Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Meneguhkan Peran Majelis Pendidikan

Hingga akhir tahun 2010 ini, jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah lebih dari 7.300 dari pendidikan usia dini hingga pendidikan menengah, ditambah 168 lebih perguruan tinggi. Jumlah ini mungkin menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi masyarakat yang mengelola lembaga pendidikan paling banyak di dunia. Namun kita semua sudah mengetahui, jika ditilik dari sisi kapasitas kompetitifnya hanya satu-dua dari sekian ribu lembaga pendidikan Muhammadiyah yang bisa diandalkan.

Rendahnya kualitas pendidikan Muhammadiyah pada umumnya dikarenakan “salah urus”. Sebagian besar sekolah Muhammadiyah tidak memiliki program peningkatan mutu dan manajemen yang visioner. Sekolah-sekolah ini lebih cenderung mendasarkan pelaksanaan belajar-mengajarnya hanya sebagai “sarana dakwah” dan “benteng ideologi” semata. Bukan berarti ini salah, hanya saja kurang tepat dan kurang relevan dalam konteks kemajuan zaman yang memiliki konsekuensi iklim kompetisi yang berat seperti sekarang ini.

Kelemahan manajemen seperti ini bagaikan bom waktu. Kita tentu tidak ingin ribuan sekolah Muhammadiyah tersebut menjadi seperti “SD Muhammadiyah Belitong” seperti dalam film Laskar Pelangi yang sukses mendidik sebagian kecil muridnya namun kini sudah tidak bernyawa lagi.

Sudah saatnya persyarikatan memikirkan persoalan “kualitas pendidikan” dan tidak hanya terpaku pada keunggulan “kuantitas pendidikan”. Sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah adalah lembaga penyedia jasa layanan pendidikan swasta, artinya kita harus berfokus pada mutu pelayanan jika tidak ingin tersingkir dari persaingan. Di era sekarang ini, pendidikan tidak bisa hanya didekati dengan pendekatan kegiatan sosial, namun juga dengan pendekatan lain yang lebih bisa memacu dan memicu peningkatan mutunya.

 

Standar Pendidikan Muhammadiyah

Satu hal yang menjadi kendala dalam operasionalisasi pendidikan Muhammadiyah adalah bahwa persyarikatan kita tidak memiliki standar mutu pendidikan Muhammadiyah. Beberapa peraturan yang ada mungkin hanya menyebutkan persyaratan untuk hal-hal yang sempit, seperti mekanisme pengangkatan dan pemberhentian. Selebihnya—terutama dalam bidang manajemen—belum ada.

Misalnya saja dalam melaksanakan sistemasi manajemen, kami sering mengalami kesulitan mengidentifikasi kekhasan pengaturan dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah. Tidak ada penekanan-penekanan terhadap standar yang diwajibkan oleh persyarikatan agar amal usaha terbesarnya ini bisa tetap survive. Hampir semua persyaratan dan peraturan dalam sistemasi manajemen lembaga pendidikan menggunakan standar yang sama dengan lembaga pendidikan di luar Muhammadiyah.

Jika membandingkan dengan standar nasional pendidikan (SNP) yang dikeluarkan pemerintah saja kita sudah kalah pengaturan. Contohnya ada standar isi, standar penilaian, standar kompetensi lulusan, standar proses, standar pengelolaan, standar sarana prasarana, standar pendidik dan tenaga kependidikan dan  standar pembiayaan. Belum kami temui penambahan standar dari setiap standar tersebut dari persyarikatan. Jika standarnya saja tidak ada atau sama yang digunakan sedangkan resource sekolah lain lebih baik, tentu wajar saja sekolah Muhammadiyah kalah bersaing.

 

Penjaminan Mutu

Jika dalam dunia industri sudah sedari dulu dikenal adanya Quality Control (dan sekarang Quality Assurance-penjaminan mutu) maka lembaga pendidikan pun membutuhkannya. Kontrol kualitas atau penjaminan mutu ini memastikan bahwa tiap proses yang dilakukan selalu diukur dan terus-menerus ditingkatkan efektifitasnya (continously improvement). Penjaminan mutu ini juga memastikan berbagai hal sudah diperhatikan agar sebuah institusi bisa menghadirkan pelayanan yang bermutu.

 

Dalam bidang pendidikan, selain menggunakan standar nasional pendidikan yang dikeluarkan pemerintah, beberapa lembaga pendidikan banyak mengadopsi sistem manajemen mutu dan standar kualitas berskala internasional dari negara-negara maju. Misalnya saja Quality Management System ISO 9001:2008 yang implementasinya dipedomani oleh International Workshop Agreement (IWA) 2:2007 Guidelines for The Application of ISO 9001:2000 in Education atau Education Criteria for Performance Excellence The Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA) dari USA namun banyak dipakai di negara-negara Organisation for Economic and Co-Operation Development (OECD).

Dalam IWA disebutkan bahwa untuk menjamin mutu, lembaga penyedia layanan pendidikan harus memperhatikan beberapa aspek, yakni: (1) pendekatan proses, (2) fokus pada pelanggan, (3) optimisasi total (pendekatan manajemen), (4) kepemimpinan visioner, (5) pendekatan faktual, (6) kolaborasi dengan mitra, (7) ketelibatan orang, dan (8) perbaikan berkelanjutan. Sedangkan menurut MBNQA setidaknya ada 7 hal: (1) kepemimpinan, (2) perencanaan strategis, (3) fokus pada pelanggan, (4) pengukuran, analisa, dan pengetahuan manajemen, (5) fokus tenaga kerja, (6) proses manajemen, dan (7) hasil.

Dari dua standar dan pedoman internasional di atas, ada beberapa yang bisa menjadi perhatian kita, yakni kepemimpinan, manajemen, perencanaan, dan pengukuran. Mengapa 4 hal ini yang perlu diperhatikan persyarikatan? Karena poin-poin yang lain lebih tepat dilakukan oleh pihak pelaksana pendidikan (pimpinan sekolah). Kaitan 4 poin yang sudah saya sebutkan dengan peran serta majelis akan kami uraikan di bawah ini.

 

Meneguhkan Peran Majelis Pendidikan

Sudah waktunya kita sebagai aktifis persyarikatan bersikap jujur, bahwa rendahnya kualitas pendidikan—salah satu, namun yang paling utama—dikarenakan rendahnya kinerja majelis pendidikan kita. Mengapa bisa terjadi karena (1) tidak tersistemasinya penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyah, dan (2) kurangnya kapabilitas majelis pendidikan, terutama dalam manajemen pendidikan. Saya tidak akan membicarakan poin (2), namun disini yang lebih utama adalah poin (1).

Disebutkan dalam “Pedoman Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah” bab III pasal 3 bahwa “Majelis tingkat pusat sampai dengan cabang berfungsi sebagai penyelenggara amal usaha…meliputi: (a) pembinaan ideologi…(b) perencanaan, pengorganisasian, pembimbingan, pengkoordinasian, dan pengawasan…(c) peningkatan kualitas dan kuantitas…(d) pengembangan kualitas dan kuantitas…(e) penelitian dan pengembangan…,dan (f) penyampaian masukan kepada pimpinan persyarikatan…”

Sudah sangat jelas disebutkan dalam pedoman ini bahwa kualitas dan sistem manajemen pendidikan Muhammadiyah harus diperhatikan oleh majelis pendidikan. Selama ini majelis pendidikan kurang berdaya dalam meningkatkan kualitas amal usaha bidang pendidikan. Implementasi masing-masing fungsi yang sudah disebutkan di atas harus mulai dilakukan, mulai dari majelis pendidikan tingkat pusat sampai majelis pendidikan tingkat cabang/ranting.

Sekali lagi, sebelum implementasi itu dilakukan majelis pendidikan harus melakukan sistemasi terlebih dahulu agar proses kerjanya bisa berjalan lebih mudah. Sistemasi itu bisa dilakukan diantaranya dengan membuat standar, pedoman, dan panduan pendidikan Muhammadiyah.

Tentu masih banyak yang harus dibicarakan lebih lanjut mengenai peneguhan (dan pemberdayaan) peran serta majelis pendidikan yang lebih aktif-partisipatif dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan Muhammadiyah bisa dilakukan.

Muhammadiyah sekarang ini sudah menjadi  organisasi nasional, bahkan internasional. Sudah seharusnya pula berbagai organisasi otonom dan amal usahanya juga berdaya saing internasional. Jika tidak dilakukan sistemasi dan pemberdayaan para aktifis serta pimpinannya, maka mustahil ini bisa dilakukan. Terlambat memang, tapi justru karena itu secepatnya harus dilaksanakan. []

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 7, 2011 by in Intelektual, Persyarikatan.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: