Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.2)

Pada tulisan sebelumnya (klik disini untuk baca tulisan sebelumnya), telah diuraikan secara teoritis bagaimana mewujudkan kejujuran akademik di sekolah dengan penekanan pada peran guru. Pada tulisan ini akan dilanjutkan dengan pendekatan sistem manajemen, artinya meski secara personal peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik itu sangat diperlukan, pada akhirnya diperlukan pendekatan sistemik dan integratif agar keinginan itu bisa terwujud. Meski dilakukan melalui satuan unit pendidikan, bukan berarti tidak ada peran guru di sini, karena sebagai agen guru-lah yang pada akhirnya menentukan apakah pendekatan sistem ini dilakukan atau tidak.

 Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan juga merupakan sebuah sistem sosial. Ada struktur dan kultur yang mempengaruhi bagaimana sekolah bisa membentuk dan mewujudkan tujuannya. Yang dimaksud dengan struktur adalah hirarki kepemimpinan dan pembagian wewenang secara formal mengenai siapa dan bagaimana pola pelayanan pendidikan itu diberikan. Ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah, sampai tenaga kebersihan. Itu struktur secara vertikal. Ada juga struktur horisontal, misalnya relasi guru dengan sesama guru dalam jenjang wewenang yang setingkat, atau kepala sekolah dengan komite yang dihubungkan dengan garis kordinatif. Selain struktur besar, juga ada sub-struktur. Misalnya struktur organisasi kelas, dimana siswa dalam komunitas kelas memiliki tingkatan wewenang. Ada wali kelas, ada ketua kelas, dan bagian-bagian yang lain.

Ada juga kultur sebagai komponen dalam sistem sekolah. Budaya sekolah yang berisi paradigma, etos, motif, dan pola kerja sangat mempengaruhi bagaimana pencapaian tujuan itu akan berhasil atau tidak. Kultur sekolah selain dipengaruhi oleh kultur individu yang berada di dalamnya, juga dipengaruhi oleh sistem budaya yang lebih luas—masyarakat lokal, regional, nasional, bahkan global.

Dibutuhkan pendekatan sistemik dan integratif agar tercipta kondisi yang memungkinkan peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik itu bisa semakin mudah terwujud. Pendekatan sistem ini harus memperhatikan bagaimana pola struktur dan keunikan kultur yang ada di sebuah sekolah. Hal ini menyulitkan kita untuk membuat deskripsi general mengenai bagaimana pendekatan sistem itu dijalankan, karenanya yang mungkin bisa dijabarkan disini hanya poin-poin utama dalam pendekatan sistem itu sebagaimana diuraikan berikut:

Visi, Misi, dan Komitmen Mutu

Sekolah harus menetapkan bahwa kejujuran merupakan implementasi dan penyusun visi, misi, dan komitmen mutunya. Paling tidak dalam komitmen mutu (pernyataan tertulis mengenai standar mutu yang ditetapkan) harus mencakup secara spesifik mengenai pentingnya kejujuran. Jika kejujuran ditekankan dalam komitmen mutu, paling tidak sekolah harus membuat mekanisme pengukuran ketercapaian komitmen mutu ini. Dari pengukuran ini akan terlihat bagaimana capaian kinerja kejujuran di sebuah sekolah, apa yang menjadi hambatannya, dan bagaimana tindakan perbaikan untuk meningkatkan kinerja kejujuran ini di masa-masa mendatang.

Mekanisme Reward

Sekolah juga perlu menetapkan mekanisme reward (penghargaan) bagi guru yang berhasil membangun budaya kejujuran akademik dan siswa yang benar-benar jujur dalam mencapai prestasi belajarnya. Mekanisme reward ini tidak harus dalam bentuk material (uang) namun bisa juga masuk dalam ranah penilaian. Bagi guru penilaian yang dimaksud adalah penilaian kinerja, dan bagi siswa ranah penilaian ini masuk dalam rapor atau capaian prestasi belajar.

Penyediaan Infrastruktur

Sekolah harus menata dan menyediakan sarana parasarana baik utama maupun pendukung yang memungkinkan budaya kejujuran akademik ini benar-benar terwujud. Misalnya saja pengaturan tempat duduk siswa yang lebih personal (satu siswa satu bangku), penyediaan sarana telepon umum sehingga siswa tidak diperkenankan membawa alat komunikasi, dan sebagainya. Penataan ruang (baik ruang kelas, ruang terbuka, maupun sirkulasi) juga perlu diatur sedemikian rupa sehingga siswa merasa terpantau aktifitasnya.

Kegiatan Pembentukan Karakter

Dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar tentu sekolah tidak hanya melakukan pembelajaran di dalam kelas. Seringkali sekolah mengadakan pembelajaran di luar kelas (outdoor learning), dalam kegiatan semacam ini perlu dimasukkan karakter kejujuran sebagai materi tersembunyi (hidden kurikulum).

Dalam pelaksanaannya, beberapa poin di atas bisa dilakukan secara bersamaan maupun tersendiri. Pelaksanaannya harus memungkinkan keterlibatan banyak pihak (involment people).[]

2 comments on “Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.2)

  1. Pingback: Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik « Explore, Dream, Discover!

  2. Pingback: Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.3) « Explore, Dream, Discover!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2012 by in Intelektual and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: