Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Unas dan Apa yang Terlupakan

Setiap kali Ujian Nasional (Unas) digelar pasti diikuti dengan kontroversi seputar pelaksanaannya, mulai kontroversi seputar penting tidaknya Unas diselenggarakan hingga karut-marut yang terjadi selama penyelenggaraannya. Dalam menyikapi keberadaan Unas terdapat beberapa kubu: penolak, pendukung, dan moderat.

Kubu penolak diwakili mereka yang merasa pelaksanaan Unas mubadzir, buang-buang uang (baca: bagi-bagi proyek) semata, dan penuh praktik culas sehingga nilai perolehan dalam Unas tidak valid. Kubu pendukung beralasan bahwa Unas sangat penting untuk mengetahui capaian siswa terhadap standar pendidikan yang ditetapkan pemerintah, Unas juga bisa dijadikan cermin kinerja pelaku pendidikan di daerah. Sedangkan kubu yang moderat menganggap Unas tetap perlu dilaksanakan namun tidak dijadikan penentu kelulusan.

Karut-marut penyelenggaraan Unas paling banyak terkait kasus kebocoran kunci jawaban dan usaha contek-mencontek. Kita tentu masih ingat dengan kasus Alif dan Ibu Siami yang membongkar contekan masal yang diinisiasi gurunya. Tahun ini pun kebocoran kunci jawaban masih saja terjadi, meski sudah banyak tahap proses yang diperbaiki namun celah kebocoran masih terjadi. Kebocoran kunci jawaban tahun ini tentu menimbulkan syak wasangka: jika percetakan sudah menerapkan disiplin ketat, pihak kepolisian sudah menjaga distribusinya, maka kemungkinan besar kebocoran terjadi sebelum proses pencetakan. Mungkin pada tahap penentuan soal, atau validasinya.

Namun dalam kesempatan ini kita tidak akan membahas persoalan yang tercakup dalam penyelenggaraan Unas. Kita justru perlu memperhatikan apa yang belum tercakup dalan Unas. Dalam perspektif penjaminan mutu (quality assurance), Unas bisa dikategorikan sebagai inspeksi mutu (quality control) dari pihak eksternal untuk memastikan mutu layanan pendidikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Ujian sebagai inspeksi mutu pelayanan pendidikan (dengan parameter prestasi belajar siswa) memang sangat diperlukan sebagaimana uji kualitas pada produk dan jasa dalam bidang industri.

Dalam praktiknya, kontrol kualitas di lembaga pendidikan formal di Indonesia muncul dalam banyak bentuk. Ada yang dilaksanakan oleh guru seperti ulangan harian, ada yang dilaksanakan sekolah seperti ujian semester dan ujian sekolah, ada yang dilaksanakan negara seperti ujian nasional, dan bahkan ujian yang dilaksanakan pihak lain seperti uji sertifikasi/kompetensi.

Ujian tetap perlu dilakukan dan tidak mungkin dihilangkan, tapi kuantitas ujian di Indonesia kurang diimbangi dengan kualitas penyelenggaraan ujian itu sendiri. Persoalannya, materi ujian di negara kita terlalu menekankan pada aspek akademik semata dan mengabaikan aspek yang lainnya.

Tujuan Pendidikan

Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut pengertian ini jelas sekali bahwa proses pendidikan tidak terbatas untuk mencapai kemampuan akademik semata, namun juga yang lain.

Lebih spesifik lagi tujuan pendidikan nasional dalam undang-undang yang sama, adalah untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam tujuan pendidikan itu tercakup keinginan agar peserta didik memiliki kompetensi akademik, kompetensi sosial, kompetensi moral, dan kompetensi spiritual.

Jadi secara ideologis dan filosofis, tujuan pendidikan nasional sebagaimana dicita-citakan dalam undang-undang adalah terbentuknya manusia yang berkarakter baik selain berkompeten. Hal ini harus dipahami semua pihak agar tidak lagi terjadi salah paham mengenai makna pendidikan. Tujuan pendidikan—dan semua proses didalamnya—adalah pembentukan karakter dan skill peserta didik. Konstitusi negara kita mewajibkan integrasi antara pengajaran karakter dan skill, secara menyeluruh dan simultan, bukan hanya pengajaran akademik semata.

Kembali pada perspektif penjaminan mutu pendidikan, bahwa ujian atau tes adalah instrumen kontrol mutu, maka instrumen kontrol mutu itu semestinya mengukur ketercapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Karena tujuan pendidikan mencakup kompetensi akademik, kompetensi sosial, kompetensi moral, dan kompetensi spiritual maka tes yang diselenggarakan setidaknya juga mengukur capaian dalam setiap aspek dan memandang penilaian dari tiap aspek itu penting, tidak ada satu aspek yang lebih penting dari aspek lain.

Benar sekali bahwa Unas itu masih diperlukan, sebagai salah satu instrumen pengukur ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Tapi jangan dilupakan aspek lain. Pertanyaannya, kapan kita mulai merancang instrumen pengukuran untuk aspek-aspek yang terlupakan itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 20, 2012 by in Intelektual and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: