Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Modernitas, Prostitusi, dan Seks Bebas

Sebuah media massa nasional baru-baru ini memberitakan tentang kecenderungan sepinya pengunjung lokalisasi Dolly. Sepinya pengunjung berdampak pada pemasukan wisma yang sedikit sehingga membuat banyak pengelola wisma yang tutup. Mungkin lebih banyak pihak yang merasa gembira menyikapi perkembangan ini, salah satunya tentu pemerintah. Terlebih pemerintah kota Surabaya, mereka merasa larangan penambahan PSK baru yang menjadi penyebab sepinya pengunjung di lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini karena pria hidung belang pelanggan wisma bosan dengan stok lama yang makin menua.

Beberapa lembaga keagamaan dan organisasi sosial juga mengklaim penurunan itu sebagai sinyal keberhasilan pendampingan mereka kepada para SPK. Namun agaknya kita tidak bisa terlalu senang dengan kondisi Dolly–atau lokalisasi prostitusi lain–yang makin menurun, karena penutupan wisma memiliki sebab dan dampak sosial yang lebih parah.

Bicara mengenai prostitusi sebenarnya sangat terkait dengan persoalan kesetaraan gender. Motif bisnis prostitusi, baik pelaku maupun pengelolanya tentu faktor ekonomi. Di banyak Negara, tingkat prostitusi berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan dan berbanding terbalik dengan rendahnya kesejahteraan. Karenanya, tidak berlebihan jika  UNDP menyatakan bahwa “pemberdayaan perempuan membantu meningkatkan produktifitas ekonomi dan mengurangi angka kematian anak. Pemberdayaan perempuan memberikan sumbangan pada kesehatan dan gizi yang lebih baik. Meningkatkan peluang pendidikan untuk generasi berikutnya.”

Yang cukup mengherankan, jika persoalan kesetaraan gender dihubungkan dengan konservatisme keagamaan, “Negara-negara yang masyarakatnya sangat menekankan moralitas dan secara seksual sangat konservatif, seperti India, Pakistan, dan Iran, adalah Negara-negara yang memiliki angka pelacuran dengan pemaksaan tinggi” (Kristoff & Wundunn, 2010)–pemaksaan dalam konteks fisik. Sebaliknya, di Negara-negara yang relatif lebih permisif, bukan berarti prostitusi hilang, namun motif PSK disana lebih karena “ingin memperkaya diri”, mereka melihat dunia prostitusi menawarkan peluang yang lebih besar bagi mereka untuk mendapatkan uang dibanding bidang pekerjaan lain. Karenanya, kebanyakan pelacur di Amerika, China, dan Jepang memang tidak diperbudak. Di Negara seperti ini, “pemaksaan” terhadap para pelacur karena sebab non-fisik, seperti himpitan ekonomi, sebagaimana juga yang terjadi pada perempuan di Brazil dan Negara Sub-Sahara Afrika.

Dua faktor yang terkait dengan turun-naiknya angka prostitusi: tingkat konservatifme dan kesetaraan gender sama-sama dipengaruhi tingkat modernitas sebuah masyarakat. Semakin modern kehidupan suatu masyarakat, maka konsekuensi-konsekuensi modernitasnya semakin besar. Konsekuensi modernitas itu misalnya adalah budaya permisif yang meruntuhkan konservatifme seksual serta perkembangan pendidikan yang meningkatkan pemahaman akan kesetaraan gender. Tapi yang jadi persoalan, turunnya prostitusi diikuti dengan kecenderungan lain yang tidak kalah menghawatirkan: naiknya kriminalitas seksual dan budaya seks bebas. Jika seorang lak-laki bisa memuaskan kebutuhan seksualnya tanpa bayar, mengapa ia harus ke lokalisasi? Dan dua cara untuk pemenuhan ini yang memungkinkan ada dua: pemaksaan (kriminalitas) atau sukarela (seks bebas/selingkuh).

Dua konsekuensi inilah yang perlu kita perhatikan. Jika prostitusi dalam sebuah masyarakat semakin turun, bukan berarti tingkat penghargaan terhadap perempuan semakin naik, ia hanya berubah bentuk. Dua hal ini menjadi faktor lain yang menyebabkan sepinya lokalisasi di Indonesia, bukan hanya karena peraturan pemerintah tentang pelacur baru.

Sebab–dan sekaligus akibat–pertama adalah kriminalitas seksual. Kita sudah mengetahui semakin maraknya tingkat kejahatan seksual di negara kita, mulai dari pelecehan seksual tingkat ringan hingga kejahatan seksual berat seperti pemerkosaan. Berbagai pemberitaan di media massa seperti menunjukkan kejahatan seksual sekarang malah merambat terjadi di tempat-tempat yang sebelumnya tidak diprediksi seperti angkot, terminal, bahkan rumah korban sendiri.

Sebab kedua adalah seks bebas. Ini adalah sebab yang lebih dominan. Dan lagi-lagi modernitas semakin memperkuat dominasi faktor ini atas keruntuhan prostitusi. Pengalaman seksual yang didapatkan remaja dari teman dekatnya (baca: pacar) membuat pemuasan kebutuhan seksual mereka pada level memedai. Sedangkan pada tingkat umur yang lebih dewasa, perselingkuhan menjadi alternatif seseorang memuaskan kebutuhan seksualnya, alih-alih mendatangi lokalisasi.

Logika Pasar

Larangan penyediaan stok PSK baru sebenarnya tidak akan meruntuhkan bisnis lokalisasi. Itu hanya akan membuat harga stok baru semakin tinggi. Sebagaimana logika ekonomi pasar dalam bisnis trafficking, jika permintaan tinggi sedangkan penawaran rendah, maka tingkat harga barang akan naik, selanjutnya karena peluang penawaran besar akan muncul pihak baru sehingga kurva permintaan-penawaran kembali mencapai keseimbangan.

Kesalahan paradigma juga terjadi dalam masyarakat kita. Selama ini, stigma negatif dan sanksi selalu dijatuhkan terhadap perempuan daripada laki-laki. Padahal dalam masyarakat Indonesia yang konservatif dalam urusan seksual sedangkan tingkat kesejahteraan ekonomi rendah, yang terjadi adalah prostitusi dengan pemaksaan: artinya perempuan adalah korban.

Karenanya, untuk menghapus transaksi bisnis gelap terbesar di dunia (selain senjata illegal dan narkoba) ini, yang di-pressure mestinya bukan penawaran, tapi permintaan. Jadi, seumpama ingin benar-benar menghargai perempuan dan berniat menghapuskan prostitusi, alih-alih melarang stok baru, yang lebih efektif adalah menghukum pembeli. Coba saja saran ini: para lelaki yang terbukti menggunakan jasa PSK akan dikebiri![]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 4, 2012 by in Humanis, Sosial Politik and tagged , , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: