Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik

Kita tentu belum lupa dengan kisah mengenai Alif, siswa SDN Gadel 2 Surabaya yang kini bisa menikmati sekolah gratis di SMPM 12 GKB Gresik. Ia dipaksa menyebarkan contekan oleh gurunya saat berlangsung Ujian Nasional SD tahun lalu. Ia diajari cara menterjemahkan kode jawaban dari gurunya, kemudian memperlihatkan lembar jawabannya kepada teman yang lain. Kasus contekan massal yang kemudian terbongkar dan menjadi isu nasional saat itu sungguh sangat ironis. Siami, ibu si Alif yang membongkar ketidakjujuran yang diinisiasi oleh pihak sekolah atau guru itu kemudian harus berjuang ditengah perlawanan sekolah dan masyarakat sekitar yang takut anaknya tidak diluluskan.

Kasus ini ironis, sekaligus inspiratif. Ini ironis sebab dari kasus ini adalah fenomena puncak gunung es dari kondisi yang sama yang terjadi di banyak sekolah lain di negeri ini. Contek-mencontek adalah “budaya” sekolah kita. Peristiwa ini ironis karena membuka mata kita bahwa peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik masih sangat rendah, bahkan bukannya guru ikut berperan aktif membangun budaya kejujuran akademik itu, mereka malah mengajarkan kepada siswanya bagaimana berbuat tidak jujur. Guru yang seharusnya mengajari siswa agar memiliki skill dan kepribadian yang baik malah menjerumuskan mereka pada budaya ketidakjujuran akademik, yang pada masa-masa selanjutnya akan merembet pada ketidakjujuran di luar aspek akademik.

Kasus ini ironis karena ia juga mengungkapkan fakta bahwa sebagian besar anggota masyarakat masih belum sepenuhnya memahami pentingnya kejujuran, sebagian dari kita lebih mementingkan nilai yang tertera di rapor ketimbang “nilai-nilai” moral yang dipegang sebagai prinsip hidup oleh anaknya. Sebagian dari kita juga belum sepenuhnya memahami peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik. Bukannya membela Ibu Siami, mereka malah membela guru yang bersalah itu dan melawan Ibu Siami demi kepentingan semu kelulusan anaknya.

Kasus ini juga ironis karena sekolah sebagai lembaga pendidikan di Indonesia masih jarang sekali memiliki sistem yang baik, baik itu sistem pengajaran akademik maupun pengajaran karakter yang mengkondisikan peserta didik memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi lulusan yang memadai dan sikap hidup yang baik tanpa berbuat kecurangan. Karena sekolah tidak memiliki prinsip memegang kebenaran, termasuk kejujuran akademik, maka sekolah tidak memahami peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik.

Namun kisah si Alif juga inspiratif karena memberitahu kita tentang pentingnya dunia pendidikan di Indonesia untuk lebih memperhatikan pendidikan karakter yang selama ini terabaikan oleh penilaian akademik semata, juga pentingnya dunia pendidikan kita menyadari peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik. Guru sebagai pengajar dan pendidik adalah sentral dari proses belajar mengajar, bagaimana kualitas guru begitulah kualitas peserta didiknya.

Dalam mewujudkan tercapainya budaya kejujuran akademik (dan non-akademik), guru harus menjadi bagian terdepan. Para guru harus menerapkan 4P untuk memulainya, 4P itu sebagaimana diuraikan berikut ini;

 Peneladanan

Guru itu adalah orang yang digugu dan ditiru, dituruti perkataannya dan contoh tingkah lakunya. Sebagian besar guru tahu tentang teori Modelling, bahwa anak-anak butuh contoh, model, uswah, atau idola yang ditirunya. Ia berada dalam tahap peniruan (mimetis) akan orang-orang disekelilingnya dan mengambil sebagai contoh perilaku yang akan ia coba lakukan dalam membentuk kepribadian dan jati dirinya.

Sebagai pendidik, guru harus bisa menjadi teladan. Ini adalah harga mati. Guru bukanlah orang yang bertugas menjadikan seseorang pandai semata, ia juga perlu menunjukkan kepada siswanya bagaimana bersikap yang baik dalam hidup.

Kadang-kadang yang terjadi sebaliknya. Guru secara tidak sadar melakukan perbuatan yang menjadi contoh buruk bagi peserta didik, dalam hal kejujuran. Misalnya saja guru yang memanipulasi nilai ujian (mengatrol nilai) agar ia tidak perlu melakukan remidial teaching, atau agar tidak dianggap gagal dalam mengajar, atau guru yang malah menyarankan agar siswanya memanipulasi nilai rapor agar bisa masuk ke lembaga pendidikan favorit.

Yang sering terjadi adalah seperti kasus bu Siami: guru menyuruh siswanya menyontek. Ini ironis, seorang guru yang harusnya memberi keteladanan malah menjerumuskan siswanya dalam tindakan tercela. Bukan menjadi teladan, guru seperti ini malah menjadi pelaku kejahatan.

Jadi tidak bisa dipungkiri lagi, agar terwujud peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik, hal pertama yang mesti ia lakukan adalah menjadi teladan, tentu teladan yang baik.

Pengarahan

Disamping menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur—dengan jujur pula—guru juga perlu memberikan pengarahan kepada peserta didik tentang pentingnya kejujuran. Ini bukanlah tugas guru agama semata, tapi tugas semua guru. Guru perlu menyadari perannya dalam membangun budaya kejujuran akademik sebagai “tugas bersama”, bukan tugas “mereka”. Hal ini bisa dilakukan misalnya dengan menyelipkan nilai-nilai moral—tidak hanya kejujuran—dalam materi-materi yang mereka ajarkan.

Tidak hanya didalam kelas, guru juga perlu memberikan pengarahan di luar kelas. Guru bisa memposisikan diri sebagai teman, yang bisa diandalkan siswa untuk mendapatkan pendidikan nilai-nilai. Peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik tidak terbatas di dalam kelas atau saat pelajaran, tapi juga di luar kelas saat tidak ada jam pelajaran.

Pujian

Guru juga perlu memberikan penguatan positif (reinforcement). Berikan pujian pada peserta didik jika ia melakukan perilaku yang didasarkan pada kejujuran. Pujian ini akan memberikan mereka semangat dan memotivasi mereka berbuat jujur pada waktu yang lain.

 Penghargaan

Penguatan positif juga perlu dilakukan dalam bentuk pemberian penghargaan (reward). Misalnya saja seorang siswa yang berhasil mengerjakan soal ulangan tanpa mencontek atau tanpa menoleh kanan-kiri akan mendapatkan tambahan poin. Kadang-kadang dalam beberapa kasus, juga diperlukan sanksi (punishment) kepada siswa yang tidak jujur, misalnya poin perolehannya dikurangi. Guru juga bisa mengadakan semacam penghargaan atau achievement award bagi siswa yang nilainya bagus tapi didapat dengan kejujuran. Ini akan membuat teman-temannya yang lain menemukan role model yang baik yang bisa ditiru.

Pada akhirnya, untuk mewujudkan semua ini, setiap pendidik harus menyadari peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik. Dalam mewujudkannya, peran guru adalah sentral, bukan perenial. Upaya guru secara kultural ini juga harus diwadahi secara struktural dengan menciptakan sistem pendidikan yang mendukung. Masyarakat juga harus mendukung. Memang bukan hal yang mudah, namun juga bukan hal yang tidak mungkin. Jika kita berusaha, jika kita percaya. Insya Allah. []

Baca kelanjutan artikel ini di : Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.2) & Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.3)

16 comments on “Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik

  1. Pingback: PSB dan Disparitas Mutu Pendidikan Nasional « Explore, Dream, Discover!

  2. Pingback: Daulat Uang Atas Pendidikan « Explore, Dream, Discover!

  3. Pingback: Menggiatkan Baca-Tulis di Sekolah « Explore, Dream, Discover!

  4. Pingback: Menakar Angka 24 Jam « Explore, Dream, Discover!

  5. dewimusdalifah
    April 7, 2012

    Sebenarnya hampir semua guru tahu apa yang dituliskan oleh anda disini, pertanyaanya adalah: sadarkah bahwa kita telah melakukan kesalahan secara terus menerus dan biasa kita lakukan? saya yakin kita ini juga korban dari produk guru kita dimasa lalu. ini adalah mata rantai yang telah mengakar. ketika semua membingkai kita dalam ketidakjujuran massal yang setiap hari dipertontonkan dimana mana, sanggupkah kita bertahan dalam perjuangan seorang diri? setelah jujur di sekolah, kemudian lulus, mampukah anak didik kita bertarung dengan ketidakjujuran didunia realitas yang lebih dasyat. mampukah kita sebagai guru memutus mata rantai yang selama ini membelenggu dunia pendidikan kita ? tentu saja butuh energi besar, jika kita mau bergabung dgn pemikiran ahmadfk, kita siapkan tenaga, pikiran dan dayatahan yang tangguh. maukah kita ?

    • afkareem
      April 7, 2012

      Segala sesuatu dimulai dengan kepercayaan. Kita beragama dimulai dengan kepercayaan, kita menikah dimulai dengan kepercayaan, dan kita mendidik juga harus dimulai dengan kepercayaan. Jika guru percaya kalau muridnya bisa, tidak ada yang tidak mungkin. Jika guru percaya bahwa ia bisa, juga tidak ada yang tidak mungkin. Jadi bu, mendidik itu harus dimulai dengan kepercayaan. Kepercayaan bahwa murid kita bisa. Guru harus percaya bahwa peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik harus diwujudkan semua pihak

  6. Mustakim
    April 9, 2012

    Selama sistem pendidikan nasional kita masih terpaksa oleh pragmatisme elit tertentu, sulit berharap untuk dapat membenahi kemanusiaan insan pendidikan di bangsa ini….

    • afkareem
      April 9, 2012

      yang penting tidak patah semangat pak agar peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik tidak pupus di tengah jalan

  7. Uripan Nada
    April 9, 2012

    Realitas peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik yang ada di Indonesia banyak kendala :
    1. Banyaknya kepentingan yang mendua dari individu dan instansi pendidikan antara menegakkan kejujuran dan meningkatkan reputasi pribadi dan institusinya
    2. Sistem pendidikan yang dihadapkan pada dilema antara kita harus jujur atau banyak siswa yang tidak lulus. Karena dengan UN menyebabkan kekhawatiran tidak lulus dan dengan mengatrol nilai membantu anak lulus.

    Sangat satuju tulisan mas kareem untuk memberikan penekanan ketekatan untuk jujur antara individual dan institusi. Bu Siami patut dijadikan contoh bukan bahan cemoohan.Dan tentunya memotivasi para guru untuk terus meningkatkan kompetensinya

    • afkareem
      April 9, 2012

      tugas berat majelis dikdasmen untuk menjadi pioner penegakan kejujuran di sekolah Muhammadiyah. Pak Uripan sebagai pengurus majelis harus selalu menggemakan semangat kejujuran ini. Sudah bagus langkah Dikdasmen PDM Gresik memberi penghargaan kepada Ibu Siami berupa sekolah Gratis untuk alif. Semoga peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik semakin terealisasi.

  8. Sansan7
    April 9, 2012

    TRIMAKASIH ATAS INFORMASINYA.. SY TUNGGU NEXT POST BERIKUTNYA:)

    • nurhidajati
      April 10, 2012

      Kejujuran bagaikan mata uang yang memiliki 2 sisi . Satu sisi bisa digunakan untuk membayar nilai nilai keutamaan sedangkan sisi yang lain bisa digunakan untuk membeli suatu kehancuran.Doa orang tua Alif melalui nama yang diberikan pada anaknya semoga selalu menjadikannya” sebagai yang nomer satu”dalam mewujudkan nilai nilai kebajikan .

  9. in
    April 13, 2012

    setuju pakkk.tapi gimana dengan pemerintah yach….apa mereka tidak punya anak yg sekolah???jd biar tau rasanya..atau coba suruh jadi guru aja..

    • afkareem
      April 14, 2012

      Mas/mbak In, pemerintah itu niat sebenarnya baik hanya ada sisi yang terlupakan oleh mereka. Bukan salah pemerintah spenuhnya, tapi semua elemen yang terlibat dalam proses pendidikan itu juga mesti saling mendukung agar peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik bisa semakin terwujud.

  10. Pingback: Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.2) « Explore, Dream, Discover!

  11. Pingback: Peran Guru dalam Membangun Budaya Kejujuran Akademik (Bag.3) « Explore, Dream, Discover!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 29, 2012 by in Intelektual and tagged , , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: