Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Meneladani Kepemimpinan Profetik Nabi Muhammad SAW

Salah satu persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah minimnya jumlah pemimpin yang memiliki kapasitas dan karakter kepemimpinan yang mumpuni. Hal ini dirasa ironis, mengingat sebagai seorang muslim kita telah diberkahi dengan pedoman hidup—termasuk di dalamnya pedoman mengenai kepemimpinan—berupa al-Qur’an. Disamping itu juga kita memiliki suri teladan yang terbaik (uswah hasanah) dari rasulullah Muhammad saw yang tercantum dalam sunnah dan hadits sahih.

Di tengah degradasi kualitas kepemimpinan, ada baiknya kita kembali berusaha mendapatkan spirit dan pola kepemimpinan profetik (kenabian) dari Nabi Muhammad saw dengan mempelajari apa yang telah beliau lakukan baik kepemimpinan dalam konteks pribadi, keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa bernegara.

Kepemimpinan Diri: Pribadi Mulia = Pribadi Bermanfaat

Dalam konteks manajemen diri, salah satu prinsip utama yang dicontohkan oleh Rasulullah kepada kita adalah mengenai kemanfaatan diri. Seseorang dinilai tidak berdasarkan apa yang ia miliki, namun apa yang ia bagi. “Yang terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat untuk manusia yang lain, khoirukum anfa’uhum linnas”.

Namun kemanfaatan tersebut harus didahului dengan penyucian diri terlebih dahulu. Ini dikarenakan sebagai manusia kita berpotensi mengalami penyimpangan tujuan. Tujuan kemanfaatan diri tentu pada akhirnya adalah mencapai keridhaan Allah SWT. Bahkan bisa dikatakan kemanfaatan diri bagi kemaslahatan manusia dan makhluk lain tidak akan tercapai secara holistik (menyeluruh) tanpa adanya kualitas ketakwaan pada diri manusia tersebut.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS.49:13). Ini berarti ada korelasi antara ketakwaan dan kemanfaatan. Seseorang belum bisa dikatakan benar-benar bertakwa manakala “klaim ketakwaan” tersebut tidak tampak dalam perilaku diri yang bisa memberikan manfaat kepada makhluk-makhluk di sekitarnya.

“Klaim ketakwaan” berbeda dengan ketakwaan yang sebenar-benarnya. Di masyarakat kita banyak manusia yang mengklaim diri atau diklaim (dicitrakan) orang lain sebagai orang yang bertakwa. Sesungguhnya tidak ada yang mengetahui apakah seseorang benar-benar bertakwa atau bukan, dan kita tidak perlu mengetahui itu. Yang paling penting bagi kita adalah parameter-parameter dari ketakwaan tersebut, yakni apakah ketakwaannya ditunjang dengan perilaku yang memberi kemanfaatan bagi lingkungan sekitar.

Bagaimana mengetahui apakah perilaku kita itu bermanfaat atau tidak? Ini pertanyaan klasik namun tetap krusial. Karena selalu terdapat kesenjangan mengenai apa yang dinamakan dengan kebaikan, sesuatu yang baik di sebuah tempat belum tentu dipandang baik di tempat yang lain. Sesuatu yang bermanfaat (useful) selalu bersifat relatif dalam pandangan manusia.

Dalam konteks hubungan antara ketakwaan dan kemanfaatan diri ini, sekali lagi kita perlu kembali meneladani Rasulullah, dalam hal ini kita harus memperhatikan sabda beliau yang terkait dengan tema yang sama yakni menjadi pribadi yang mulia. Beliau berkata, “khairukum man ta’allamal qur’ana wa ‘allamahu, manusia yang terbaik diantara kamu adalah yang mempelajari Qur’an dan mengamalkannya”.

Kalau kita hubungan hadits ini dengan ayat dan hadits sebelumnya (diatas), maka pemaknaannya adalah bahwa manusia yang mulia adalah pribadi yang bertakwa, yang ketakwaannya terwujud dalam bentuk perilaku yang bermanfaat bagi makhluk lainnya, dengan pedoman dari al-Qur’an. Sehingga dalam persoalan bagaimana kita bisa menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri adalah perlunya kembali pada teladan yang diberikan nabi (sunnah) dan pedoman dari Allah swt (al-Qur’an) agar nantinya kita bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinan kita masing-masing dalam mengendalikan diri ini (kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi).

Kepemimpinan Keluarga: Menciptakan Surga di Rumah

Keluarga adalah unit pembentuk masyarakat. Ketika kondisi keluarga-keluarga dalam sebuah masyarakat tidak baik, maka bisa dipastikan akan membentuk kondisi masyarakat secara umum juga tidak baik. Prinsip utama dalam kepemimpinan keluarga dari Nabi Muhammad saw, adalah bagaimana menciptakan rumah sebagai surga, keluarga yang harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah.

Konsep “baiti jannatii” mengandaikan pentingnya relasi yang harmonis dan saling menghargai antar anggota keluarga. Tolak ukurnya adalah perasaan bahagia yang dirasakan semua anggota keluarga, bukan sekedar ketersediaan sarana-sarana duniawi semata. Ketika kebahagiaan sebagai anggota keluarga muncul, maka saat itulah rumah sebagai sebuah surga terwujud. Sebuah keluarga yang bahagia, akan melahirkan generasi yang bahagia. Generasi yang bahagia pada akhirnya akan mempengaruhi dan membentuk masyarakat yang bahagia pula.

Dalam konteks kepemimpinan keluarga, aspek paling mendasar adalah adanya keadilan. Keadilan bisa dimaknai sebagai keseimbangan, melakukan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Ini adalah contoh dari keadilan ilahi, dimana Allah swt menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kadar dan ukurannya.

Keadilan bukanlah sekedar memberikan perlakuan dan hak yang sama, namun lebih pada memberikan perlakuan dan hak yang proporsional. Rasulullah sendiri terhadap istri-istri beliau juga tidak memberikan perlakuan yang sama, namun proporsional sesuai kebutuhan mereka. Tentu saja kadangkala ini menciptakan semacam kecemburuan, misalnya saja kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah, atau kecemburuan istri yang lain terhadap Aisyah. Kecemburuan pasangan jika dikelola secara baik sebagaimana contoh dari Nabi justru akan melahirkan suasana yang harmonis.

Keadilan dalam pengertian keseimbangan yang dicontohkan Rasulullah selaku kepala rumah tangga juga tampak dalam sikap beliau ketika bergaul dengan istri-istrinya. Beliau tidak bersikap dingin, dan seringkali dikisahkan dalam hadits bagaimana beliau mampu menciptakan suasana romantis dengan candaan dan permainan-permainan kecil. Keseimbangan dalam rumah tangga adalah keadaan proporsional dimana terdapat suasana yang dinamis (cemburu, bahagia, romantis, bahkan marah) yang dikelola dengan baik.

Selain mencakup hubungan suami-istri, keadilan dalam konteks keseimbangan keluarga adalah hubungan antara orangtua dan anak. Seorang pemimpin keluarga harus mengarahkan keluarganya untuk berbuat kebaikan. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah swt, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS. 66:6).

Kepemimpinan Masyarakat: Keadilan, Kesederhanaan dan Toleransi

Tidak dipungkiri lagi bahwa Rasulullah berhasil membangun tatanan sosial yang bisa menjadi contoh yakni dalam pembentukan masyarakat madinah. Keberhasilan ini termasuk dipengaruhi oleh karakter kepemimpinan beliau yang adil, sederhana dan toleran.

Mengenai kesederhanaan nabi, penulis Washington Irving berpendapat ‘…Beliau makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula menuruti pikiran yang sempit. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan mereka. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semua itu bukan untuk kepentingan pribadinya.

Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan pernghormatan yang berlebihan..’.

Dalam hal kesederhanaan ini, Rasulullah mencontohkan kepada kita sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits, Dari Abi Umamah Iyas bin Tsa‘labah Al-Anshari RA, ia berkata, “Pada suatu hari beberapa orang sahabat Rasulullah SAW memperbincangkan hal-hal ke­duniaan. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman’.” (Riwayat Abu Dawud).

Terhadap pentingnya keadilan, Rasulullah berpesan “Abdullah bin ‘amru bin al ‘ash r.a berkata: rasulullah saw bersabda: sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hukum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka. (HR. Muslim)

Sedangkan dalam hal toleransi, kepemimpinan sosial yang ditunjukkan Rasulullah terutama tampak dalam penggunaan mekanisme musyawarah. Bahkan dalam hal-hal yang tidak bersifat ubudiyah, nabi mempersilahkan sahabat untuk tidak takut mengemukakan dan menggunakan pendapatnya, sebagaimana pernyataan beliau, ‘antum a’lamu fii umuri dunyakum’. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 17, 2013 by in Religius and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: