Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Menimbang modernitas Muhammadiyah

MUhammadiyah yang didirikan KIai Haji Ahmad Dahlan pada tahun 1912 yang lalu banyak disebut sebagai organisasi Islam modern (Islamic Modern Organization). Memang jika kita melihat gerakan Muhammadiyah periode awal (1912) hingga pertengahan (dekade 1970-an) sebutan sebagai organisasi Islam modern masih layak disandang, namun jika kita menafsir ulang modernitas gerakan Muhammadiyah agaknya sebutan itu sudah tidak cukup pantas lagi disematkan. Gerakan Muhammadiyah layaknya gerakan Islam lain bukannya mengikuti modernitas, namun dalam banyak hal justru melawan modernitas itu sendiri.


Pada periode awal Muhammadiyah, karakteristik gerakan Islam modern begitu kental pada aktifitas dan aktivis Muhammadiyah. Sebut saja konsep pendidikan yang diselenggarakan Kiai Dahlan mengadopsi pendidikan model Barat dengan penggunaan bangku dan materi pelajaran. Model pakaian yang dikenakan para Hoofbestur Muhammadiyah meniru model pakaian priyayi-menengah pengurus Budi Utomo. Bacaan Kiai Dahlan adalah buku-buku berabjad latin disamping buku karya ulama klasik. Bahkan secara struktural, pembentukan organisasi dengan pembagian wewenang (job description) yang jelas juga bukan tradisi konvensional. Agaknya pada masa ini Muhammadiyah benar-benar menjadi pelopor gerakan Islam modern, apalagi dalam konteks peradaban Indonesia–khususnya Jawa–yang masih tradisional.

Muhammadiyah periode pertengahan masih bisa mengklaim modernitas ini. Pendirian Rumah Sakit, misalnya, adalah bentuk modernitas Muhammadiyah yang juga meniru model Barat. Tata administrasi Muhammadiyah sempat diakui sebagai tata administratif yang rapi. Pengembangan struktur organisasi mulai dari pimpinan pusat (selevel presiden) hingga pimpinan ranting (selevel Kepala Desa), dengan banyak sayap organisasinya bisa dikatakan sebagai “negara bayangan” Indonesia. Secara kasar bisa dikatakan struktur Muhammadiyah menyamai struktur negara modern.

Namun ditengah perkembangan modernitas saat ini yang sangat ekspansif, agaknya modernitas Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan layak dipertanyakan. Ibarat perkembangan manusia, organisasi ini sedemikian tua dan lamban, jika tidak dilakukan restrukturisasi dan rekulturisasi, boleh jadi Muhammadiyah bukan lagi gerakan Islam modern namun menjadi gerakan Islam tradisional. Beberapa bukti mundurnya modernitas Muhammadiyah ini misalnya; (1) Muhammadiyah secara umum tidak “cerdas-teknologi”. Pemanfaatan teknologi informasi tidak dilakukan, terutama untuk mendukung proses administrasi. Proses surat-menyurat masih konvensional: menggunakan surat fisik, bukan surat elektronik. Akibatnya tidak hanya inefisiensi (pemborosan) tapi juga inefektifitas (ketidaktepatan). (2) Aktivis Muhammadiyah lebih banyak yang “buta-informasi”, jika dulu bacaan Kiai Ahmad Dahlan adalah buku-buku karya ulama kontemporer di zamannya, maka sekarang sedikit diantara aktifis Muhammadiyah yang membaca buku-buku karya “ulama” atau penulis kontemporer, sebagian besar cenderung hanya pada karya ulama klasik. (3) Isu-isu yang diusung persyarikatan ini semakin ketinggalan zaman dan tidak responsif. Dulu, begitu Kiai Dahlan melihat model pendidikan Barat, ia langsung bergerak mengadopsinya. Begitu ia melihat monopoli dalam urusan Haji, ia berinisiatif membentuk pemberangkatan Haji sendiri. Namun kini isu-isu kontemporer tidak banyak direspon Muhammadiyah, Global Warming, Krisis Energi, Krisis Pangan, Ekonomi Syariah, misalnya, bukanlah agenda penting persyarikatan ini padahal masalah ini sungguh mengancam.

Meski ada beberapa gagasan, namun belum menjadi arus pemikiran utama di Muhammadiyah. Jika persyarikatan Muhammadiyah ingin tetap eksis sebagai organisasi Islam modern, maka respon terhadap persoalan kontemporer harus diseriusi. Termasuk pendekatan pemecahan masalah juga boleh jadi berbeda antara masa kini dengan masa Muhammadiyah awal, meski yang jelas, karakter “man in action” Kiai Ahmad Dahlan masih menjadi konsep yang tetap relevan.

Sejak awal, Muhammadiyah mengambil posisi sebagai gerakan pembaharuan (modernisasi) dalam bidang muammalah. Namun mengambil posisi purifikasi dalam bidang aqidah. Bukan sebaliknya, bukan pula pencampuradukan (over-lapping). Sejauh menyangkut urusan dunia, maka modernisasi perlu dilakukan. Tapi sejauh menyangkut akidah, maka purifikasi yang. harus diutamakan.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 14, 2011 by in Persyarikatan.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: