Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Zakat dan Ukhuwah Islamiyah

Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan merasakan nikmatnya Ramadhan, bulan mulia yang jika kita berhasil menjalaninya bisa menjadikan kita manusia bertakwa (muttaqin). Salah satu ciri manusia muttaqin seperti tersebut dalam al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 1-5 adalah menginfaqkan sebagian rizki yang diberikan Allah SWT kepadanya. Hal ini kemudian ditegaskan dalam surah Ali Imran ayat 133-135 bahwa dalam menginfaqkan harta itu tidak hanya dalam kondisi lapang, tapi juga dalam kondisi sempit.

Dalam Islam, dikenal beberapa sebutan untuk perilaku memberi selain kata infaq, yakni zakat dan shadaqah (sedekah). Dalam kaitannya dengan dua kelompok ayat yang tersebut di atas, zakat dirujukkan pada infaq yang wajib sedangkan shadaqah adalah infaq yang sunnah. Perilaku memberi ini (zakat, infaq, dan shadaqah) disebut sebagai bentuk kedermawanan/ filantropi Islam (islamic fillantrophy). Dalam kesempatan ini, kita tidak membicarakan dimensi fiqih dari bentuk-bentuk kedemawanan ini, namun akan kita kaitkan dengan ukhuwah Islamiyah (islamic brotherhood).

Berdasarkan penelitian FEM-IPB dan Baznas tahun 2011, total potensi zakat nasional sebesar 217 triliun yang berasal dari zakat rumah tangga, industri swasta, dan industri negara (BUMN). Khusus di Jawa Timur, potensi zakatnya menduduki urutan tertinggi kedua secara nasional dengan 15,49 triliun. Jumlah ini cukup besar jika benar-benar bisa tercapai. Bahkan potensi ini bisa menjadi lebih besar lagi jika ditambah dengan potensi shadaqah, baik shadaqah biasa maupun yang lain semacam wakaf. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa potensi dana umat ini sangat besar sekali.

Sayangnya sampai sekarang potensi dana umat ini belum tergarap secara maksimal. Kurangnya kesadaran masyarakat muslim dan masih belum maksimalnya manajemen zakat pada lembaga pengelola zakat pada umumnya, menjadi faktor yang menyebabkan belum tergarapnya potensi ini secara serius. Bahkan beberapa kasus penipuan berkedok lembaga zakat yang terjadi beberapa waktu lalu ikut mencoreng nama lembaga pengelola zakat dan membuat masyarakat enggan menyalurkan infaqnya secara terlembaga. Mereka jadinya mendistribusikan infaq mereka sendiri-sendiri, secara sporadik, dan tidak terkontrol. Kita tentu tahu bahwa setiap tahun menjelang lebaran, selalu saja ada kasus terkait pembagian infaq orang-orang tertentu yang tidak menyalurkan infaqnya melalui lembaga yang terpercaya (kredibel).

Bukti kurang maksimalnya pengelolaan dana umat ini adalah masih rendahnya angka penerimaan zakat dibandingkan dengan potensi keseluruhan. Misalnya saja penerimaan zakat salah satu lembaga nasional selama tahun 2010 hanya sekitar 1,5 triliun, sangat mungkin pada lembaga-lembaga lain jumlahnya sama atau lebih rendah dari itu. Padahal jika potensi ini tergarap baik tentu sangat banyak perbaikan dan manfaat yang bisa kita dapatkan.

Rendahnya penerimaan dana umat ini setidaknya bisa kita jadikan ukuran rendahnya kualitas ukhuwah Islamiyah kita, karena ukhuwah Islamiyah bukanlah sekedar hubungan identitas, namun bersifat menyeluruh. Ukhuwah Islamiyah mengikat keseluruhan manusia yang satu iman dalam jaringan organik yang erat. Dalam bahasa hadits, ikatan ini bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan (yashuddu ba’dhuhu ba’dhan).

Dalam kajian kontemporer, manusia dikatakan sebagai makhluk yang membangun jaringan (homo dyctious). Ia tidak bisa hidup tanpa terikat pada yang lain. Keterikatan ini terjadi secara alami, begitu ada komunitas yang terbentuk karena sebuah kesamaan maka otomatis jejaring juga terbentuk. Dalam konteks Islam, jejaring ini terbentuk karena manusia muslim beriman pada Tuhan yang sama. Logikanya, jika setiap muslim “terhubung” dengan Tuhannya, maka ia juga terhubung dengan muslim yang lain melalui Tuhannya itu, membentuk bangunan jejaring yang dalam hadits diibaratkan sebuah bangunan (kal bunyanun).

Banyak penelitian dan buku yang menguraikan pentingnya jejaring kehidupan ini. Profesor Christakis dalam bukunya Connected menyatakan bahwa dalam jejaring bisa menyebar banyak hal: mulai dari emosi, penyakit, hingga kekayaan. Inilah yang diinginkan Islam dengan adanya ukhuwah Islamiyah, bahwa hubungan antar umat tidak sekedar hubungan identitas, tidak sekedar kita sama-sama bertuhan yang sama. Namun yang lebih penting adalah: Apa yang terjadi dalam hubungan itu?. Kembali pada pembahasan mengenai infaq, zakat, dan shadaqah, jika semua umat muslim menjalankan kedermawanan/ filantropi ini sesuai dengan perintah dalam al-Qur’an, yakni berinfaq tidak hanya dalam kondisi lapang namun juga dalam kondisi sempit, bisa kita bayangkan betapa besar kekuatan jejaring umat Islam (ukhuwah Islamiyah) ini. Tanpa dikuatkan dengan penyebaran semacam ini, ukhuwah Islamiyah hanya menjadi sekedar hubungan identitas yang rentan kehilangan maknanya.

Persoalannya bagaimana mewujudkan hal itu? tentu kita harus tetap optimis. Secara kultural umat Islam harus terus disadarkan mengenai pentingnya kedermawanan dan fungsi kedermawanan itu terhadap jejaring ukhuwah Islamiyah. Secara struktural lembaga-lembaga pengelola dana (LAZIS) juga perlu membenahi sistem agar pengelolaan zakat secara terlembaga bisa lebih optimal.

Kajian-kajian terbaru mengenai perilaku berbuat baik kepada orang lain (altruisme) seperti dalam buku Freakonomics atau the Logic of Life dalam pendekatannya secara ekonomi terhadap perilaku manusia menyatakan bahwa selalu ada logika untung-rugi pada semua tindakan, dan perbuatan baik akan terjadi jika perbuatan itu tidak membuat susah pelakunya. Lembaga-lembaga semacam LAZIS perlu semakin mempermudah cara orang memberikan infaq, karena bisa jadi rendahnya penerimaan infaq selama ini bukan karena umat muslim tidak mau berinfaq, tapi hanya karena tidak ada mekanisme yang mudah dalam menyalurkannya.

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern dengan LAZISMU-nya harus menjadi pioner, sebagaimana dulu Kiai Haji Ahmad Dahlan menjadi pengusul awal perlunya pengelolaan zakat pada masa kolonial. Mari bergerak bersama, karena Zakat Itu Hebat!.[]

—————————————-

*)Wk. Sekretaris PD. Pemuda Muhammadiyah Gresik

2 comments on “Zakat dan Ukhuwah Islamiyah

  1. Niko
    August 4, 2011

    Mohon Info Badan Zakat yang sudah kredible

    • afkareem
      August 5, 2011

      DI Kota mana? kalau bisa cari lembaga yang berskala nasional tapi punya cabang lokal sehingga peruntukan dana bisa untuk masyarakat di sekitar anda. Ada banyak lembaga yang sudah populer, tidak etis kalau saya mengunggulkan satu dari yang lain. Tapi secara pribadi saya berafiliasi dengan LAZISMU, lembaga Zakat yang dikelola Muhammadiyah. DI Kabupaten Gresik ada, kantornya di kantor Muhammadiyah Gresik Jl. Jawa No. 30 Gresik. Telp: 031-3952484.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 2, 2011 by in Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: