Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Sekolah Muhammadiyah dalam Jebakan Branding

Kebutuhan akan citra merek (brand image) yang baik semakin meluas. Meski pada awalnya digunakan pada industri produk, namun lembaga jasa kini juga merasa perlu memiliki merek yang mendiferensiasi lembaganya dengan yang lain. Tiba-tiba semua orang keranjingan untuk memiliki brand, tanpa memedulikan bagaimana konsep citra merek itu harusnya bersifat koheren dan integral. Tidak ketinggalan lembaga pendidikan sebagai penyedia layanan pendidikan, termasuk lembaga pendidikan Muhammadiyah, berlomba-lomba membuat citra merek masing-masing.

 Tidak ada yang salah seandainya sekolah-sekolah Muhammadiyah memiliki pemahaman yang utuh tentang bagaimana seharusnya brand itu diimplementasikan. Persoalannya pemahaman akan brand lebih bersifat reduksif. Brand lebih banyak diasosiasikan hanya sebatas “logo”, “nama”, dan penyederhanaan tentang diferensiasi hanya sebatas “satu keunggulan”—yang bahkan secara faktual bukan sebuah diferensiasi karena banyak sekolah yang memiliki keunggulan sejenis.

Jadilah sekolah-sekolah Muhammadiyah berlomba menciptakan logo tambahan selain logo pendidikan Muhammadiyah yang sudah dipakainya berpuluh-puluh tahun. Ironisnya dalam mendesain logo ini sekolah enggan mengeluarkan resource tambahan, jadinya logo dibuat seadanya oleh staf internal yang belum memiliki pemahaman mengenai logo, tanpa diawali riset baik secara konseptual maupun perbandingannya dengan logo yang lain. Ini fakta, banyak sekolah Muhammadiyah yang memodifikasi logo sekolah lain.

Sekolah-sekolah Muhammadiyah juga ramai-ramai mendefinisikan konsep pendidikan yang ditawarkan dengan istilah-istilah yang “keren”. Sekolah inovatif, sekolah progresif, pendidikan realistik, pendidikan profetik, sekolah kreatif, dan sebagainya. Tidak masalah memang jika konsep yang ditawarkan pada publik itu benar-benar memiliki landasan teoritis dan benar-benar direalisasikan dalam desain pembelajaran atau proses layanan pendidikan yang dijalankan sehari-hari. Namun kenyataannya jargon yang ditawarkan “jauh panggang dari api”. Bukan hanya tidak termanifes dalam desain pembelajaran, penamaan itu sendiri banyak yang tidak memiliki dasar teoritis dalam studi ilmu pendidikan.

Brand juga diasosikan hanya sebatas diferensiasi dalam satu keunggulan semata. Seolah-olah proses branding selesai hanya dengan penetapan janji keunggulan itu saja. Misalnya saja sekolah yang mendiferensiasikan diri dengan pembelajaran berbasis teknologi hanya karena latah teknologi sedang menjadi tren. Padahal dalam proses pembelajaran sehari-hari penerapan teknologi mutakhir dalam layanan pendidikan di sekolah itu sama sekali tidak ditemukan, pembelajarannya masih konvensional, bahkan ironisnya infrastruktur pendukungnya tidak memadai dan instruktur (tenaga pendidik) belum menguasai sepenuhnya pemanfaatan teknologi pembelajaran.

Kekeliruan umum di atas hanyalah tiga diantara banyak jebakan branding. Bukan berarti menerapkan citra merek itu merugikan, bukan. Hanya saja proses itu tidak bisa dilakukan seadanya atau hanya sebatas membangun citra eksternal semata. Branding harusnya dilakukan koheren dan integral. Membangun merek dimulai dari dalam, dari visi panjang lembaga pendidikan Muhammadiyah dan dilakukan sepenuhnya dengan pendekatan sistem untuk memenuhi kesesuaian citra yang ditampilkan dengan entitas merek sesungguhnya. Kesalahan dalam penerapan citra merek semacam ini beresiko besar menimbulkan kejatuhan citra, karena merek yang dibangun instan dan tanpa pondasi sangat labil dan mudah runtuh karena tidak ada keterlibatan yang intensif dari individu pelakunya.

 Kekeliruan ini juga terjadi karena persepsi yang salah mengenai keinginan pelanggan. Sekolah Muhammadiyah menganggap remeh reputasi Brand Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern, kemudian mencari citra lain yang lebih artifisial. Argumentasi yang sering diketengahkan adalah faktor sentimen golongan, namun kenyataannya sekolah tetap tidak bisa menyembunyikan identitas kemuhammadiyahan. Karena nama Muhammadiyah memiliki citra merek yang jelas, reputasi inilah yang seharusnya dikembangkan sekolah Muhammadiyah di mana saja, yakni menjadi lembaga pendidikan yang modern (dalam arti metode pengajaran, infrastruktur, isi serta proses pendidikannya) namun tidak meninggalkan pengajaran keagamaan, budi pekerti, karakter, dan moral. Tidak ada segmen pasar yang tidak tercakup dalam karakteristik ini.

 Sungguh malu ada sekolah yang malu dengan kemuhammadiyahannya. Menganggap citra merek Muhammadiyah tidak menjual dan kemudian mencari citra merek lain yang dianggapnya lebih berorientasi pasar. Jika ingin mengembangkan branding, sekolah Muhammadiyah harus terlebih dahulu menyadari entitas yang diwakili brand itu, yakni visi pendidikan Muhammadiyah. Kemudian merumuskan konseptualisasi yang holistik, tidak sebatas citra merek semata namun masuk hingga proses manajemen. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 5, 2012 by in Intelektual, Persyarikatan and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: