Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Menggiatkan Baca-Tulis di Sekolah

Sekolah mungkin lembaga akademik, tapi dalam kenyataannya budaya akademik itu tidak akan banyak kita temui, atau setidaknya tidak akan sekental seharusnya. Yang saya maksudkan adalah sulitnya meningkatkan salah satu aktifitas ciri utama budaya akademik: membaca dan menulis. Jika anda menolak pernyataan ini, saya yakin alasannya adalah: warga sekolah selalu membaca dan menulis setiap hari, membaca buku pelajaran dan menulis tugas belajar/ kerja. Tapi bukan itu yang saya maksudkan dengan membaca dan menulis. Budaya akademik membaca dan menulis disini adalah membaca buku non-pelajaran dan menulis non-tugas.

Sulitnya meningkatkan budaya membaca dan menulis ini, paling banyak—menurut saya, dikarenakan tidak adanya keinginan, perencanaan, dan contoh yang baik dari dua pihak paling sentral dalam pembentukan kultur sekolah: guru dan pimpinan lembaga. Meski ada beberapa dari guru dan pimpinan lembaga pendidikan yang suka membaca, menulis, atau keduanya, namun sedikitnya jumlah itu membuat belum kuatnya keteladanan bagi siswa untuk aktif membaca dan menulis.

Jika kita semakin cermat, kita akan semakin merasa ironis. Berapa banyak kepala sekolah yang benar-benar mempelajari manajemen pendidikan atau Balance Scorecard melalui membaca—ini penting karena sebagian besar kepala sekolah tidak studi yang relevan dengan bidangnya—dengan membaca buku? berapa banyak petugas kurikulum yang membaca buku inovasi, metode terbaru, dan perkembangan pembelajaran? Berapa banyak petugas kesiswaan yang membaca buku kriminologi atau benchmarking? Berapa banyak petugas sarana prasarana yang membaca buku Environtmental Management atau  image building? Berapa banyak petugas Humas yang membaca buku tentang Marketing Communication, Branding, Public Relation, atau Komunikasi Massa? Dan juga berapa banyak bendahara sekolah yang membaca buku kewirausahaan?

Agama kita mengajarkan prinsip: jika sesuatu diserahkan pada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya. Membaca—dan menulis, tentunya—adalah salah satu cara paling efektif bagi seseorang menjadi ahli (bahkan, inilah inti sekolah dan kuliah).

Tidak hanya pimpinan sekolah, budaya membaca-menulis juga perlu kita akui kurang pada pendidik. Sertifikasi guru—dengan satu efek utama yang paling diinginkan: tambahan insentif—yang diklaim bisa meningkatkan performa guru, juga tidak banyak berpengaruh menjadikan guru lebih mau membeli buku. Saya sangat membayangkan—misalnya—guru sosiologi mendiskusikan buku Connected-nya Nicholas Christakis dan James Fowler, atau Never Eat Alone-nya Keith Ferrazzi, atau guru Matematika yang mendikusikan buku Biografi Angka Nol-nya Charles Seife, atau guru Ekonomi mendiskusikan buku Freakonomic, dan—lanjutannya—Super Freakonomic-nya Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner., atau guru Biologi mendiskusikan wacana Ecological Intelligence­-nya Daniel Goleman, bahkan guru-guru agama yang antusias memperdebatkan The Scapegoat Theory-nya Rene Girard yang sangat menohok agama.

Ini sekedar contoh, intinya guru-guru yang mengupdate pengetahuannya dengan membaca buku adalah guru-guru pembelajar sejati. Apa jadinya jika guru hanya mengajarkan kepada siswa pengetahuan yang didapatkannya 5-20 tahun lalu? Maka semua pelajaran di ruang kelas kita adalah pelajaran sejarah. Bagaimana siswa bisa memahami dunia dewasa ini jika materi pelajarannya sendiri ketinggalan dan tidak representatif lagi menggambarkan dunia yang terus berubah semakin cepat. Karena kita tidak bisa mengharapkan kesadaran membaca pada siswa akan tinggi dengan sendirinya, maka tidak ada jalan lain selain memberikan keteladanan, dan kegiatan dan sarana pendukung.

Saya ingat ketika  masih sekolah kelas 2 SMA, kelas kami berbuat agak nyeleneh dengan berlangganan sendiri koran untuk teman-teman sekelas. Tidak hanya satu, tapi dua koran, dengan mengambil uang kas kelas demi membaca tanpa berebut di perpustakaan sekolah. Kegiatan membaca itu akhirnya melahirkan kegiatan menulis: menerbitkan majalah kelas, bahkan saat pihak sekolah belum mampu menerbitkan majalah sekolah—meski akhirnya diakuisisi sekolah dan mendapat predikat juara umum majalah sekolah dalam Olycon tahun kemarin.

Kultur membaca-menulis seperti itu seharusnya tidak kita tunggu kedatangannya seperti kita menunggu datangnya hujan. Ia perlu diciptakan. Ia perlu diarahkan agar benar-benar terealisasi dan muncul dari usaha yang terencana dan sistematis, bukan spontan dan sporadis. Jika naif apabila kita berharap semua guru menjadi teladan, maka cukup logis jika kita berharap beberapa pihak mau menjadi trigger-nya.  Beberapa pihak yang saya maksud adalah pimpinan sekolah, guru bahasa, dan pengelola perpustakaan.

Pimpinan sekolah perlu merumuskan strategi demi terciptanya budaya akademik membaca-menulis. Baik yang sifatnya tampak, seperti lomba, atau sifatnya tersembunyi seperti sanksi membaca-menulis bagi siswa pelanggar atau mendirikan penerbitan. Guru bahasa perlu lebih kongkrit mengarahkan kemampuan membaca-menulis siswa. Saya membaca beberapa tugas siswa seperti cerpen, puisi, resensi, bahkan opini, sangat layak jual. Terakhir, pengelola perpustakaan perlu menyediakan buku-buku bermutu, tidak hanya buku pelajaran yang itupun dari sumbangan negara, dan sesekali perlu diadakan bedah buku.

Membaca adalah jendela dunia, begitu guru-guru sering berkata. Jadi, tolong jendela itu jangan sekedar ada. Ia jangan dikunci dari dalam. Buka, dan siswa akan menyaksikan apa yang terjadi sekarang.[]

Baca juga: Peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 17, 2011 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: