Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Menyikapi Fenomena Maridjan

Sejak berita kematian Raden Ngabehi Surakso Hargo bergelar Mas Penewu Suraksohargo atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan tersebar, banyak media dan tokoh yang memberikan apresiasi dan sanjungan terhadap sosok juru kunci Merapi ini. Banyak sanjungan dari berbagai perspektif yang muncul, ditambah pemberitaan besar-besaran terhadap Mbah Maridjan oleh penulis dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang salah pada masyarakat. Tulisan ini bermaksud memberikan perspektif lain dalam memandang fenomena Mbah Maridjan ini.

Oleh banyak orang, yang perlu ditiru dari sosok Mbah Maridjan adalah keteguhan hati dan komitmennya dalam menjalankan tugas. Sebagai juru kunci Merapi yang diangkat oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, laki-laki tua kelahiran 1927 di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman ini sempat membuat kontroversi dengan menolak peringatan pemerintah Yogyakarta, dalam hal ini Sultan HB X, untuk mengungsi yang mengakibatkan kematiannya.

Penolakan ini bukan yang pertama, waktu Merapi berguncang pada 1994 yang menewaskan 43 orang, ia juga menolak mengungsi, meski saat itu ia dan warga desanya selamat dari amukan Wedhus Gembel. Mbah Maridjan memilih bertahan dan menunggu wangsit dari Sultan HB IX.

 

Kearifan Lokal, Benarkah?

Sikap Mbah Maridjan sering diterjemahkan orang sebagai bentuk dari kearifan lokal (local wisdom). Dalam wacana keilmuan, kearifan lokal identik dengan penemuan tradisi. Eric Hobsbawm dan Terence Ranger (1983) dalam The Invention of Tradition menguraikan “invented tradition” sebagai seperangkat praktik, yang biasanya ditentukan oleh aturan-aturan yang berterima secara jelas atau samar-samar maupun suatu ritual atau sifat simbolik, yang ingin menanamkan nilai-nilai dan norma-norma perilaku tertentu melalui pengulangan, yang secara otomatis mengimplikasikan adanya kesinambungan dengan masa lalu.

Adanya kesinambungan norma dari masa ke masa ini, yang mewujud dalam ranah praksis berupa nilai-nilai yang dipegang teguh, keyakinan, maupun ritus-ritus tertentu di negara kita memang sangat kaya. Dalam banyak hal, kearifan lokal di Indonesia menyiratkan penghargaan atas “hubungan-hubungan” yang terjalin secara tak kasat mata antara manusia dan alam. Hubungan-hubungan ini sebagian besar “tersembunyi” namun realistis. Fritjof Capra, seorang filsuf dan fisikawan dalam bukunya The Hidden Connection memandang banyaknya kesaling-terhubungan antar bagian, sekecil apapun itu.

Dari sudut pandang ini, apa yang dilakukan Mbah Maridjan tidak bisa serta merta dipandang sebagai bentuk kearifan lokal secara penuh. Keyakinan Mbah Maridjan—dan warga sekitar yang mengamininya—bahwa manusia harus membangun hubungan yang selaras dengan alam, bahwa manusia harus sabar jika penguasa Merapi sedang “ewuh”, bahwa untuk meredam emosi penguasa Merapi harus dilakukan ritus-ritus tertentu memang bisa dimaklumi. Mircea Eliade dalam The Sacred and The Prophane (1857) menyatakan ini sebagai ciri manusia religius yang memandang kosmos sebagai bentuk Hierophany, pengejawantahan tuhan.

Namun pengabaian Mbah Maridjan terhadap masukan informasi dari pihak lain, bahkan himbauan pemerintah dan kesimpulan perhitungan ilmiah tidak bisa ditolerir. Apakah jika pemerintah menghimbau warganya untuk mengungsi agar selamat berdasar perhitungan ilmiah tidak termasuk local wisdom? Atau apakah yang dilakukan para petugas vulkanologi dan mitigasi bencana geologi berhadapan secara diametral dengan prinsip kearifan lokal masyarakat setempat?

 

Efek Negatif Pemberitaan

Pemberitaan mengenai Mbah Maridjan yang cenderung mengagungkannya juga dikhawatirkan menimbulkan efek negatif. Efek negatif pemberitaan ini—jika tidak dilakukan berimbang—akan memungkinkan penyebaran, jika bukan penyebaran perilaku maka penyebaran gagasan. Perilaku yang jangan sampai menyebar adalah perilaku klenik dan pemujaan terhadap “kekuatan alam”. Jika bukan perilaku yang menyebar, maka kemungkinan gagasan yang akan menyebar. Gagasan bahwa pemujaan terhadap kekuatan alam adalah wajar, gagasan bahwa pengabaikan terhadap himbauan pemerintah dimaklumi, gagasan bahwa ilmu pengetahuan kalah dengan “wangsit”. Hal yang disebut terakhir perlu kita perhatian.

Dalam perspektif perkembangan kebudayaan masyarakat dikenal tahapan mistis-ontologis-rasional. Tradisi yang dilakukan Mbah Maridjan untuk melakukan ritus jika Merapi bergolak merupakan ciri kebudayaan mistis, Kajian Vulkanolog merupakan ciri perilaku ontologis, sedangkan himbauan pemerintah adalah bentuk perilaku rasional. Ilmu pengetahuan, seperti kita ketahui bersama, muncul sebagai respon manusia terhadap alam. Jika gagasan bahwa “ilmu pengetahuan kalah dengan wangsit” menyebar, ini menjadi preseden buruk bagi perkembangan intelektual masyarakat. Agaknya pihak media perlu menyadari bahwa di masyarakat banyak gesekan antara sikap ilmiah dengan keyakinan mitologis. Pemberitaan mengenai Mbah Maridjan bisa menjustifikasi kebenaran sikap mistik.

Ini bukan berarti bahwa sosok Mbah Maridjan tidak memberi inspirasi bagi kita. Low Profile dan kesadarannya akan perlnya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam—dalam batas tertentu, tetaplah bisa kita ambil sebagai pelajaran. Tapi Mbah Maridjan tetaplah manusia, yang meski menjabat juru kunci tetap bisa salah. Kesalahan yang beresiko besar karena menyangkut nyawa manusia lain. Rosa…Rosa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 1, 2010 by in Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: