Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Daulat Uang Atas Pendidikan

Selesai sudah pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA digelar minggu ini. Meski diwarnai kontroversi sebelumnya, toh akhirnya UN jadi juga dilaksanakan. Harapan semua pihak agar UN tahun ini bisa lebih baik dari tahun kemarin agaknya masih belum sepenuhnya terwujud. Laporan penyimpangan atau kasus mungkin memang lebih sedikit dari sebelumnya, tapi itu bukan jaminan UN benar-benar sukses.

Satu minggu belakangan, Koran JawaPos secara berkelanjutan mengabarkan berita seputar pelaksanaan UN SMA. Terakhir, disampaikan kepada publik tentang tambahan pesangon dari sekolah kepada pengawas independen yang dihawatirkan mempengaruhi laporan dan penilaian pengawas tersebut terhadap sekolah yang bersangkutan (Jawapos, 26/03/2010). Berita lain yang menghangat seputar UN yakni masih adanya pungutan dari sekolah kepada siswa dan isu tahunan bocoran soal.

Janji Mendiknas bahwa tidak akan ada bocoran jawaban agaknya tidak terbukti. Mungkin pihak pemerintah dalam hal ini Depdiknas sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak terjadi kebocoran UN, namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih adanya jual-beli kunci jawaban. Meskipun validitasnya masih diragukan.

Ilmu pengetahuan dan substansi dari pendidikan memang tidak bisa diperjual-belikan, namun prosesnya bisa. Pelbagai kejadian yang ditulis di atas, menunjukkan bagaimana terjadi transaksi jual-beli proses pendidikan. Hal ini berkaitan dengan pembahasan mengenai posisi uang di masyarakat sekarang ini. Bagaimana uang sedemikian memiliki daulat atas berbagai hal, termasuk proses pendidikan.

Studi mengenai uang dalam masyarakat yang populer terdapat dalam karya George Simmel, “Philosophie des Geldes” (Filsafat Uang). Bagi Simmel, uang bukanlah ‘substansi’ yang pada dirinya sendiri bernilai dan karenanya dapat ditukarkan dengan apa saja. Uang pada hakekatnya ialah relasi, yakni relasi pertukaran, yang diwujudkan secara jasmaniah. Uang, dengan kata lain ialah sebuah simbol dari relasi pertukaran.

Analisa Mark tentang komoditas menyebutkan bahwa manusia mestilah memproduksi (menghasilkan) sesuatu agar dapat bertahan hidup. Pada masyarakat post-industrialis komoditi sudah mulai bergeser pada hal-hal yang bersifat non-barang, informasi dan jasa menjadi komoditas baru. Artinya, informasi dan jasa juga merupakan obyek aktifitas manusia untuk bisa survive.

Kalau begitu, dalam konteks UN apa yang bisa dijelaskan? Ya tentu saja pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan UN—beberapa diantaranya—memanfaatkan informasi dan jasa mereka sebagai komoditas untuk bisa dipertukarkan dengan sejumlah uang. Semakin penting suatu informasi dan jasa, maka semakin mahal nilai tukarnya.

Informasi mengenai jawaban soal UN, misalnya. Bagi siswa itu adalah informasi yang penting. Memang penting atau tidak itu relatif bergantung pada tingkat kebutuhannya. Jadi jika banyak siswa di Indonesia ini yang merasa tidak mampu mengerjakan soal UN, maka ia sangat membutuhkan kunci jawaban. Karena kebutuhan mereka atas jawaban ini besar, maka bocoran jawaban menjadi penting bagi mereka.

Pengawas UN juga begitu. Posisi mereka sebagai pelapor pelaksanaan UN amat sentral. Informasi yang bakal mereka sampaikan berkaitan dengan nama baik sekolah penyelenggara. Jika informasinya menyudutkan, maka sekolah yang bersangkutan akan merasa rugi, begitu juga sebaliknya.

Jadi tambahan uang transport kepada pengawas dalam perspektif Uang sebagai symbol dari relasi pertukaran sama saja dengan menukarkan informasi kepengawasan dengan sejumlah nilai uang. Boleh jadi masih banyak pengawas yang tidak akan merubah informasinya hanya dengan uang yang tidak seberapa. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah bagaimana sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan menyikapi kepengawasan. Jika pengawas diberikan tambahan transport dengan harapan agar informasi kepengawasannya sedikit melunak, maka sekolah sudah memberlakukan transaksi atau pertukaran informasi, dan ini amat miris dilakukan di lembaga pendidikan karena bernuansa dehumanisasi.

Tidak hanya pengawas independen dari perguruan tinggi saja yang menerima “amplop” dari sekolah penyelenggara. Pengawas ruang dan pengawas dari dinas pendidikan setempat juga akan mendapatkan hal yang serupa. Bahkan ada ras-rasan bahwa kepengawasan memang disengaja agar petugas yang bersangkutan mendapatkan “tambahan” penghasilan.

Kalau ini yang terjadi, malah lebih parah lagi. Karena pejabat Negara sudah berinisiatif melakukan pertukaran “tanggung jawab” sosialnya. Secara sosial memang petugas itu memiliki tanggung jawab terhadap pelaksanaan UN agar berjalan lancar dan jujur., tapi jika kepengawasannya “dijual”, maka ia menjual kewajiban sosialnya.

Kondisi seperti ini tidak baik bagi “jiwa” pendidikan kita. Padahal fungsi pendidikan nasional sendiri menurut UU Sisdiknas adalah untuk  mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[]

Baca juga: Peran guru dalam membangun budaya kejujuran akademik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 29, 2010 by in Humanis, Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: