Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Pengaruh Hubungan Intrapersonal Pada Identitas Relasional Wanita Lajang di Jepang

Jumlah wanita Jepang yang masih melajang melewati usia nikah pada umumnya sekitar 20-tahunan mengalami peningkatan. Hubungan intrapersonal sangat penting dan berpengaruh terhadap masih melajangnya wanita Jepang. Eriko Maeda dalam penelitian ini mewawancarai 30 wanita Jepang yang masih lajang untuk mengeksaminasi hubungan intrepersonal mereka. Setidaknya ada 3 tema sentral yang berkaitan dengan hubungan intrapersonal mereka: ketergantungan dan tanggungjawab keluarga, dukungan sosial, dan isu hubungan yang mencegah pernikahan.

INTERNATIONAL JOURNAL REVIEW

“Relational Identities of Always-Single Japanese Woman”

Eriko Maeda, California State University, Long Beach, US

DOI: 10.1177/0265407508100310

Journal of Social and Personal Relationships 2008; 25; 967

Published by: SAGE http://www.sagepublications.com

Review by: Ahmad Faizin Karimi,

Magister of Political Sociology, Muhammadiyah University of Malang

Mengapa peningkatan jumlah wanita lajang Jepang dianggap penting? Ini terkait dengan populasi penduduk Jepang. Menurut Maeda, konsekuensinya jika dipadukan dengan peningkatan harapan hidup dan sikap negatif terhadap orangtua tunggal, populasi Jepang akan merosot tajam. Ini sesuai dengan prediksi pemerintah Jepang:

“The Japanese government has predicted that the country’s population will fall by almost 50% over the next century – from 127 million in 2000 to 64 million in 2100 (SRTI-MIC, 2006).”

Jepang biasanya dipandang memiliki kultur kolektivistik, maskulinitas tinggi, dan penghindaran-ketidakpastian tinggi (Hofstede, 2001; Hall,1976). Beberapa karakteristik kultural mengindikasikan masyarakat Jepang cenderung menempatkan kolektivitas diatas individualitas, peran berbasis spesifik-gender, dan penghindaran perasaan tidak tenang atas situasi ambigu. Karenanya, peningkatan jumlah wanita lajang Jepang menjadi kontradiktif dan mengherankan.

Pada masyarakat Jepang, tulis Maeda, wanita selalu diberikan label yang dikaitkan dengan posisinya dalam keluarga, seperti: anak, istri, dan ibu. Masyarakat Jepang amat menghargai peran seorang ibu (Fujita, 1989; White, 1987). Pertanyaannya, bagaimana wanita Jepang yang lajang menempatkan identitas dalam hubungan mereka dengan orang lain?

Teori komunikasi identitas memposisikan identitas sebagai proses komunikasi yang terdiri dari empat kerangka yang selalu mempertukarkan pesan diantara lapisan itu (Hecht, Jackson, & Ribeau, 2003), empat lapisan tersebut yakni: pribadi, tindakan, relasional, dan komunal.  Dalam kerangka relasional, identitas dipandang sebagai “property of the relationship” karena identitas ikut menentukan hubungan. Karangka relasional fokus pada bagaimana identitas seseorang dibentuk melalui hubungan seseorang, sebagai modal hubungan seseorang tersebut dengan orang lain, dan eksis dalam hubungnnya dengan identitas yang lain (Hecht & Faulkner, 2000). Singkatnya, penelitian Maeda ini ditujukan untuk memahami pertumbuhan identitas wanita lajang Jepang melalui hubungan intrapersonal mereka.

Hubungan Intrapersonal Wanita Lajang

Menurut Maeda, kelompok wanita lajang di Jepang masih jarang diteliti. Penelitian di AS menunjukkan pentingnya peran hubungan intrapersonal dalam membentuk identitas wanita lajang. Dalam banyak kasus, wanita lajang tidak membentuk keluarga sendiri, mereka lebih suka tetap terikat dengan keluarga asal, atau keluarga kerabat.

Meski hubungan kekerabatan memiliki signifikansi dalam berkembangnya wanita lajang, namun persahabatan kelompok dengan status yang sama juga dianggap amat berpengaruh. Selain itu, Rubinstein dkk (1991) juga menemukan adanya sejenis hubungan kekerabatan lain bagi wanita lajang dan wanita tua tanpa anak. Hubungan ini yakni seperti “dianggap ibu” bagi anak tetangga atau saudara.

Wanita Jepang dan Keluarga

Maeda menyatakan sebuah sistem tentang identitas wanita dilihat dari perannya dalam keluarga. Ia menulis:

The most prominent concept concerning women in Japanese families is ie [ee-ye] or the ie system. Institutionalized during the Meiji era (1868–1912), the ie system, often understood as “family” or “household,” determines the nature of each family member’s role in accordance with her or his contribution to preserving the line of succession (Hamabata, 1990). Under this system, women were valued and accorded status only as it related to their role as mothers (Hsia & Scanzoni, 1996). Although formally abolished in 1947, many of its traditions still persist, including the value placed on motherhood. As a result, gender-specific roles for both men and women are typically reinforced in families, in schools, and even in the workplace. For instance, mothers often tell their daughters not to be “too educated” as it likely hinders the ultimate goal of being happily married (Ishii-Kuntz, 1993). And despite increases in the number of women with advanced degrees and in the workforce, many still hold the low-status clerical position of OL (office lady), serving as a caretaker in the male-centered workplace until they get married and have children.

Kalau memang sistem ie itu masih eksis, mengapa jumlah wanita lajang yang telat menikah semakin tinggi? Untuk itu Maeda dalam penelitian ini berbasis analisa identitas relasional menetapkan dua pertanyaan penelitian: 1) Bagaimana hubungan wanita lajang Jepang dengan orangtua mereka? 2) Apakah hubungan intrapersonal lain juga berpengaruh terhadap wanita lajang Jepang?

Hasil Penelitian

Berdasarkan wawancara diketahui setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan pertambahan jumlah wanita lajang Jepang, yakni: ketergantungan dan tanggungjawab keluarga, dukungan sosial, dan isu hubungan yang mencegah pernikahan. Di bawah ini akan diuraikan satu persatu faktor tersebut.

Ketergantungan dan Tanggungjawab Keluarga

Dari penelitiannya Maeda menemukan dua jenis ketergantungan keluarga. Dalam kosakata Jepang, ketergantungan dikenal dengan kata amae/amaeru.

It is important to note that Japanese people use the word amae/amaeru to describe a type of dependence. Unlike the English term “dependence,” amae/amaeru does not refer to a personality trait, but to a context-sensitive relationship (Onishi & Gjerde, 2002)…. While amae is a psychological reality shared in any culture, Doi (1991) argues that, by having the language to name it, Japan accepts and fosters such dependency at a sociocultural level.

Ketergantungan keluarga ini oleh Maeda dibedakan menjadi dua, terkait dengan peran anak wanita, dan terkait dengan peran orangtua. Ketergantungan anak wanita dikenal dengan istilah singuru parasaito (parasit tunggal). Istilah ini dikemukakan Masahiro Yamada, Sosiolog Jepang untuk menggambarkan kecenderungan anak wanita diam saja di rumah tanpa melakukan apa-apa, sedang orangtuanya melakukan semua pekerjaan rumah dan memenuhi semua kebutuhan kehidupannya. Sebuah pengakuan dari salah satu Respondennya, Aki, ditulis:

When I look back, I think my parents did not take much responsibility for the way their children manage their lives. Because they do well in their business and are confident that they can manage taking care of their children until the children die, they don’t demand anything from me. And they think that it [being taking care of] is a happy life for their children.

Ketergantungan lain adalah ketergantungan orangtua kepada anak. Hampir separuh orang tua di Jepang tidak memiliki teman dekat tapi biasanya mereka merasa lebih dekat dengan anak mereka. Salah satu Responden, Kyoko menyatakan:

I am attached to my parent [mother] despite my age. Because of it, taking care of her is my first priority. . . . Interviewer: In what way do you think you are attached to your mother?] Every way. When I need to make a decision, because I worry about my mother, I always use it (i.e., mom’s condition) as a reason and make a final decision.

Sedangkan tanggungjawab terhadap keluarga juga kadang menjadi alasan. Salah satu Responden, Teruyo, menyatakan:

Well, after all, I thought I would have to take care of them [her mother and brother] when I started working. . . . My older sister got married when I was 22 . . . and once she was gone [to marry], . . . she had her own family. And if I go to marry . . . I couldn’t give my brother and mother to them. (i.e., sister’s family) . . . nor could I take them (i.e., brother and mother) and get married. When I thought about it, I thought it was okay not to get married. It was not a sacrifice. I was not  sacrificing myself but I thought I don’t need to go [to marry].

Dukungan Sosial

Pada faktor ini dikemukakan tiga sub-tema dukungan sosial, yakni adanya teman wanita, peran mentor, dan kekuranghadiran seorang ayah. Pada sub-tema dukungan dari teman sesama wanita, seorang Responden, Kimiko, berkata:

Around me, somehow, there are many who are single (laugh). Many of my friends are single, and many of those whom I do paragliding with are not married, even though some are quite old. And at work, people I am close to are often single.

Yang dimaksud dengan peran mentor adalah pengaruh dari seseorang yang dekat dan dikagumi, terutama dalam pencapaian mereka pada kesuksesan pekerjaan. Sedangkan kekuranghadiran ayah menjadi catatan tersendiri. Kebanyakan Responden memang lebih menceritakan ibu mereka daripada seorang ayah, namun pada beberapa kasus mereka ekspisit menyebutkan minimnya dukungan ayah dalam persoalan sehari-hari rumah tangga. Sebuah survey dari Ministry of Internal Affairs and Communication, 2002, bahkan menyebutkan di Jepang pada keluarga dengan anak di bawah umur 6 tahun, seorang ayah hanya menghabiskan rata-rata 25 menit untuk mengurus anak dan 7 menit untuk urusan rumah tangga yang lain.

Salah satu petikan wawancara mengenai ini adalah dengan Responden bernama Mari,

“When we talk about my friends who are getting married, [my parent(s)] say(s) things like ‘When will you get married?’ or ‘I probably won’t ever hold a grandchild, will I?’ things like that.” I initially could not determine whether she was talking about her both parents or one parent because Japanese language does not have plurals in its grammar nor does it use pronouns frequently. So when I asked, “Is it your mother?” she answered, “Yes. My father says nothing at all.”

Tampak bahwa ketidakhadiran seorang ayah menunjukkan karakter khas peran seorang laki-laki dalam keluarga di Jepang.

Isu Hubungan Yang Mencegah Pernikahan

Terakhir, Maeda menyimpulkan faktor isu hubungan yang terutama bersifat negatif dan menjadi penghalang wanita lajang Jepang untuk menikah. Maeda membagi tema ini menjadi empat sub-tema, yakni: kecocokan pasangan, persoalan komitmen, hubungan luar nikah, dan luka akibat hubungan yang lalu.

Pertama, tentang kecocokan pasangan. Maksudnya adalah alasan wanita lajang Jepang belum menikah melewati usia pernikahan pada umumnya adalah karena belum menemukan pasangan yang cocok, “The Right Person”. Beberapa dari mereka (Responden) beralasan belum ketemunya pasangan yang cocok karena terlalu sibuk bekerja, dan alasan idealis dalam mencari pasangan yang cocok. Seperti penuturan Hiroko:

I had a lot of arranged meetings when I was 29, before turning 30 . . . I really really wanted to marry but I didn’t want to unless it were with a good person. I didn’t want to marry just anyone. Nor did I want to get married because the other [prospective partner’s family] wanted me to come [to marry]. I wanted to, but it had to be a person with whom I felt right. I was stubborn in that respect.

Kedua, mengenai komitmen. Dalam membina hubungan pernikahan, dibutuhkan komitmen kedua belah pihak. Beberapa responden menyatakan memiliki persoalan dalam masalah ini. Salah satunya Sayuri, dikatakan:

…Sayuri had a 10-year-long relationship. Although her boyfriend had told her that he wanted to get married, he never took the initiative. She said, “Around 30 years old, I still wanted to get married . . . I realized that he did not have such intention, so we broke up and then, I enjoyed myself.”

Ketiga, hubungan luar nikah. Beberapa responden menyatakan bahwa mereka ingin menikah, namun orang yang mereka sukai sudah memiliki ikatan pernikahan. Berdasarkan wawancara, Maeda menulis:

Among interviewees in extramarital relationships, some hope to marry their extramarital partner, others do not want to marry their current extramarital partner but wish to marry when they meet the right person, and still others said that they do not want to marry.

Keempat, luka akibat hubungan sebelumnya. Beberapa wanita menyatakan mereka memiliki duka emosional akibat kegagalan pada hubungan yang mereka bangun pada masa lalunya. Seperti pengakuan Yoshimi:

Well, how many years, probably after five years I entered the workforce, I had a guy I was thinking about marrying. We both thought so, but several women were asking him out . . . and he was too nice. . . . I suppose usually men should be able to say no, but he couldn’t, and eventually another took him. . . . At that time, not that I distrusted men, but I couldn’t believe what had happened. . . . That was when I was 27 or 28 and since then, I can’t forget about it.

Ulasan

Penelitian Maeda tampak menjadi penting seperti yang ia sampaikan, karena terkait dengan perubahan sosial budaya yang tengah terjadi di Jepang. Seperti kita ketahui bersama, Jepang sebagai negara dengan tingkat harapan hidup cukup tinggi, etos kerja tinggi dan kultur kolektivitasnya mengalami perubahan sosial budaya yang juga menghawatirkan, baik secara ekonomi maupun sosial. Bagaimana sebuah negara bisa eksis jika regenerasi terhambat akibat meningkatnya jumlah wanita yang tidak menikah hingga melewati usia nikah pada umumnya di masyarakat tersebut?

Maeda lebih memilih bingkai relasional, dan mengenyampingkan tiga bingkai lain dalam melihat persoalan ini, yakni: pribadi, tindakan, dan komunal. Ia berkata bahwa bingkai relasional dipilih karena fokus pada pembahasan mengenai hubungan intrapersonal yang mempengaruhi seseorang. Ini menjadi catatan tersendiri, karena dalam tulisannya juga dikatakan bahwa menurut teori komunikasi identitas, keempat bingkai tersebut saling mempertukarkan-pesan dalam membentuk identitas seseorang. Sehingga apa yang terjadi dalam perspektif relasi-intrapersonal sangat mungkin dipengaruhi dan mempengaruhi perspektif dalam ketiga bingkai yang lain.

Jika memang penelitian ini dianggap valid dan akurat, maka menjadi catatan tersendiri bagaimana sebuah identitas relasional amat dipengaruhi oleh komunikasi intrapersonal. Keinginan pribadi untuk menikah (faktor pribadi), tuntutan kebutuhan negara akan regenerasi (faktor komunal), dan tindakan yang dilakukan untuk mencapai hal itu (faktor tindakan) menjadi kalah dan didominasi oleh pengaruh kuasa orang lain, baik tampak ataupun tersembunyi (faktor relasional).

Menjadi menarik untuk didiskusikan, relevansi hasil penelitian ini dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Memang kami belum memiliki data yang akurat dan valid mengenai motivasi wanita di Indonesia untuk menikah. Namun secara kasar dapat saya katakan mungkin kondisinya agak sama. Banyak wanita yang belum menikah meski ia sudah melewati usia nikah pada umumnya di Indonesia. Apakah juga terjadi karena pengaruh relasi intrapersonal seperti pada penelitian Maeda di Jepang? Wallahu alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 30, 2010 by in Humanis, Pascasarjana Sosiologi.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: