Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Teori Busana dan Pandangan Islam

Konser “Mother Moster” Lady Gaga akhirnya dibatalkan setelah sebelumnya menuai kontroversi. Diantara alasan dari pihak yang menentang pertunjukan penyanyi kontroversial ini adalah busana yang dikenakannya terlalu seronok dan mengumbar aurat.

Bagi pengusung ideologi kebebasan, ini adalah hak privat, bagi mereka busana sekedar pakaian semata, sesuatu yang menutup badan untuk penghias diri semata. Namun bagi penganut agama yang taat, pakaian terbuka di wilayah publik adalah persoalan. Busana bukan hanya bersifat individual, namun juga komunal sebagai bagian dari sistem identitas. Secara teoritis dalam kajian busana, fungsi busana mencakup fungsi fisik (perlindungan bagian tubuh), psikis (membentuk keyakinan dan kepercayaan diri), simbolik (menggambarkan keyakinan dan identitas pemakai), dan fungsi estetis (menampilkan keindahan diri).

Usia pakaian hampir sama dengan peradaban manusia, sebuah studi di Universitas Florida yang mempelajari evolusi kutu menemukan data, bahwa manusia modern mulai mengenakkan pakaian sekitar 70.000 tahun sebelum bermigrasi ke daerah yang lebih tinggi dan beriklim lebih dingin. Migrasi itu sendiri terjadi kira-kira 100.000 tahun lalu. Pakaian, tidak saja hanya suatu benda yang digunakan pada tubuh, bukan hanya untuk menghangatkan dan memberi kenyamanan pada konteks fisik dan psikologis, tetapi juga untuk kepentingan pencitraan, persoalan identitas, penggayaan dan gaya hidup, isu politik, serta terdapat misi budaya

Berdasarkan Teori Sopan Santun (modesty theory) pemakaian busana berpegang pada ajaran agama dan nilai-nilai budaya. Bagian tubuh yang ditutupi busana antar satu kelompok budaya yang berbeda bergantung pada jenis kelamin, usia, dan faktor situasional. Misalnya saja dalam Islam, busana untuk laki-laki dan perempuan berbeda dikarenakan batasan aurat yang berbeda. Menurut usia, manusia yang belum baligh (masih anak-anak) belum sepenuhnya wajib menggunakan busana lengkap (menutup semua auratnya) sedangkan manusia yang sudah akil baligh pakaiannya wajib menutup semua aurat. Faktor situasional membedakan kewajiban pemakaian busana dalam situasi yang berbeda, misalnya perbedaan hukum busana di area privat (misalnya rumah/kamar) dengan area publik (tempat umum).

Difirmankan dalam al-Qur’an: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu melakukan tabarruj (memperlihatkan aurat) sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyyah dahulu” (Qs. Al-Ahzab: 33).

Berdasarkan Teori Perlindungan (protection theory) busana digunakan untuk melindungi diri dari hal yang bersifat fisik maupun psikis. Ini juga sesuai dengan perintah agama Islam kepada pemeluknya untuk menggunakan busana yang menutup aurat agar terhidar dari bahaya, misalnya pelecehan seksual.

Dalam al-Qur’an ditegaskan: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).

Berdasarkan Teori Keindahan (decorative theory) orang memakai busana untuk menampilkan dan menambah keindahan tubuh untuk tujuan seperti daya tarik diri, menampilkan kesan tertentu (kuat, elegan, anggun, dsb). Islam juga memerintahkan agar kita menggunakan busana yang baik dan sopan agar muncul kesan keindahan seperti yang diharapkan. Sebagaimana dalam al-Qur’an: “Hai anak-cucu Adam! Sungguh Kami telah menurunkan untuk kamu pakaian yang dapat menutupi aurat-auratmu dan untuk perhiasan.” (al-A’raf: 26)

Disamping itu pula berdasarkan Teori Identitas (identity theory) busana berbeda antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sebagai bagian dari sistem identitas, sebagai pembeda yang menampilkan keunikan. Dalam konteks busana sebagai identitas, pakaian yang dipakai oleh seseorang juga berfungsi sebagai simbol keterikatan pemakainya terhadap sistem dan norma kelompok (agama, organisasi, atau komunitas tertentu). Dalam sebuah hadits yang populer, Nabi Muhammad saw bersabda: ”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud yang dishahihkan oleh Ibnu Hibban).

Hegemoni Budaya Melalui Citra Busana

Modernitas yang terjadi meniscayakan berkurangnya sekat-sekat dalam kehidupan manusia. Terjadi semacam pertarungan antar satu budaya dengan budaya yang lain, yang kuat akan melibas yang lemah. Prinsip evolusi sosial “struggle for life” juga berlaku dalam arena ini. Sebuah budaya akan mendominasi budaya lain. Kekuatan sebuah budaya bergantung pada banyak aspek, namun sebuah bangsa yang maju, memiliki dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi, bisa menciptakan tren dan mengekspansi (memperluas) budayanya hingga ke bangsa-bangsa yang lain.

Kemudian yang terjadi adalah hegemoni satu bangsa atas bangsa lain, baik dalam hal ekonomi, sosial, keilmuan, maupun kebudayaan. Dalam hal budaya berbusana, bangsa yang maju cenderung menjadi trending setter (penentu model) dan ditiru oleh bangsa-bangsa yang lain. Kita bisa melihat kecenderungan ini dengan sangat mudah dan kasat mata, masyarakat suka meniru gaya busana publik figur (baca: artis) yang mereka idolakan dan artis-artis ini juga meniru gaya busana artis idola mereka juga—yang kebanyakan berasal dari negara barat.

Citra busana lalu mengaso-siasikan tampilan busana tertentu dengan asosiasi-asosiasi kultural yang artifisial. Misalnya saja pakaian gaya barat yang serba terbuka bagi wanita diasosiasikan dengan pemikiran yang maju, sedangkan pakaian tertutup diasosiasikan dengan pemikiran konservatif dan jumud. Bahkan citra busana membangun batas-batas kelompok tertentu: busana ke-barat-baratan, busana timur tengah/kearab-araban, atau busana adat.

Mereka yang tidak sadar akan hal ini cenderung menjadi pengikut tren busana tanpa mempertimbangan persoalan filosofis dan idealistik dari pemakaian busana yang mereka kenakan.

Kita sebagai seorang muslim yang memiliki pedoman yang jelas dari agama kita, diharapkan tidak terjebak dalam hal semacam ini.

Busana Sebagai Simbol Perlawanan

Dalam bidang politik dan kenegaraan, busana juga mencerminkan kekuasaan. Antara pihak yang dominan dengan mereka yang dikuasai terdapat perbedaan busana yang disengaja untuk menampilkan identitas tertentu. Perlawanan terhadap dominasi tidak hanya terjadi pada wilayah fisik, namun juga dalam hal cara berbusana.

Rentetan sejarah perlawanan melalui pakaian misalnya yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, seorang pejuang humanis anti kekerasan dari India yang meninggalkan atribut Baratnya (pakaian dan ideologi keilmuannya) untuk menentang penjajahan Inggris. Melalui semangat dan ideologi Swadesi, yang disimbolkan melalui pakaian tradisional India Hal yang sama juga dilakukan oleh Ho Ci Minh, Yose Rizal, Mao Tse Tung, dan para pemimpin pembebasan Asia lain.

Di Indonesia, yang terjadi malah sebaliknya. Perlawanan politik busana cenderung mengasimilasi busana kelompok penguasa atau memodifikasinya. Misalnya Soekarno, dengan pakaian militernya yang persis dengan pakaian para gubernur jenderal Belanda. Lengkap dengan bintang dan tanda jasa tapi menggunakan peci/kopyah sebagai pembeda. Dalam sejarah politik busana Belanda memang sangat kentara. Diskriminasi yang diterapkan Belanda terhadap penduduk pribumi juga memasuki wilayah budaya berpakaian. Dominasi Belanda yang cukup lama di Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia, menciptakan tatanan yang berbeda dalam hal busana dengan beberapa kultur yang sudah ada di Indonesia, misalnya saja kultur Arab, Jawa, atau Cina. Belanda dengan sengaja mempolitisasi busana, membedakan pakaian pribumi dan Nederland untuk tujuan-tujuan politis. Pakaian menjadi tidak hanya sekedar penutup tubuh, namun juga memberikan media untuk mengekspresikan sikap tertentu terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan dan politik asing.

Pada awalnya Belanda ingin mempertahankan gaya berpakaian Eropa hanya untuk kalangan pejabat Hindia Nederland sendiri, hanya orang-orang Indonesia tertentu yang diperbolehkan menggunakan pakaian gaya Eropa di daerah kekuasaan VOC, misalnya saja para penganut Kristiani. Bahkan untuk di wilayah Batavia Belanda mengatur setiap etnik mendiami area tinggal sesuai kelompoknya dan tidak diperkenankan  mengenakan pakaian adat etnik lain. Pada tahun 1658 pernah dikeluarkan ordonansi yang melarang orang Jawa berbaur dengan etnik lain Indonesia. Hal ini dikarenakan dengan pembedaan tempat tinggal dan pakaian, Belanda lebih mudah mengawasi penduduk pribumi. Namun situasi ini semakin berubah dan elit politik lokal yang punya cukup kuasa mulai berpakaian gaya Eropa, dimulai oleh Mangkurat II (1677-1703) yang meski berstatus raja Jawa namun berpakaian gaya Eropa.

Gaya berpakaian elit priyayi yang meniru model Barat semakin menjadi mode. Pada gilirannya para pelajar STOVIA sudah memakai celana dengan setelan jas-jas putih. Bahkan termasuk dasi yang awalnya ditakuti pun kemudian menjadi mode yang dipilih para priyayi ini.

Kiai Haji Ahmad Dahlan sendiri sering digambarkan memakai pakaian campuran saat mengikuti kegiatan-kegiatan resmi organisasi, baik di Muhammadiyah, Budi Utomo, maupun Sarekat Islam. Meski sudah menggunakan Jas berwarna putih sebagai simbol penerimaan terhadap mode Eropa, namun beliau masih mengunakan bawahan sarung yang mencirikan Islam serta surban yang selalu dipakainya. Khusus untuk penutup kepala beliau tidak mengganti surbannya dengan topi gaya Eropa. Ini menandakan Kiai Haji Ahmad Dahlan memahami sepenuhnya bahwa untuk bisa diterima di kalangan elit organisasi itu perlu menggunakan juga pakaian seperti mereka, namun beliau masih mempertahankan identitas pakaian keislaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 15, 2012 by in Religius, Sosial Politik and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: