Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Menjiwai Islam sebagai Agama Hijau

Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Kalimat ini bisa dimaknai sebagai visi teleologis yang belum tercapai. Belum menjadi kenyataan namun masih menjadi harapan. Harapan bahwa pemeluk agama Islam menjadikan ajaran-ajaran agamanya sebagai inspirasi dalam menjaga diri, alam, dan lingkungannya. Tentu dibutuhkan lebih dari sekedar pemahaman, karena yang lebih penting adalah aksi nyata. Aksi nyata penyelamatan lingkungan yang dijiwai semangat Islam sebagai agama hijau.

Krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini meningkatkan kesadaran manusia akan pentingnya usaha konservasi alam dan hidup yang lebih seimbang. Gerakan-gerakan penyelamatan lingkungan muncul di mana-mana sebagai respon atas perilaku merusak yang terjadi akibat pola hidup kita yang konsumtif. Manusia-manusia sadar lingkungan tersebut melakukan berbagai kampanye dan aksi nyata untuk penyelamatan bumi.

Gerakan-gerakan yang bermunculan tersebut pada umumnya dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak bernuansa agama. Ini menjadi tanda tanya sebab justru agama memerintahkan umatnya untuk menjadi penjaga alam ini namun gerakan penyelamatan lingkungan yang dijiwai oleh semangat agama belum menunjukkan taringnya.

Salah satu sebabnya mungkin adalah minimnya pemahaman pentingnya gerakan konservasi alam dalam hubungannya dengan perintah agama. Pemahaman perlunya fikih lingkungan, teologi konservasi, dan tafsir yang kekinian mengenai fungsi agama dalam menanamkan perilaku sadar lingkungan perlu dilakukan kepada umat beragama.

Sebagai pemeluk agama Islam, kita meyakini bahwa agama ini adalah rahmatan lil ‘alamin. Artinya pemeluk agama ini harus bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini bermakna bahwa apa saja aktifitas yang kita lakukan mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi harus benar-benar bersih dari efek-efek negatif terhadap lingkungan kita. Baik lingkungan alam maupun sosial.

Daniel Goleman dalam bukunya Ecological Intelligence menulis setidaknya ada tiga efek yang perlu kita perhatikan dalam konteks kita sebagai konsumen, yakni geosfer (tanah, udara, air, iklim), biosfer (tubuh kita, makhluk hidup lain), dan sosiosfer (kepedulian manusia kepada manusia lain, misalnya: pekerja/buruh).
Setiap aktifitas yang kita lakukan perlu kita renungkan kembali. Apakah aktifitas tersebut memiliki dampak baik atau justru dampak buruk kepada ketiga hal diatas. Jika ada dampak buruk yang terjadi, maka kita perlu segera menghentikan perilaku kita itu atau mencari alternatif yang lebih baik.

Islam Agama Hijau

Sebagai agama paripurna, Islam tidak melulu hanya mengatur urusan ibadah (hubungan manusia dengan Tuhan) namun juga hubungan manusia dengan manusia lain atau dengan alam sekitarnya. Kita tentu sudah mengetahui ada banyak sekali ayat-ayat suci al-Qur’an maupun hadits nabi yang memerintahkan kita menjaga alam ini dan melarang kita berbuat kerusakan.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Al-A’raf [7]: 56).

Mengenai ayat ini, Thahir bin ‘Asyur dalam tafsir beliau yang monumental, At-Tahrir wa At-Tanwir menyatakan bahwa melakukan kerusakan pada satu bagian dari lingkungan hidup semakna dengan merusak lingkungan hidup secara keseluruhan[3]. Dalam ayat lain, dijelaskan bahwa melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup merupakan sifat orang-orang munafik dan pelaku kejahatan, Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.(QS. Al-Baqarah [2]: 205)

Banyaknya ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang memerintahkan kita berbuat baik kepada alam menjadikan agama Islam sebagai agama yang paling banyak memasukkan aturan lingkungan dalam kitab sucinya. Inilah mengapa para pengkaji lingkungan terutama dari kalangan muslim menyebut agama Islam sebagai agama “hijau”, yakni agama yang sangat ramah lingkungan.

Hal ini tidaklah berlebihan, mengingat bahwa pesan-pesan ekologis Islam tidak hanya berada pada tataran filosofis semata, namun menyentuh pada aspek-aspek praksis. Tidak hanya pada perintah dan larangan, namun sampai pada pedoman.

Sebagai pemeluk agama Islam kita perlu lebih mendalami pesan-pesan ekologis agama kita ini. Menjiwai perintah untuk hidup lebih seimbang dan ramah lingkungan, dan membuktikan bahwa agama hijau tidaklah sebuah wacana yang utopis semata.

Enam Prinsip Agama Hijau

Farraz Khan, ahli persoalan Islam dan lingkungan menekankan enam prinsip yang harus diyakini dan dijalankan oleh muslim untuk mewujudkan Islam sebagai Agama Hijau, yakni: Tauhid, Ayat, Khalifah, Amanah, Adil, dan Mizan. Penjelasan dari keenam prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Kesatuan Allah dan Ciptaannya (Tauhid)

Kita perlu memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT. Kita berasal dari Allah dan begitu pula alam semesta ini beserta seluruh isinya. Semuanya berasal dari sumber yang sama.

Mulai dari benda paling kecil yang bisa kita lihat dengan menggunakan bantuan alat pembesar, akan tampak bahwa struktur atom terdiri atas elektron, proton, neutron, dan quark yang terus menerus berputar mengelilingi pusatnya.

Begitu juga ketika kita melihat nun jauh di sana. Ada tata surya-tata surya yang saling berputar mengitari pusatnya, sama dengan galaksi yang berputar mengitari pusatnya dan quasar-quasar (gugusan galaksi) yang semuanya juga berputar mengitari pusatnya. Pada akhirnya semua yang ada di alam ini “berputar” pada pusat yang sama.

Memahami bahwa alam semesta diciptakan dari sumber yang sama menjadikan kita lebih bijak memperlakukan makhluk lain, karena semua makhluk baik yang hidup maupun tidak hidup adalah manifestasi Tuhan di bumi ini.

Melihat Tanda Kekuasaan Allah di Mana Saja (Ayat)

Hidup mengikuti prinsip agama hijau berarti melihat segala sesuatu yang ada dalam alam ini sebagai tanda kekuasaan (ayat) Allah SWT. Memperlakukan alam dengan buruk berarti mengingkari tanda kekuasaan Sang Pencipta, bahkan lebih jauh lagi bisa dimaknai sebagai perilaku yang menantang Sang Pencipta.

Dalam al-Qur’an banyak kita temukan bahwa tanda-tanda (ayat) kekuasaan itu tidak bisa ditemukan kecuali bagi “mereka yang mau berpikir”. Agama Islam sebagai “agama hijau” menegaskan bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita harus selalu berpikir tentang apa yang ada di sekitar kita, mana yang bisa kita ambil hikmah dan meneguhkan keimanan kepada Sang Pencipta, bukan malah merusaknya.

Menjadi Penjaga di Bumi (Khalifah)

Manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk Allah yang paling mulia. Keunggulan manusia ada pada akal budinya, lebih dalam lagi bisa dikatakan eksistensi kemanusiaan itu muncul ketika manusia menggunakan akal budinya. Ketika akal budi itu tidak digunakan dan kalah melawan hawa nafsu, maka seketika seseorang tidak bisa disebut sebagai khalifatullah. Ia tidak lebih daripada binatang, bahkan mungkin lebih buruk dari itu.

Sebagai wakil Allah (khalifah) tentu manusia harus memahami sifat-sifat Allah sebagai pemelihara, pencipta, pengatur keseimbangan alam ini. Tentulah bukan perilaku yang baik jika kita tidak melakukan perbuatan yang mencerminkan sidat-sifat Tuhan ini.

Menjaga Kepercayaan Allah (Amanah)

Menjadi khalifah tentu manusia membawa amanat dari Allah. Amanat untuk bisa mengelola alam semesta ini dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkannya dengan cara yang baik dan dengan tujuan yang baik pula.

Berjuang Menegakkan Keadilan (Adil)

Ketika kita mendeklarasikan meyakini Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, konsekuensi logis yang mengikutinya adalah kita harus siap menjadi pelindungnya. Kejahatan adalah keniscayaan di dunia ini. Perusakan alam adalah peristiwa yang pasti terjadi. Ketika kita meyakini bahwa manusia muslim adalah khalifatullah maka kita harus siap menegakkan keadilan, baik terhadap kehidupan sosial maupun lingkungan.

Perilaku menegakkan keadilan ini tentu harus dimulai dari diri kita sendiri. Sebelum kita memperjuangkan keadilan bagi lingkungan, menjaganya dari perilaku buruk orang lain kita harus merenung dan melihat pada diri sendiri, apakah ada perilaku kita yang merusak alam.

Menjalani Kehidupan yang Seimbang dengan Alam (Mizan)

Allah menciptakan alam ini dengan seimbang. Semuanya berjalan dalam sunatullah. Ketika keseimbangan ini terusik, akan ada konsekuensi logis yang menyertainya. Banjir datang karena banyaknya penebangan liar, hilangnya daerah resapan, dan pendangkalan sungai. Pemanasan global terjadi akibat emisi karbon dan deforestasi. Menjalani ajaran ‘agama hijau’ berarti juga menjalani kehidupan dengan seimbang.

Teks Suci Perintah Menjaga Keseimbangan Alam

Islam sebagai agama yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan manusia dengan sesama makhluk (termasuk lingkungan hidupnya) sebenarnya telah memiliki landasan normatif baik secara implisit maupun ekplisit tentang pengelolaan lingkungan ini.

A. Pelestarian Lingkungan Dalam Al-Qur’an
Melestarikan Lingkungan Hidup Merupakan Manifestasi Keimanan
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya, yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.(QS. 7: 85)

Merusak Lingkungan Adalah Sifat Orang Munafik dan Pelaku Kejahatan
“ Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk Mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”.(QS. 2: 205)

Alam semesta merupakan anugerah Allah untuk manusia
Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (QS. 31: 20)

Manusia adalah khalifah untuk menjaga kemakmuran lingkungan hidup
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 6: 165)

Kerusakan yang terjadi di muka bumi oleh karena ulah tangan manusia
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. As-Syuura [42]: 30)

B. Pelestarian Lingkungan Dalam Hadis-Hadis Nabawi
Selaras dengan ayat-ayat di atas, Rasulullah saw melalui hadis-hadis beliau juga telah menanamkan nilai-nilai implementatif pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup ini, antara lain:

Penetapan Daerah Konservasi
Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan Naqi’ sebagai daerah konservasi, begitu pula Umar menetapkan Saraf dan Rabazah sebagai daerah konservasi”.

Anjuran Menanam Pohon dan Tanaman
Rasulullah saw bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam sebuah pohon atau sebuat tanaman, kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan ia akan mendapat pahala sedekah”.

Larangan Melakukan Pencemaran
Rasulullah saw bersabda: “Takutilah tiga perkara yang menimbulkan laknat; buang air besar di saluran air (sumber air), di tengah jalan dan di tempat teduh

Berlaku Ihsan Terhadap Binatang
Abu Huruairah ra. meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Ketika seorang laki-laki sedang dalam perjalanan, ia kehausan. Ia masuk ke dalam sebuah sumur itu, lalu minum di sana. Kemudian ia keluar. Tiba-tiba ia mendapati seekor anjingdi luar sumur yang sedang menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat tanah lembab karena kehausan. Orang itu berkata, ‘Anjing ini telah merasakan apa yang baru saja saya rasakan.’ Kemudian ia kembali turun ke sumur dan memenuhi sepatunya dengan air lalu membawanya naik dengan menggigit sepatu itu. Sesampainya di atas ia minumi anjing tersebut. Karena perbuatannya tadi Allah berterimakasih kepadanya dan mengampuni dosanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kalau kami mengasihi binatang kami mendapatkan pahala?” Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada setiap makhluk pasti mendapatkan pahala.”

Tentunya, masih banyak ayat dan hadis seumpama di atas yang kesemuanya memuat pesan akan pentingnya kesadaran untuk menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.[]]

2 comments on “Menjiwai Islam sebagai Agama Hijau

  1. Aufaqul Wafa
    November 20, 2013

    Reblogged this on Aufaqul History.

  2. khusnunnisa
    November 21, 2013

    Reblogged this on nisaam2k and commented:
    good

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 17, 2013 by in Humanis, Intelektual, Religius and tagged , , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: