Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Homo Ludens

Johan Huizinga, seorang profesor, teoritisi budaya dan sejarahwan Belanda pada tahun 1938 menulis sebuah buku Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture. Dari buku itu kemudian populer istilah Homo Ludens untuk menyebut manusia sebagai “makhluk bermain”, makhluk yang suka bermain atau menciptakan permainan.

Huizinga bahkan menyatakan bahwa “Play is Older Than Culture”, bahwa permainan itu lebih tua dari kebudayaan. Terlepas dari kontroversi pernyataan itu, nyatanya dalam setiap komunitas baik primitif maupun modern selalu terdapat permainan sebagai bagian dari kebudayaan manusia, tiap zaman memiliki tipikal permainannya sendiri. Tentu saja, karena permainan adalah bagian dari kebudayaan, jenis permainan itu terkait erat dengan perkembangan budaya masyarakat setempat.

Saya tidak berniat untuk mengupas teori Huizinga. Namun saya ingin menunjukkan sebuah perubahan sosial budaya dilihat dari perubahan tipikal permainan yang ada dalam masyarakat. Fenomena pergeseran jenis permainan dalam masyarakat menjadi penting untuk dicermati mengingat pergeseran ini merupakan cermin dari perubahan sosial budaya masyarakat itu sendiri.

Ada semacam kegelisahan mengenai punahnya berbagai macam permainan tradisional. Tidak ada lagi kita lihat sekarang ini—terutama di masyarakat kota, dan mulai terjadi juga di masyarakat desa—anak-anak bermain “patek lele”, “gobak sodor”,”gatengan”,”petak umpet”, dan sejenisnya. Berbagai permainan tradisional itu berganti dengan permainan modern seperti “game komputer/online”, “Play Station”.

Jika kita cermati, pada permainan tradisional cenderung melibatkan banyak orang sedangkan dalam permainan modern tidak. Bahkan pada permainan modern, satu orang manusia bisa menjalankan permainan, karena lawannya adalah mesin, komputer. Pola permainan tradisional yang melibatkan banyak teman sebaya merupakan sarana sosialisasi yang baik: bagaimana mereka memahami karakter lingkungan sosialnya dari karakter masing-masing mitra bermain dalam permainan itu. Pola permainan tradisional mengandaikan interaksi dan interelasi antar manusia, sedangkan pada permainan modern interaksi dan interelasi itu disubtitusi dengan mesin. Ini kondisi yang banyak disebut dengan kondisi post-human.

Bahkan ada kecenderungan manusia modern (atau postmodern?) dengan segala pola kehidupannya yang sedemikian berorientasi material memandang bermain itu tidak produktif. Waktu dan tenaga yang digunakan untuk bermain dikatakan oleh mereka terbuang sia-sia. Daripada bermain, lebih baik digunakan untuk kerja, demikian agaknya prinsip kebanyakan manusia modern.

Sehingga sekarang ini, pola kebudayaan menjadi sedemikian kering. Pagi kerja sampai sore, pulang ke rumah masing-masing orang sudah punya sedemikian banyak agenda “yang tidak menyenangkan”. Praktis jarang sekali (jika bukan tidak ada) manusia modern bermain-main. Padahal, jika tesis Huizinga benar, maka ketiadaan permainan dalam kebudayaan modern berpotensi menghasilkan “ruang kosong” kebudayaan.

Dalam bahasa Al-Qur’an pada surat al-An’am ditegaskan bahwa kehidupan dunia ini adalah “permainan dan senda gurau”. Sudah jelas bukan? Permainan, bukan main-main! Dalam permainan tentu ada strategi, aturan, pemenang, pengalah, batas waktu. Tapi jangan lupakan unsur menyenangkannya, “senda gurau”-nya. Apakah senda gurau berarti tidak serius? Kata siapa?

Tujuan dari bermain adalah untuk mendapatkan kesenangan. Jika ada yang bertanya, dalam kehidupan sehari-hari apa permainan yang anda lakukan? Mungkin kebanyakan kita menjawab tidak ada. Padahal bermain adalah sifat dasar manusia.

Jadi tidak aneh jika manusia modern yang tidak pernah bermain itu kemudian mempermainkan orang lain, mempermainkan hukum, mempermainkan agama, bahkan mempermainkan dirinya sendiri. Wallahu ‘Alam. []

artikel di Majalah Inspirasi Vol.1/Th.7-Juni 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 16, 2010 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: