Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Reorientasi Ujian sebagai Kontrol Mutu

Sebentar lagi dunia pendidikan di Indonesia punya hajatan besar: Ujian Nasional (UN). Dalam perspektif penjaminan mutu (quality assurance), UN bisa dikategorikan sebagai inspeksi mutu (quality control) dari pihak eksternal untuk memastikan mutu layanan pendidikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Ujian sebagai inspeksi mutu pelayanan pendidikan (dengan parameter prestasi belajar siswa) memang sangat diperlukan sebagaimana uji kualitas pada produk dan jasa dalam bidang industri.

Dalam praktiknya, kontrol kualitas di lembaga pendidikan formal di Indonesia muncul dalam banyak bentuk. Ada yang dilaksanakan oleh guru seperti ulangan harian, ada yang dilaksanakan sekolah seperti ujian semester dan ujian sekolah, ada yang dilaksanakan negara seperti ujian nasional, dan bahkan ujian yang dilaksanakan pihak lain seperti uji sertifikasi/kompetensi. Ujian itu perlu namun tidak boleh menjadi yang utama, yang paling penting justru adalah apakah proses pembelajaran yang dilakukan memberikan makna kepada pelakunya (guru dan siswa), kemudian apakah nilai-nilai dan skill yang diajarkan selama proses pembelajaran itu mewujud dalam perilaku sehari-hari. Disamping itu yang tidak kalah pentingnya adalah sikap mental peserta didik, bagaimana mereka siap menghadapi persaingan hidup yang makin kompetitif. Inilah pendidikan yang bermakna sebagaimana ditulis Muhlas Samani dalam bukunya “Menggagas Pendidikan Bermakna”.

Ujian tetap perlu dilakukan dan tidak mungkin dihilangkan, tapi kuantitas ujian di Indonesia kurang diimbangi dengan kualitas penyelenggaraan ujian itu sendiri. Ujian sebagai inspeksi mutu harusnya mengukur capaian prestasi belajar yang dirujuk pada tujuan pendidikan yang dilaksanakan. Dalam tataran ideal, tujuan pendidikan tidak hanya melulu mencapai kompetensi akademik, namun juga kepribadian (karakter) dan keterampilan lain. Persoalannya, materi ujian di negara kita terlalu menekankan pada aspek akademik semata dan mengabaikan aspek yang lainnya. Ini tidak saja menjadi reduksionis (menghilangkan beberapa aspek) namun juga pengerdilan terhadap pentingnya aspek lain yang harus dikuasai siswa dalam proses pendidikan, yakni karakter dan yang tidak kalah penting adalah pemahaman akan pentingnya wawasan pendidikan.

Tujuan Pendidikan

Apakah pendidikan itu adalah hak atau kewajiban? Jika tolak ukurnya adalah posisi masyarakat sebagai warga negara, pendidikan itu adalah hak. Warga negara berhak mendapatkan pendidikan, demikian amanat UUD 45 pasal 33. Jika tolak ukurnya adalah posisi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, maka pendidikan adalah kewajiban. Namun baik pendidikan itu sebagai hak maupun sebagai kewajiban, tujuannya sama, bersifat general, yakni agar manusia menyadari dirinya dan potensi kemanusiaannya, atau dalam istilah Freire, pendidikan yang memanusiakan.

Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Menurut pengertian ini jelas sekali bahwa proses pendidikan tidak terbatas untuk mencapai kemampuan akademik semata, namun juga yang lain.

Lebih spesifik lagi tujuan pendidikan nasional dalam undang-undang yang sama, adalah untuk berkembangnya potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam tujuan pendidikan itu tercakup keinginan agar peserta didik memiliki kompetensi akademik, kompetensi sosial, kompetensi moral, dan kompetensi spiritual.

Seharusnya berbagai aspek yang menjadi tujuan pendidikan itu yang harus diukur ketercapaiannya, bukan hanya kompetensi akademik semata sebagaimana praktik yang terjadi selama ini. Secara prosedural keinginan ini sudah diwadahi dalam pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimana sekolah bisa merancang desain kurikulum sesuai dengan visi pendidikan yang diinginkan. Persoalannya hal ini belum efektif berjalan karena tidak didukung sistem, kultur (budaya), dan struktur. Pihak sekolah juga pada umumnya masih takut mengimplementasikan KTSP sepenuhnya sesuai dengan potensi dan karakter lokal. Ini menjadi garapan serius yang harus diperhatikan.

Jadi secara ideologis dan filosofis, tujuan pendidikan nasional sebagaimana dicita-citakan dalam undang-undang adalah terbentuknya manusia yang berkarakter baik selain berkompeten. Hal ini harus dipahami semua pihak agar tidak lagi terjadi salah paham mengenai makna pendidikan. Tujuan pendidikan—dan semua proses didalamnya—adalah pembentukan karakter dan skill peserta didik. Konstitusi negara kita mewajibkan integrasi antara pengajaran karakter dan skill, secara menyeluruh dan simultan, bukan hanya pengajaran akademik semata.

Kembali pada perspektif penjaminan mutu pendidikan, bahwa ujian atau tes adalah instrumen kontrol mutu, maka instrumen kontrol mutu itu semestinya mengukur ketercapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Karena tujuan pendidikan mencakup kompetensi akademik, kompetensi sosial, kompetensi moral, dan kompetensi spiritual maka tes yang diselenggarakan setidaknya juga mengukur capaian dalam setiap aspek dan memandang penilaian dari tiap aspek itu penting, tidak ada satu aspek yang lebih penting dari aspek lain.

One comment on “Reorientasi Ujian sebagai Kontrol Mutu

  1. Budi Sujatmiko
    April 9, 2012

    Orang tidak sadar kalau ujian membutakan mata dari hal-hal yang seharusnya menjadi perhatian utama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 7, 2012 by in Intelektual and tagged , , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: