Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Belajar Bersyukur

Ada sebuah kisah menarik yang diungkapkan penulis buku Why Good Things Happen to Good People (mengapa hal-hal baik terjadi pada orang-orang baik) Stephen Post, Ph.D. Ia menceritakan pengalamannya saat masih menjadi seorang pemuka agama. Ia mendapat tugas menjenguk salah seorang temannya di rumah sakit.

Saat memasuki kamar si pasien itu, satu sambutan dengan antusiasme tinggi dan wajah gembira diterimanya. Pasien itu berkata, “saat tiba di rumah sakit, saya sudah mempersiapkan diri untuk diamputasi satu kaki. Saya sudah tahu bahwa saya akan kehilangan satu kaki. Tapi setelah tinggal di rumah sakit, baru saya tahu bahwa kaki saya harus dipotong kedua-duanya.”

Stephen berdiri membisu menerima kata-kata itu. Ia bingung harus berkata apa. Segala pelatihan yang ia dapatkan tentang bagaimana memberi nasehat kepada orang yang terkena musibah seakan tidak berguna dalam kondisi seperti itu. Melihat Stephen terdiam, si pasien menatapnya dan berkata lagi, “Selama ini saya terbaring di sini sambil membayangkan segala perbuatan menyenangkan yang bisa saya lakukan dengan kedua tangan saya saat pulang dari rumah sakit.”

Si pasien melanjutkan ucapannya, “sejak kecil saya sudah belajar menjahit, merajut, merenda, memasak, dan melakukan banyak hal dengan kedua tangan saya. Mungkin saya akan memanggang kue untuk anda.”

Stephen terdiam dan tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan sahabatnya yang tulus di tengah musibah yang ia alami. Kenyataan bahwa kedua kakinya diamputasi tidak membuat temannya itu patah semangat dan memaki takdir kehidupannya. Yang luar biasa, si pasien itu tidak membiarkan kekurangannya sebagai orang yang tidak memiliki kaki mencabut kebahagiaannya dalam mengarungi hidup ini sebagai orang yang selalu bersyukur. Si pasien berfokus pada “apa yang bisa ia lakukan”, bukan pada “apa yang tidak bisa ia lakukan”. Fokus pada “apa yang bisa kita lakukan” inilah yang kini menjadi perspektif psikologi positif yang digagas Martin Selligman, presiden Assosiasi Psikolog Amerika beberapa tahun terakhir.

Mudah bagi kita memberikan nasehat kepada orang lain untuk selalu berpikir positif, tapi tidak akan semudah itu jika kita sendiri yang mengalami musibah itu. Saat kita mengalami musibah, kita cenderung terpenjara dalam kesedihan dan melupakan bahwa masih terlalu banyak anugerah kehidupan yang kita abaikan yang kita terima dari Tuhan. Banyak rahmat yang masih harus kita syukuri.

Cerita di atas mengajari kita satu hal lain: menyukuri nikmat tidak berhenti pada tataran ucapan. Cara menyukuri nikmat yang terbaik adalah dengan melakukan hal-hal baik dengan nikmat itu sehingga membawa dampak kebaikan baik bagi kita maupun bagi orang-orang di sekitar kita. Kita mendapat nikmat berupa “tangan yang normal” maka cara menyukurinya adalah menggunakan nikmat “tangan normal” itu untuk kegiatan baik yang membawa dampak baik. Kita mendapat nikmat “ilmu” maka cara kita menyukurinya adalah dengan menggunakan “ilmu” itu untuk hal-hal baik yang berdampak baik pula.

Yang dimaksud dengan berdampak baik itu tidak hanya bagi diri kita pribadi, tapi juga bagi orang lain. Meski pada akhirnya kebaikan kita pada orang lain itu akan kembali kepada diri kita lagi dalam bentuk kebaikan yang lain. Maksudnya, sebuah kebaikan jika kita lakukan pada orang lain maka ia dan kita akan mendapat manfaatnya. Tapi jika kebaikan hanya untuk kita sendiri maka hanya diri kita sendiri yang merasakan manfaatnya.

Rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan-perbuatan baik didorong oleh keinginan untuk memberikan manfaat bagi makhluk sekitarnya. Inilah yang ingin didorong oleh Islam dalam prinsip “rahmatan ‘lil ‘alamin”, bagaimana manusia menyukuri nikmat Allah swt dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang tidak egoistis, tapi universal.

Menyukuri rahmat dengan berfokus pada apa yang bisa kita lakukan, tidak akan terealisasi jika kita terlalu terbelenggu oleh kekurangan kita. Nasehat yang bagus dari Mario Teguh si motivator ulung itu, “Berhentilah membandingkan kekurangan kita dengan kelebihan orang lain.” Memang bagi pribadi yang kerdil, kelebihan orang lain membutakan kita akan kelebihan diri kita sendiri. Kesenangan orang lain dalam satu hal membutakan kita akan kesenangan kita sendiri dalam hal lain. Keberuntungan orang lain dalam satu bentuk membutakan kita akan keberuntungan kita sendiri dalam bentuk lain.

Seperti si pasien di atas, saat kita kehilangan salah satu rahmat, mari beralih kepada rahmat yang lain. Tidak perlu meratapi kehilangan itu. Kalau kita kehilangan harta, mari kita bersyukur bahwa masih ada keluarga yang mencintai kita setulus hati mereka. Kalau kita kehilangan orang yang kita cintai, mari kita bersyukur terhadap rahmat kesehatan kita. Kalau kita kehilangan kuasa, mari kita bersyukur terhadap rahmat iman kita.

Terakhir, saya teringat sebuah kalimat yang saya sukai: “Kenyataan bahwa kita diberi kesempatan mencicipi kehidupan ini oleh Tuhan, adalah sebuah keajaiban. Mari kita syukuri keajaiban itu dengan berkarya.” Meminjam lirik Mas Iwan dalam lagunya Kuda Coklatku, “Hidup memang sementara tapi karya selamanya, yok berpacu mengisi waktu meraih cita-cita.”[].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 15, 2012 by in Humanis and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: