Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Fenomena Penukaran Uang

Mendekati hari raya Idul Fitri, di sekitar kantor Bank Indonesia dan seputaran Tugu Pahlawan bermunculan para pengais rizki dadakan. Mereka memanfaatkan keengganan orang menukar uang lama dengan uang baru langsung di bank. Biasanya jasa penukaran uang ini mematok perbandingan 10:9, artinya uang lama dihargai 90% dari nilai aslinya.

Pada beberapa tahun belakangan, jumlah “penjual uang” ini semakin banyak. Yang menjadi menarik adalah kini mereka tidak hanya beroperasi di kota besar, bahkan sekarang mereka sudah menghiasi  tepi-tepi jalan pinggiran kota kecil. Mengacu prinsip ekonomi pasar, penambahan jumlah jasa penukaran uang baru ini menunjukkan penambahan kebutuhan masyarakat untuk menukarkan uang lama mereka dengan uang baru.

Pertanyaannya mengapa ini terjadi? Jika kita telusuri hampir semua orang yang menukarkan uang lamanya dengan uang baru cenderung menggunakan uang itu untuk dibagi-bagikan kepada sanak saudara ketika mereka pulang kampung.

Studi mengenai uang dalam masyarakat yang populer terdapat dalam karya George Simmel, “Philosophie des Geldes” (Filsafat Uang). Bagi Simmel, uang bukanlah ‘substansi’ yang pada dirinya sendiri bernilai dan karenanya dapat ditukarkan dengan apa saja. Uang pada hakekatnya ialah relasi, yakni relasi pertukaran, yang diwujudkan secara jasmaniah. Uang, dengan kata lain ialah sebuah simbol dari relasi pertukaran.

Seseorang memberi uang kepada orang lain, tidak hanya untuk mengganti biaya jasa atau produk. Kadang uang yang diberikan itu merupakan simbol kompensasi, pertukaran “kewajiban sosial” yang tidak terpenuhi. Seseorang yang kewajiban sosialnya tidak terpenuhi cenderung menggantinya dengan sesuatu yang lain, terutama sesuatu yang dianggap bisa mensubtitusi.

Dalam fenomena penukaran uang yang kita bahas, hampir tidak ada motivasi orang menukar uang lamanya dengan uang baru dengan tujuan untuk digunakan membeli sesuatu bagi dirinya sendiri. Uang baru itu akan diberikannya kepada sanak keluarga yang jarang dijumpainya. Ini menunjukkan bahwa uang di sini bukanlah alat penukaran ekonomi semata, tapi juga pertukaran sosial.

Orang yang membagi-bagi uang baru secara sosial merasa tidak menunaikan sebagian kewajiban sosial mereka. Misalnya saja kewajiban mendidik dan bersosialisasi dengan anak-anak saudara mereka, atau anak-anak tetangga yang—menurut budaya masyarakat pedesaan—adalah sebuah kebutuhan.  Semakin maraknya penukaran uang menunjukkan fenomena pertukaran tanggungjawab sosial ini semakin meluas pula. Ini berarti bahwa kultur transaksional benar-benar terjadi pada masyarakat modern. Tidak hanya pada masyarakat perkotaan, tapi juga mulai mewabah pada masyarakat rural. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2010 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: