini bisa kita artikan sebagai sebuah “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.

Sedangkan peristiwa Mi’raj dikisahkan dalam surat an-Najm meski tidak secara eksplisit menyebut kata Mi’raj. Istilah Mi`raj  sendiri berasal dari kata `araja yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan spiritualitas.

Sehingga dalam konteks perspektif bahasa, peristiwa Isra’ Mi’raj memberikan kita pelajaran bahwa kita diperintahkan untuk “selalu mencari”, dengan pencarian tersebut kita diharapkan pula bisa meningkatkan derajat kita, baik itu derajat keimanan, intelektualitas, spiritualitas, maupun yang lain.

Mengapa peristiwa Mi’raj didahului dengan peristiwa Isra’ terlebih dahulu, menunjukkan bahwa jika kita ingin meningkatkan derajat kita tidaklah itu bisa tercapai tanpa sebuah usaha pencarian terlebih dahulu. Manakala pencarian itu sudah kita lakukan niscaya Tuhan akan membalasnya dengan peningkatan yang kita inginkan. Tidak ada peningkatan sebelum seseorang melakukan pencarian.

 Dalam perspektif bahasa selanjutnya kita bisa pula mengambil hikmah dari penggunaan kata “masjid” untuk menyebut tempat keberangkatan dan naiknya Rasulullah. Dalam surat al-Isra’ di atas disebutkan Nabi “diperjalankan” dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Padahal saat itu belum ada yang namanya Masjidil Haram, yang ada masih Ka’bah saja. Begitu pula dengan Masjidil Aqsa, yang sebenarnya adalah “kuil Nabi Sulaiman”. Jika pengertian“masjid” sebagaimana yang kita pahami pada umumnya, maka masjid pertama yang dibangun Nabi adalah Masjid Quba, setelah beliau hijrah. Berbeda jika kita memperluas kata “masjid” sebagai “segala tempat yang digunakan untuk sujud/menyembah Tuhan” maka tepat kedua tempat itu disebut masjid, senada dengan hadits “Kullu ardlin masjidun (setiap tempat di bumi adalah tempat sujud)”.

Secara bahasa, kata Aqsa berarti “jauh”. Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud pada Tuhan. Namun agar kita bisa bersujud sepenuhnya—sebagai makna simbolik Masjidil Aqsha—kita perlu berangkat dari Masjidil Haram, atau proses pensucian diri, perilaku, dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan, ketakutan, kegundahan, dan kedengkian, kita tidak akan bisa Isra’. Ini adalah makna simbolik dari “proses pembersihan dada” Rasulullah.

Perspektif Teologis

Agama, dalam bingkai studi agama bisa disebut sebagai ajaran yang membawa hal-hal yang (dianggap) suci, dan bagi manusia yang beragama—meminjam bahasa Mircea Eliade—adalah ruang dan waktu tidaklah homogen (tunggal). Bagi manusia pemeluk agama, pasti ada tempat/ruang, waktu, dan peristiwa yang dianggap lebih suci (sakral) dibanding lainnya yang dianggap biasa (profan). Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kejadian yang disamping menempatkan sebuah waktu (27 Rajab) yang dianggap lebih suci dari hari biasa, tempat (Masjidil Haram, Masjidil Aqsa, Sidratul Muntaha) yang dianggap sakral daripada tempat biasa, dan peristiwa (perjalanan dan penaikan Nabi) yang dianggap suci dibanding peristiwa lain yang biasa.

Meskipun begitu, bahasa agama yang sangat simbolik tetap perlu diterjemahkan dan dikontekstualisasikan dalam bahasa kehidupan kapanpun agar tetap bisa diserap makna dan hikmahnya. Kisah Isra’ Mi’raj dan kisah-kisah yang mirip ini mengarahkan pengetahuan dan kesadaran umat beragama akan narasi besar yang memperkukuh dinamika umat agar selalu merasakan kehadiran Yang Mutlak (Allah). Ini penting, setidaknya untuk membendung terperosoknya sejarah ketuhanan dan agama dari sekadar sejarah dunia yang biasa dan profan.

Agama sebagai sebuah “Misterium Tremendum” selalu butuh legitimasi kebenaran (truth claim) yang seringkali melampaui rasionalitas. Semangat ini membutuhkan keberanian pemeluknya untuk bisa melampaui simbol-simbol yang ditampilkan dalam kisah Isra’ Mi’raj. Dalam konteks teologi, Isra’ Mi’raj dianggap lebih perlu digali “pesan-pesan” di balik simbolnya daripada kita berpusing memperdebatkan kebenaran fakta sejarahnya.

Ini juga berlaku bagi peristiwa lain yang dikisahkan dalam al-Qur’an. Berbagai mukjizat dan kisah-kisah di luar nalar—meski tetap kita yakini kebenaran sejarahnya—perlu lebih kita tekankan pada pemaknaan simboliknya daripada sekedar pembuktian faktanya.

Dalam perspektif ini pula, sebuah peristiwa religius yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci, bisa dipandang sebagai “ajaran simbolik” membawa pesan yang selalu kontekstual karena pasti terjadi semacam “perulangan kosmogonik”. Misalnya saja peristiwa penunjukkan nabi Adam sebagai khalifah atau dikeluarkannya beliau dari surga, kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan, kisah Nabi Musa melawan kediktatoran Fir’aun hingga kisah “penaikan nabi Isa”, adalah sama dengan kisah Isra’ Mi’raj ini. Pola dari peristiwa itu akan terulang kembali dalam kehidupan kita, dan kita diminta untuk mengambil pelajaran dari simbol-simbol kisah tersebut.

Dalam konteks Isra’ Mi’raj, pola yang sama juga terjadi pada kita. Tahun kesedihan yang dialami nabi, kesulitan sosial-ekonomi akibat boikot Quraisy, tawaran kerjasamanya yang ditolak kabilah-kabilah lain, menjadi “latar belakang” di-Isra’ Mi’raj-kannya beliau. Bagi kita kesulitan dan tekanan hidup, hambatan dalam merealisasikan visi-misi, juga perlu kita jadikan “latar-belakang” bagi Isra’ Mi’raj kita. Dengan cara apa? Nabi memberi petunjuk “as-shalatu mi`rajul mu’minin (shalat itu mi’raj-nya mukmin”, sedangkan Isra’ bisa kita lakukan dengan melakukan “pencarian kebenaran” yang bisa kita lakukan secara fisik (traveling), maupun non-fisik (berfikir, membaca, dsb).

Perspektif Ilmiah

Menurut perspektif ilmiah, perjalanan Isra’ Mi’raj bisa dikaitkan dengan beberapa kajian dalam bidang fisika, astronomi, medis, dan teknologi. Rujukan untuk perspektif ini masihlah sangat minim, dikarenakan masih sedikit studi yang secara serius menghubungkan peristiwa Isra’ Mi’raj dengan kajian-kajian serta penemuan dalam bidang-bidang tersebut. Namun setidaknya, peristiwa Isra’ Mi’raj menuntun semacam hipotesa dan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang rasa ingin tahu.

Beberapa pembahasan bernuansa ilmiah untuk peristiwa Isra’ Mi’raj adalah sebagai berikut. Pertama, “makhluk” apakah Buraq itu? Nabi menggambarkannya sebagai “binatang yang lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari unta” yang lompatannya “sejauh mata memandang”. Bagaimana kita menterjemahkan simbol Buraq ini? Apakah ia binatang atau kendaraan? Jika ia binatang maka selesailah pencarian kita karena kita mungkin sulit menciptakan binatang ini. Namun jika Buraq adalah perlambang kendaraan maka kita terinspirasi untuk menciptakannya. Apakah tidak mungkin Buraq itu semacam pesawat terbang? Yang kecepatannya melampaui kecepatan cahaya sehingga tepat jika digambarkan bahwa lompatannya sejauh mata memandang.

Kedua, jika benar Buraq adalah kendaraan dengan kecepatan melampaui cahaya maka berdasarkan teori relativitas sebuah benda yang kecepatannya melampaui cahaya maka dimensi waktu menjadi “imajiner”. Ini artinya nabi yang menaiki Buraq itu bisa dengan mudah melintasi ruang dan waktu (bertemu dengan nabi lain, melihat surga-neraka, dsb) tanpa terjebak dalam aliran waktu normal.

Ketiga, apa yang dimaksud dengan “langit”? apakah artinya adalah “dimensi” ataukah alam semesta? Sementara ini ada anggapan bahwa semesta kita pararel, artinya ada semesta lain selain semesta yang kita huni dan antar semesta dihubungkan dengan “pintu-pintu yang tersembunyi”. Apakah ini pintu yang dibukakan oleh para Nabi terdahulu kepada Rasulullah?

Keempat, apakah yang dimaksud nabi meminum “susu” dan tidak memilih khamr saat ditawari Jibril sebelum naik ke langit? Apakah ini susu dalam arti sebenarnya atau makanan sejenis yang dibutuhkan oleh tubuh kita manakala kita melakukan perjalanan ke langit? Apakah makna “pembersihan dada” sebelum Rasulullah Isra’ itu semacam operasi sebagaimana yang kita pahami dalam dunia medis?

Kelima, apakah yang dinamakan sidratul muntaha itu adalah adalah batas alam semesta. Sebagaimana dalam QS. An-Najm:16-17 “Ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”. Bukankah pengelihatan kita yang merupakan bagian dari alam, tidak akan bisa melampaui batas alam itu sendiri?

Tentu, dalam perspektif ini—sekali lagi—Isra’ Mi’raj membawa banyak pesan yang harus kita terjemahkan. Agar peristiwa ini tidak semata menjadi peristiwa sejarah namun memberi kita inspirasi dalam bertindak di masa kini dan masa mendatang.

Perspektif Sosial-Kemanusiaan

Dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, kita mengetahui prosesi pembedahan dada nabi oleh Jibril. Proses ini bisa dimaknai sebagai simbol pelapangan dada, penyucian hati, penajaman nurani. Lebih spesifik lagi, pembedahan itu beresensi persiapan untuk bermunajat dengan yang Maha Tinggi dan Maha Suci (al-Musayyar, 2001). Coba kita tengok realitas sekarang, prinsip berlapang dada, mau mengalah, menggunakan nurani dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan kekuasaan seolah lenyap.

Nabi Muhammad juga berkesempatan berjumpa dan berdialog dengan para nabi terdahulu. Ini adalah simbol bahwa sebagai umat dari agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam, kita juga perlu berjumpa dan berdialog dengan umat agama lain. Tiap nabi mewakili umatnya, dan nabi Muhammad menjadi imam shalat mereka. Ini adalah pesan bahwa jika kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan umat agama lain dan menunjukkan pada mereka kebaikan kita sebagaimana kebaikan Rasulullah, maka kita bisa menjadi imam bagi umat manusia.

Pada puncaknya, Rasulullah mendapatkan rahmat yang tak terkira yakni bisa “berjumpa” dengan Dzat yang Maha Pencipta di Sidratul Muntaha. Ini adalah kenikmatan yang luar biasa dan tak ada duanya. Bahkan malaikat Jibril-pun tak punya hak masuk ke tempat itu. Ini artinya spiritualitas kemanusiaan kita lebih tinggi dari spiritualitas malaikat. Manusia yang punya peluang berbuat salah namun berhasil menjadi yang terbaik dihargai lebih tinggi daripada malaikat yang tidak berpeluang salah.

Namun yang penting, meski sudah berada dalam kenikmatan tak terkira ini Rasulullah diturunkan kembali ke bumi. Ini karena Sidratul Muntaha bukanlah tempat kita merealisasikan visi kemanusiaan itu. Kenikmatan spiritual harus dibawa kembali lebih membumi. Semua pengalaman spiritualitas yang kita dapatkan dari segenap ritual-ritual yang kita lakukan (shalat, puasa, dan haji) harus diterjemahkan dalam kehidupan sosial yang nyata.

Pola peristiwa Isra’ Mi’raj (Kesedihan – Isra’ – Mi’raj – Kembali ke Bumi – Hijrah) bisa diterjemahkan bahwa dalam menyikapi tantang hidup kita perlu mencari (perjalanan), menaikkan derajat kemampuan/spiritualitas, kembali dalam kehidupan nyata untuk melaksanakan tindakan sosial kemudian melaksanakan hijrah/transformasi sosial.

Perintah shalat yang dibawa Nabi juga membawa banyak simbol kemanusiaan. Kesetaraan derajat manusia adalah prinsip utamanya. Dalam shalat tidak ada perbedaan status, inilah yang ditentang pembesar Quraisy dan kabilah lain. Shalat mengancam status sosial mereka menjadi setara dengan orang lain. Dalam kehidupan sosial, shalat menyimbolkan hubungan masyarakat yang dinilai berdasarkan kualitas kebaikan manusia bukan status sosial dan kekuasaan semata.

Perspektif Psikologis

Kesedihan yang dialami Nabi akibat meninggalnya istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib, boikot (embargo) ekonomi menyebabkan krisis pangan bagi umat Islam, dan ditolaknya hubungan kerjasama dengan beberapa kabilah lain memiliki dampak cukup besar pada psikis Nabi. Inilah tahun duka cita (‘am al-huzn).

Dengan latar belakang inilah Nabi di-Isra’ Mi’raj-kan. Ini membuat peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi semacam wisata spiritual. Wisata spiritual  ini berusaha menegaskan, bahwa kekuatan, ketabahan, harapan dan tantangan, sedikit banyak dapat ditanggulangi oleh peningkatan spiritualitas. Ketika seseorang berada dalam himpitan hidup ia perlu melakukan perjalanan spiritual untuk membuka mata batinnya mengenai harapan dan perjuangan.

Dalam konteks kehidupan kita sehari-hari, ini bisa diterjemahkan bahwa tekanan-tekanan kehidupan yang kita alami perlu dicarikan “katarsis (pelampiasan)” agar jiwa kita menjadi segar kembali. Kegiatan rekreatif perlu dilakukan jika kita mengalami stress, namun yang perlu diingat sebagaimana nabi yang memilih “susu daripada khamr” dalam perjalanan wisata itu, kita diingatkan agar tidak tergelincir dalam kemaksiatan yang justru malah merugikan.

Wallahu ‘alam.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 23, 2013 by in Intelektual, Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: