Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Relasi Gender dalam Islam

Akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 ditutup dan dibuka dengan banyak kasus pelecehan terhadap perempuan. Di India, sekelompok lelaki mabuk memperkosa seorang mahasiswi yang berada di dalam bus bersama kekasihnya. Usai melampiaskan nafsunya, mereka memukuli korban dengan tongkat besi dan melemparkan keduanya keluar bus. Perempuan korban mengalami luka yang sangat serius dan kondisinya mengenaskan. Ia akhirnya meninggal dalam proses perawatan di rumah sakit. Tidak berselang lama, kasus pemerkosaan di atas kendaraan terjadi kembali di negara bagian Punjab (11/1).

India merupakan negara dengan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak paling tinggi di dunia. Menurut catatan pemerintahnya, di New Delhi setiap 14 jam terjadi kasus pemerkosaan terhadap perempuan. Di sisi lain warga India masih banyak yang mempraktikkan pembunuhan bayi perempuan dan aborsi janin perempuan. Di negara bagian Haryana jumlah anak perempuan ada 830 dan laki-laki 1000. Rasio yang sangat timpang akibat kekerasan terhadap perempuan.

Pelacuran di India tergolong tinggi. Sedikitnya diperkirakan 3,5 juta perempuan memasuki dunia hitam ini akibat dijual maupun menyerahkan diri (di India, tingkat kemiskinan yang tinggi memaksa perempuan menjual dirinya).

Fenomena ini bukanlah milik India semata. Di China, ledakan jumlah penduduk dan sistem sosial yang timpang gender menciptakan fenomena kekerasan terhadap perempuan yang berbeda. Selain pelacuran (ilmuwan China Zhou Jinghao memperkirakan jumlah PSK di China sebanyak 20 juta), trafficking di China terjadi di dalam kasus yang disebut Guimai Funu. Guimai Funu adalah kasus dimana perempuan dari desa terpencil dijadikan pekerja di daerah pesisir kemudian dijual seharga beberapa ratus dolar. Mereka dikurung pada beberapa bulan pertama, melahirkan anak di tempat tersebut, dan akhirnya selamanya menetap di situ sebagai budak seksual.

Di negara ini, kelahiran anak perempuan sering masih dianggap aib. Pada tahun 1990-an, kemajuan teknologi dalam medis dengan penggunaan USG untuk memprediksi jenis kelamin bayi justru mempertinggi angka aborsi. Jika diketahui bayi yang dikandung adalah perempuan, maka sang suami memerintahkan untuk dilakukan aborsi.

Di negara kita Indonesia, kondisinya tidak jauh berbeda. Pada tahun 2011, menurut catatan Komnas Perempuan, terjadi 119.107 kasus yang diketahui. Jumlah ini meningkat dibanding tahun 2010 sebanyak 105.103 kasus. Ini diyakini sebagai “fenomena gunung es”, dikarenakan 96% kasus kekerasan terjadi secara domestik, artinya pelakunya adalah orang dekat korban sehingga korban takut untuk melapor.

Kasus terpopuler terkait pelecehan ini adalah kasus nikah siri singkat bupati Garut Aceng Fikri dan pernyataan calon hakim agung Daming mengenai hukuman terhadap pelaku pemerkosaan.

Statistik global menunjukkan bahwa dalam lima puluh tahun terakhir, lebih banyak perempuan yang mati daripada jumlah laki-laki yang mati akibat peperangan selama 1 abad terakhir. Bahkan peperangan juga berdampak serius terhadap kekerasan terhadap perempuan. Misalnya saja dalam Perang Bosnia, pemerkosaan pun digunakan sebagai senjata perang. Kala itu, pasukan Serbia menggunakan pemerkosaan sebagai kejahatan perang yang tersistematisasi. Mereka sengaja menargetkan perempuan dan anak perempuan dari etnis Bosnia. Tujuannya guna merusak fisik serta menimbulkan trauma.

Pendudukan Jepang atas bangsa Indonesia dulu juga menyisakan pil pahit bagi para perempuan Jugun Ianfu yang dijadikan budak pemuas nafsu birahi para tentara Jepang.

Kekerasan non-Fisik

Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya sebatas kekerasan fisik, pemerkosaan ataupun pemukulan, tapi juga kekerasan non-fisik seperti kekerasan psikologis. Kekerasan jenis ini diyakini terjadi sangat jauh lebih banyak daripada kekerasan fisik.

Kekerasan non-fisik misalnya sikap, tindakan, dan reaksi diskriminatif yang diberikan baik oleh laki-laki, masyarakat, organisasi (terutama bisnis) maupun negara terhadap perempuan. Dalam konteks ini, kekerasan non-fisik terjadi tidak hanya di negara terbelakang dan dunia ketiga, namun juga terjadi di negara maju. Kasus paling banyak adalah diskriminasi dalam hal pengupahan, pemenuhan hak-hak pekerja, dan pelecehan dari atasan.

Di banyak negara maju, seksualitas bisa menjadi barang dagangan yang legal. Para perempuan pekerja seksual lebih tampak melakukannya tanpa perbudakan dan pemaksaan fisik, namun lebih pada alasan finansial. Namun hal ini dipandang juga sebagai bentuk kekerasan struktural, dimana sistem sosial “memaksa” perempuan untuk menjual dirinya.

Kekerasan-kekerasan yang disebutkan di atas, terjadi lebih karena ketimpangan gender, alih-alih karena faktor biologis. Perempuan dijadikan korban lebih karena konstruk sosial yang dibangun di masyarakat memungkinkan hal itu terjadi. Parahnya, agama sering malah dianggap memperburuk ketimpangan gender ini. Padahal, agama secara ideal justru membawa nilai-nilai persamaan hak dan keadilan. Kalau memang begitu, berarti terjadi kesenjangan antara nilai ideal agama (das sein), dengan pelaksanaan ajaran itu pada tataran praktis (das solen). []

GENDER DALAM PENDISKREDITAN BUDAYA

Faktor lain yang mempengaruhi ketimpangan gender dan perlakuan diskriminatif terhadap lawan jenis adalah doktrin budaya yang disalahpahami yang telah menjadi tradisi di masyarakat setempat, meski saat ini doktrin tradisi ini banyak yang melemah.

Misalnya pada bangsa Jepang. Sebelum perang dunia ke-II sistem keluarga di Jepang didasarkan pada ie. Ie adalah sistem keluarga tradisional dimana satu keluarga dipimpin oleh seorang lelaki yang disebut kachoo. Kepala keluarga mempunyai kekuasaan penuh atas anggota keluarganya, termasuk menentukan perkawinan. Perempuan Jepang dulu dianggap tidak punya kuasa menentukan pasangan, dan dianggap memalukan jika belum menikah pada usia 20-24 tahun.

Bagi masyarakat Arab, dulu perempuan tidak memiliki hak untuk menuntut pendidikan. Mereka tidak diperbolehkan menuntut ilmu dan bekerja di luar rumah. Meski modernisasi telah melemahkan pandangan ini, namun pada beberapa komunitas konservatif pandangan ini masih kuat berakar.

Tradisi penduduk Mandja dan Banda di Afrika menempatkan perempuan yang mengalami menstruasi di sebuah gubuk gelap. Ia dilarang keluar dan berbicara dengan orang lain, dilarang kena sinar matahari, dan makan makanan yang kasar. Bagi tradisi itu, mestruasi dianggap sebagai kehadiran monster. (bahkan kata menstruasi berkaitan dengan kata monster).

Di Eropa Tenggara, tradisi mengorbankan istri para tukang dulu biasa dilakukan. Istri para tukang pembangun rumah dikorbankan agar bangunan bisa diselesaikan (Jembatan Arta di Yunani, Monastery of Argesh di Romania, dan Scutari di Yugoslavia).

Dalam budaya Jawa, perempuan juga didiskreditkan. Pada Serat Centhini dijelaskan ajaran Nyai Artati kepada anaknya, Niken Rancangkapti. Perempuan, jika menikah, wajib berpegang pada simbol lima jari. Jari jempol: harus pol pengabdian kepada suami. Jari tengah: mesti mengunggulkan suami dalam kondisi apa pun. Jari telunjuk bermakna wajib patuh kepada apa yang ditunjukkan oleh suaminya. Jari kelingking: harus pandai mengutak-atik pemberian nafkah suami. Jari manis: mesti selalu bersikap manis kepada suaminya. []

ISLAM DAN RELASI GENDER

Relasi gender adalah relasi sosial antara pria dan wanita. Relasi gender berbeda dengan relasi biologis antar jenis kelamin, dikarenakan relasi gender lebih dikonstruksi secara sosial. Secara sederhana bisa dikatakan relasi gender adalah bagaimana sebuah masyarakat memahami posisi laki-laki dan perempuan, baik dalam kehidupan rumah tangga, pekerjaan, maupun negara.

Secara antropologis, pergeseran status perempuan dan laki-laki memang terjadi erat kaitannya dengan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan—selain perubahan paradigma ekonomi. Misalnya saja penafsiran umum terhadap teks kitab suci pada Yahudi dan Nasrani yang menganggap perempuan sebagai “pembawa bencana” pada kisah kejatuhan Adam dari Surga akibat bujukan “Eve (Hawa)”, pemaknaan yang keliru terhadap term “perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok”, atau pandangan partiarki Hindu-Budha yang lebih cenderung pada dewa (laki-laki) daripada dewi (perempuan).

Budaya patriarki pada bangsa Semit turut mendukung kuatnya penafsiran patriarkial terhadap teks-teks suci tersebut. Kita ketahui bersama bagaimana tradisi “mengubur hidup-hidup anak perempuan karena dianggap aib” terjadi sebelum Islam tumbuh di Mekkah. Meski Nabi Muhammad saw telah berhasil mendakwahkan keadilan sebagai salah satu prinsip Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, namun sampai saat ini penafsiral partriarkial lebih dominan dianut oleh kaum muslim. Hal ini dikarenakan ternyata dalam banyak tradisi lokal, budaya partriarkial memang cenderung muncul.

Misalnya saja, beberapa ayat yang ditafsirkan kalangan feminis bahwa Islam adalah agama Misogini (benci terhadap perempuan) diantaranya: “Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang makruf, tetapi para suami mempunyai satu derajat (tingkatan) atas mereka (para istri)” (QS. Al- Baqarah: 228). Ayat ini dianggap memberikan kemuliaan satu tingkat lebih tinggi kepada laki-laki daripada perempuan.

Ayat lain misalnya dalam QS. An-Nisa’:1 yang menyatakan perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Sementara kalangan mufasir saja masih berbeda pendapat, siapa sebenarnya yang dimaksud “diri yang satu” (nafs wahidah), siapa yang ditunjuk pada kata ganti (dhamir) “dirinya” (minha), dan apa yang dimaksud dengan “pasangan” (zaujaha) dalam ayat tersebut. Misalnya, Fakhruddin ar-Razy dalam Tafsir al-kabir, ia mengutip pendapat Abu Muslim al-Asfahani yang mengatakan dhamir “ha” pada kata “minha” bukan “dari bagian (tulang rusuk) adam,” melainkan “dari jenis Adam” (minjinsiha).

Ajaran Islam lainnya yang menjadi perdebatan adalah soal warisan (QS. An-Nisa/4: 11) dimana perempuan mendapat bagian separuh dari laki-laki. Para mufasir dan feminis muslim sepakat bahwa formula kewarisan 2:1 (bagian anak laki-laki dua bagian anak perempuan) tidaklah bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Formula ini berdasarkan asas keadilan berimbang antara hak dan kewajiban. Di sinilah letak kesetaraan dan keadilan, keadilan tidak berarti semua harus persis sama dalam aspek hukum, karena faktor-faktor perbedaan fungsi, status sosial-ekonomi, hak dan kewajiban menjadi pertimbangan lain.

Sebagai agama Rahmatan Lil ‘Alamin, tentu Islam mendudukkan posisi dan status laki-laki perempuan secara setara dan berimbang. Hal ini bukan berarti keduanya harus disama-ratakan dalam semua urusan. Hanya saja Islam memerintahkan agar “kebaikan dan keadilan” menjadi prinsip utamanya. Bukan pada soal “siapa menjadi apa”, tapi “bagaimana memperlakukan siapa”.

Lebih banyak ayat dan hadits yang mengungkapkan persamaan derajat. Misalnya dalam QS. Al-Hujurat:13 difirmankan: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” Jelas sekali dalam hal ini, penentuan status mulia tidaknya seseorang di sisi Allah bukan pada jenis kelaminnya, melainkan pada ketakwaannya.

Dalam konteks teologis-ubudiyah, perempuan dan laki-laki memiliki kewajiban yang sama. QS. At-Taubah:71 menerangkan: ”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.

Bahkan dalam konteks-konteks tertentu, Nabi Muhammad saw memberikan penghormatan yang lebih tinggi kepada perempuan. Sebuah hadits populer mengenai hal ini menceritakan tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Nabi, “Siapakah yang harus lebih aku hormati diantara kedua orangtuaku?, Nabi pun menjawab: “Ibumu”. Lalu siapa lagi, tanya sahabat itu. “Ibumu”, jawab nabi. Lalu siapa? Sahabat tersebut bertanya lagi, “Ibumu”, jawab nabi lagi. Lalu siapa lagi? “Ayahmu,” jawab nabi”.

Prinsipnya, dalam Islam laki-laki dan perempuan sama-sama menerima balasan setimpal di akhirat yang didasarkan pada amal perbuatannya, bukan pada perbedaan jenis kelaminnya. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (An-Nisa’:124). Dan perilaku kekerasan, pelecehan, maupun diskriminasi gender harus dihentikan karena tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai luhur agama. Baik oleh laki-laki kepada perempuan maupun sebaliknya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 17, 2013 by in Humanis, Religius and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: