Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Bukan Hanya Tentang Buku, Ini Tentang Hidup

Banyak kritik dialamatkan kepada dunia pendidikan nasional terkait ketidakmampuan pendidikan kita dalam mencapai tujuan mulianya. Kita semua terbiasa mendengar aneka kritik ini setiap tahun, mulai saat proses penerimaan siswa baru sampai ujian nasional. Tapi saya benar-benar menemukan sendiri bagaimana rapuhnya pendidikan kita ketika saya secara langsung berhadapan dengan peserta didik dalam kelas. Pendidikan kita rapuh bukan soal sistemnya, namun pada gabungan kerapuhan tiga elemen sosial dalam sistem tersebut.

Bisa dikatakan saya bukanlah “guru”. Saya hanya mengajar materi “tambahan”. Ini terjadi ketika pada awal tahun pelajaran 2012 ini saya dimintai tolong petugas bidang Kurikulum di sebuah sekolah RSBI untuk mengisi materi pelajaran “life skill”. Kepada beliau saya mengusulkan materi “penulisan buku” yang akhirnya disetujui untuk diajarkan kepada siswa dalam jangka waktu 6 bulan. Saya memberi nama pelajaran ini dengan “menerbitkan buku” (self publishing), bukan sekedar menulis buku semata, namun sampai pada proses distribusi juga agar siswa memahami dunia perbukuan.

Tanpa bekal yang memadai saya masuk ke kelas dan menjelaskan tujuan dari pelajaran ini. Saya katakan kepada mereka bahwa dalam pelajaran saya ini tidak ada ujian, tidak ada tes, tidak ada ulangan. Satu-satunya penilaian adalah karya. Satu siswa wajib membuat minimal satu buku. Buku apa saja, tidak ada batasan. Boleh buku pelajaran, novel, komik, keterampilan, bahkan buku humor.  Selama 2 minggu pertama saya berpikir keras bagaimana membuat pola dan penjelasan yang memudahkan mereka merealisasikan proyek ini. Hasilnya, 2 minggu kemudian saya menyelesaikan penulisan dan penerbitan buku panduan untuk mereka yang saya beri judul “Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!”.

Banyak hal menarik yang saya dapatkan dari proses pendampingan ini. Sebagian menggembirakan dan sebagian lagi memprihatinkan. Saya akan menguraikan hal-hal yang menggembirakan terlebih dahulu.

Hal menggembirakan yang saya temukan, pertama adalah bahwa tidak seperti yang dikeluhkan sebagian besar pendidik tentang rendahnya kemampuan siswa, justru saya menemukan peserta didik kita itu sangat potensial. Mereka memiliki kemampuan unik masing-masing. Hal ini tercermin dari beragamnya topik buku yang mereka pilih. Ada yang membuat buku ekspresi imajinasi (novel, cerpen, puisi, komik, dll), namun tidak jarang mereka memilih topik unik karena memiliki bakat spesial dalam topik itu. Misalnya saja ada yang membuat buku keterampilan (bermain musik, menari, membuat ramuan, membuat makanan, mengoperasikan program komputer), atau buku pemikiran (kumpulan artikel, kata bijak).

Kedua, menurut saya mereka senang menulis. Selama ini kurangnya produktifitas karya tulis di lembaga pendidikan lebih banyak dikarenakan “ketidakjelasan” bagaimana merealisasikan tulisan, bukan pada motivasi menulis itu sendiri. Saya yakin, jika kita menyediakan infrastruktur (alat, ruang, referensi) dan suprastruktur (panduan, sistem, dukungan) maka akan tercipta budaya literasi yang tinggi di lembaga pendidikan kita.

Ketiga, siswa lebih menguasai materi yang mereka pelajari jika materi itu mereka jadikan sebuah karya. Inilah yang dilakukan di banyak negara maju dimana pendidikan dilakukan berorientasi para praktik. Praktik yang dimaksud bukan sekedar sebuah simulasi materi dalam ruang laboratorium, namun “kreasi dan implementasi” materi itu dalam ruang sosial yang nyata.

Ironisnya, ketiga hal di atas justru terpendam dikarenakan tiga elemen sosial dalam sistem pendidikan kita. Tiga elemen tersebut adalah: orangtua, guru, dan teman sebaya.

Sebagian besar siswa yang saya bimbing merupakan anak-anak yang potensial dengan bakat unik dan imajinasi kreatif. Sayangnya bakat dan imajinasi itu begitu terkungkung oleh pola pengasuhan yang tidak memberdayakan. Pada umumnya orangtua gagal melihat potensi anak mereka dan malah memaksakan kehendak, pikiran, serta penilaian orangtua itu agar diterima oleh anak mereka. Kenyataan ini tercermin dari fakta bahwa sebagian besar siswa takut menyampaikan ide-idenya. Mereka khawatir olah-pikir itu akan dinilai negatif (dianggap jelek, salah, tidak bermutu, dsb) sebagaimana yang biasanya mereka alami. Orangtua kita lemah dalam memberikan penghargaan, bahkan kepada anak mereka sendiri.

Siswa yang seperti ini mengalami disorientasi diri. Mereka tidak kenal diri serta tidak tahu diri. Ketika ditanya “apa hobi kamu?” atau “apa bidang yang kamu sukai?” mereka cenderung defensif dengan mengatakan “aku tidak tahu”. Ini terjadi karena mereka tidak terbiasa dihargai, yang akhirnya membuat alam bawah sadar mereka berusaha mengendalikan ekspresi, menyesuaikan ekspresi itu dengan ekspektasi orang dewasa di sekelilingnya.

Mereka menjawab tidak tahu bukan karena mereka benar-benar tidak tahu. Mereka tahu hanya saja mereka kurang yakin akan dirinya. Terbukti ketika dilakukan proses pendampingan dengan merunut secara sistematis proses berpikirnya, pada akhirnya setiap siswa menemukan minimal satu topik yang sangat cocok dengan diri mereka seutuhnya, baik itu dikarenakan bakat maupun minat.

Elemen kedua adalah guru. Apa yang saya rasakan pada diri siswa adalah mereka membutuhkan guru yang mencerahkan, bukan sekedar guru yang menilai. Pada umumnya guru memberikan materi pelajaran yang suka atau tidak suka, mau atau tidak mau harus diterima siswa. Ini tidak masalah karena dalam beberapa aspek pendidikan itu sendiri adalah sebuah proses pemaksaan. Yang jadi masalah adalah pelajaran itu disampaikan untuk dinilai. Parahnya penilaian pendidikan kita sangat kuantitatif dan luput memperhatikan persoalan kualitatif (emosi, kerja keras, independensi, dll). Ketika hasil penilaian disampaikan yang penting bagi guru pada umumnya adalah nilai/angka, bukan siswa itu sendiri sebagai seorang manusia.

Siswa kita butuh guru yang bisa melihat sisi positif mereka, berfokus pada apa yang bisa mereka lakukan dan bukan pada apa yang tidak bisa mereka perbuat. Pemaknaan guru terhadap tujuan kurikulum adalah “semua siswa bisa melakukan semua hal”. Ini tidak mungkin dan tidak masuk akal. Siswa butuh dilihat sebagai seorang manusia, memiliki kekurangan yang tidak untuk dibandingkan dan memiliki kelebihan yang tidak untuk didiamkan.

Elemen ketiga adalah teman sebaya. Pengaruh teman sebaya pada diri siswa sangat besar. Sedemikian besar bahkan pada siswa-siswi dengan situasi rumah tangga yang kurang kondusif, teman bisa lebih berpengaruh daripada orangtua. Sayangnya kehidupan sosial remaja sekarang terlampau kompetitif-destruktif. Mereka saling bersaing tapi kurang terarah, bukan persaingan untuk mencapai prestasi namun persaingan gaya hidup. Pamer kendaraan, gadget, bahkan pamer pacar.

Teman sebaya juga cenderung melemahkan motivasi berkarya. Jarang ada siswa yang mengajak temannya untuk menyelesaikan proyek karya. Pada umumnya mereka saling mengajak untuk bersenang-senang saja. Saya yakin ini bukan sepenuhnya kualitas mereka, ini lebih pada konstruksi sosial yang berubah karena perubahan gaya hidup global.

Dalam proses penulisan buku, banyak siswa yang saya lihat tengah berjibaku menemukan jati diri mereka. Tidak sekedar mengerjakan soal untuk mendapatkan angka-angka di rapor, mereka tengah berusaha menemukan sebagian diri mereka yang hilang dan sebagian diri mereka yang masih tercecer.

Siswa yang suka balap motor dengan antusias menulis buku tentang dunia balap motor, siswa yang suka memelihara ular menulis buku tentang cara memelihara ular, siswa yang hobi bermain drum menulis buku teknik permainan drum, siswa yang suka berpuisi tengah menyelesaikan buku kumpulan puisi, dan siswa yang memiliki fantasi tinggi menyelesaikan buku novel mereka.

Kepada mereka saya bilang: ini bukan tentang buku, ini tentang kalian. Tentang kehidupan kalian. Serius dalam menyelesaikan buku ini menunjukkan serius pula kalian menjalani hidup. Bagi kalian yang terlampau sering dianggap tidak mampu buatlah buku ini pembuktian bahwa kalian bisa. Dan bagi kalian yang terlampau sering tidak dihargai, keluarkan saja ekspresi dalam pikiranmu itu. Ini bukan sekedar membuat buku, ini tentang hidup.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 16, 2012 by in Humanis, Intelektual and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: