Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Muhammadiyah Reborn (?)

Sebagai sebuah organisasi, tahap apa yang kini dialami Muhammadiyah dalam usianya yang sudah melebihi 1 abad ini? Menganalisa dari situasi umum, agaknya persyarikatan ini memasuki tahap dewasa yang mengarah pada siklus kemunduran kemudian kelahiran kembali. Beberapa gejala yang menjadi ciri organisasi dalam tahap dewasa cenderung menuansakan perkembangan negatif, diantaranya sebagai berikut:

Pertama, organisasi semakin besar (expand) baik secara vertikal maupun horisontal. Ini jelas sudah terjadi, secara vertikal struktur Muhammadiyah sudah terbentuk mulai tingkat pusat (nasional/internasional) hingga tingkat ranting (desa), secara horisontal keberadaan Muhammadiyah juga meluas ke seluruh pelosok nusantara bahkan melampaui batas geografis negara.

Kedua, unit organisasi makin terkotak dan masing-masing berkompetisi untuk memperebutkan dana, fasilitas, dan sumber daya manusia. Kita bisa melihat bagaimana unit organisasi baik dalam level inter-organisasional (Muhammadiyah dan ortom) maupun intra-organisasional (antar bidang/majelis dalam organisasi/organisasi otonom) kesulitan mendapatkan—dan implikasinya: memperebutkan—dana, fasilitas dan ketersediaan tenaga. Sudah bukan rahasia jika persyarikatan/ortom terkesan saling berebut mendapat dana dan fasilitas dari amal usaha untuk membiayai operasional organisasi. Juga krisis kader yang melanda sedemikian sehingga satu orang kader bisa memiliki banyak jabatan berbeda di persyarikatan baik secara horisontal maupun vertikal.

Ketiga, komunikasi organisasi makin memburuk. Seringkali informasi yang sangat penting bagi efektifitas dan kinerja organisasi mengalami hambatan komunikasi. Komunikasi di sini bisa diartikan sebagai kelancaran aliran informasi verbal maupun integrasi informasi non-verbal. Banyaknya organisasi otonom di Muhammadiyah memang sebuah peluang untuk memperluas gerakan namun bisa menjadi hambatan jika tidak terjadi komunikasi yang baik, dan inilah yang seringkali terjadi. Kegiatan di satu ortom tidak diketahui—lebih jauh lagi, tidak terintegrasi—dengan kegiatan ortom lain. Secara sistem, data organisasi tidak ada sehingga integrasi program sulit dilakukan.

Keempat, menolak inovasi, mempertahankan status quo, dan mempertahankan cara kerja dan cara berpikir gaya lama. Muhammadiyah sebenarnya memiliki cara untuk menhindari hal ini, yakni dengan menetapkan diri sebagai organisasi tajdid. Persoalannya tajdid yang diharapkan seolah-olah kehilangan kekuatan dan menjadi tumpul. Persyarikatan ini kemudian terjebak dalam kejumudan, baik secara organisasional maupun personal yang terlibat di dalamnya. Kiai Dahlan sudah memberikan warning untuk situasi seperti ini, beliau berpesan bahwa “Muhammadiyah sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah muda-mudi warga Muhammadiyah menuntut ilmu pengetahuan  di mana saja. Jadilah guru kembali pada Muhammadiyah. Jadilah dokter, kembali kepada Muhammadiyah. Jadilah Meester, insinyur dan lain-lain, dan kembalilah kepada Muhammadiyah”.

Kelima, semangat berorganisasi semakin melemah. Kita mengetahui bagaimana semangat (ghirrah) untuk ber-Muhammadiyah ini semakin melemah. Jika dulu dalam kegiatan-kegiatan persyarikatan terasa sekali semangat baik dari pengurus, anggota, maupun simpatisan Muhammadiyah, sekarang ini kegiatan persyarikatan lebih banyak dilakukan oleh dan untuk pengurus saja. Kegiatan Muhammadiyah dan ortom terasa masuk semakin ekslusif, bukan lagi terbuka.

Keenam, kompetitor makin kuat tetapi dianggap selepe oleh pimpinan organisasi. Tidak hanya pada organisasi bisnis, pada organisasi sosial pun terdapat kompetisi. Munculnya beberapa organisasi sosial baik di tingkat lokal, regional, maupun nasional yang lebih efektif dalam mencapai tujuannya seringkali tidak direspon sebagai kompetitor atau dianggap sepele saja oleh pimpinan persyarikatan. Pimpinan Muhammadiyah dan ortom terbelenggu oleh nama besar organisasi tapi berpotensi lupa pada efektifitas kinerja.

Ketujuh, munculnya perangkap organisasi (organizational trap). Dalam konteks Muhammadiyah, organizational trap ini mewujud misalnya dalam hal bergesernya orientasi dari pelayanan sosial ke kepemilikan provit (laba). Meski belum sepenuhnya, namun muncul gejala pergeseran ini, Muhammadiyah dan ortomnya cenderung mengabaikan kepentingan publik yang seharusnya dilayani sebagai pelanggan dari organisasi sosial, tapi memprioritaskan kegiatan yang mendatangkan keuntungan finansial.

Ketujuh perilaku organisasi di atas tampaknya mulai menjangkiti persyarikatan kita. Ditambah dengan satu perilaku tambahan yang menandakan masuknya organisasi dalam siklus kemunduran, yakni tidak disadarinya kemunduran itu sendiri. Di tubuh persyarikatan kita, meski kritik akan kejumudan dan kemunduran ini muncul baik dari internal maupun eksternal, namun respon terhadap kritik ini tidaklah sebesar yang diperlukan agar terwujud siklus kelahiran kembali (reborn).

Siklus Kelahiran Kembali

Pada Muktamar ke-45 di Malang telah muncul pernyataan Jelang Satu Abad Muhammadiyah, dan ditajamkan dalam Muktamar ke-46 di Yogyakarta bahwa Muhammadiyah Abad Kedua harus lebih memperhatikan dimensi tajdid gerakan. Pernyataan ini sebenarnya cukup strategis dalam usaha membawa persyarikatan yang sudah cukup tua ini menuju siklus kelahiran kembali. Beberapa aspek yang perlu perhatikan, diantaranya adalah restrukturisasi dan evaluasi.

Restrukturisasi terutama ditujukan pada bagian-bagian tertentu yang mencapai efektifitas kinerja yang diharapkan, baik secara struktural maupun personal. Evaluasi dilakukan pada aspek orientasi dan reposisi, bagaimana persyarikatan ini memahami tujuan dan posisinya di tengah situasi dan kondisi global kontemporer dan bagaimana Muhammadiyah menempatkan masyarakat sebagai kelompok tujuannya. Hal yang tidak kalah penting adalah diterapkannya gaya kepemimpinan baru yang lebih kreatif, inovatif, dan berorientasi pada pembaharuan (transformasional/tajdid).

Ini adalah tugas bersama, bukan pimpinan pusat semata. Meski begitu, inisiatif dan sistemasi harus datang dari atas jika tidak maka ini hanya akan menjadi bualan saja.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 15, 2012 by in Persyarikatan and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: