Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Menguatkan Budaya Literasi

Dengan jumlah penduduk 241 juta jiwa (sensus 2011) produktifitas masyarakat Indonesia dalam bidang penulisan terbilang sangat rendah. Jumlah buku yang diterbitkan tidak sampai 18 ribu judul per tahun. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jepang yang mencapain 40 ribu judul per tahun, India 60 ribu judul per tahun, dan China 140 ribu judul per tahun (Kompas, 25/6/2012).

Prestasi Indonesia hampir sama dengan Vietnam dan Malaysia. Namun bila kita melihat dengan perspektif rasio penerbitan dengan jumlah penduduk, maka rata-rata Indonesia masih kalah produktif dengan negara tetangga yang kerap mengusik kita itu.

Dari bidang penerbitan tulisan ilmiah, produktifitas negara kita juga masih rendah. Berdasarkan data Scimagojr, Journal, and Country Rank 2011, Indonesia berada di ranking 65 dengan jumlah 12.871 publikasi. Posisi Indonesia di bawah Kenya dengan 12.884 publikasi. Negara Paman Sam ada di peringkat pertama, dengan 5.285.514 publikasi. Indonesia masih kalah dengan Singapura yang ada di posisi 32 dengan 108.522 publikasi (okezone.com, 21/2/2012). Jika dilihat dengan perspektif rasio publikasi penelitian dengan jumlah penduduk, prosentasenya menjadi jauh lebih kecil lagi.

Menurut saya, kondisi ini ironis meski inilah kenyataan yang telah terjadi bertahun-tahun. Bagaimana sebuah bangsa yang dikenal memiliki kekayaan budaya literasi yang kaya menjadi sedemikian miskin produknya di era modern ini. Total manuskrip kuno peninggalan zaman kerajaan di Indonesia yang tersimpan dalam koleksi Perpustakaan Nasional mencapai 10 ribu eksemplar. Ada yang berupa Babad (sejarah keraton/tokohnya), Serat (ajaran/kisah-kisah), Suluk (konsep teologis & moral) atau Hikayat (kisah-kisah).

Diperlukan “keseriusan budaya” untuk menghasilkan buku-buku penerus Kitab Negarakertagama, Kitab Suluk Seloka, Babad Tanah Jawi, Serat Rama, Suluk Ratna, Hikayat Bayan Budiman dan sebagainya. Atau produk berupa gambar (lukisan, relief) yang terukir pada dinding-dinding candi, motif batik, atau ukiran rumah.

Keseriusan budaya ini sulit tercapai kiranya jika tidak dilakukan secara sistematik. Proses itu menurut hemat saya paling memungkinkan dilakukan melalui jalur pendidikan. Namun ini juga bukan pilihan mudah, mengingat pendidikan kita mengalami problem akut menyangkut tradisi literasinya.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2012 by in Intelektual and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: