Propaganda merupakan salah satu bentuk teknik komunikasi massa. Pada orang-orang yang banyak bekerja berkaitan dengan pengerahan massa, propaganda seringkali digunakan. Pada kenyataannya propaganda lebih sering digunakan untuk mencapau kepentingan kelompok tertentu alih-alih memberikan informasi kepada masyarakat. Propagandis—pelaku propaganda—justru mengakomodasi kelemahan dalam masyarakat, seperti ketidaktahuan, kebodohan, emosional, kebencian, keyakinan, bahkan dukungan untuk mencapai maksud yang diinginkan dengan melakukan propaganda itu.

Propaganda sendiri berasal dari kata propagare, yang artinya adalah menyebarkan. Menurut Encyclopedia International: ‘propaganda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan’. Sedangkan dari Qualter, propaganda adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja oleh beberapa individu atau kelompok untuk membentuk, mengawasi atau mengubah sikap dari kelompok-kelompok lain dengan menggunakan media komunikasi dengan tujuan bahwa pada setiap situasi yang tersedia, reaksi dari mereka yang dipengaruhi akan seperti yang diinginkan oleh sang propagandis.

Propaganda merupakan bagian dari ilmu komunikasi yang masuk dalam kelompok metode komunikasi massa. Ini artinya propaganda bagi ilmu komunikasi dianggap sebagai sebuah metode, cara atau alat dalam menyampaikan pesan. Jadi karena propaganda adalah sebuah “alat”, ia dianggap bebas nilai. Nilai itu kemudian melekat lebih pada propagandis atau orang dibalik propaganda itu, apakah dipakai untuk berbuat baik atau berbuat buruk. Meskipun dalam kenyataannya propaganda lebih sering disalahgunakan.

Beberapa unsur propaganda yakni propagandis (orang yang melakukan propaganda), pesan (isi dari propaganda), media (alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan), reaktor atau obyek (kelompok masyarakat yang dituju propaganda), dan efek (hasil yang diharapkan dengan melakukan propaganda). Misalnya saja dalam kampanye pemilu presiden kemarin, yang dilakukan oleh calon adalah termasuk propaganda. Jadi propagandisnya adalah calon presiden itu sendiri, tim sukses, atau intelektual bayaran. Pesannya adalah tentang kehebatan dan harapan jika calon tersebut terpilih atau bisa pesan negative untuk menjatuhkan lawannya. Medianya bisa berupa media massa atau personal di lapangan. Reaktornya tentu saja masyarakat pemilih. Dan efeknya adalah menguatnya dukungan kepada calon presiden tersebut, atau mengalihnya dukungan dari pemilih calon lain.

Alfred McClung Lee & Alizabeth Briant Lee dalam buknya The Fine Art of Prapaganda, menyebutkan Tujuh Teknik Propaganda yang seringkali digunakan. Teknik tersebut adalah :

Name Calling. Teknik memberikan label buruk pada sesuatu gagasan/orang/lembaga supaya sasaran tidak menyukai atau menolaknya. Misalnya saja dalam pemilihan presiden kemarin lawan SBY memberikan label “neo-liberalisme” kepada Budiono, lawan politik Prabowo memberikan cap “Penculik Aktivis Mahasiswa”, dll.

Glittering Generality, teknik menghubungkan sesuatu dengan ‘kata yang baik’ dipakai untuk membuat sasaran menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti. Misalnya penyebutan konsep ekonomi Budiono dengan konsep “Ekonomi Jalan Tengah” yang terkesan merupakan win-win solution.

Transfer, teknik membawa otoritas, dukungan, gengsi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima. Misalnya Megawati yang membawa nama besar Soekarno agar masyarakat mendukung dia.

Testimoni (kesaksian), teknik memberi kesempatan pada orang-orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk. Misalnya JK yang menggunakan testimony pemimpin-pemimpin ormas untuk mendukungnya, dan sebaliknya.

Plain Folks, teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus karena mereka adalah bagian dari ‘rakyat’. Dalam hal ini hampir semua peserta pemilu menggunakannya, menyatakan diri bagian dari rakyat, padahal mungkin yang dirujuk atau dimaksud “rakyat” dalam konsepsinya adalah “konstituennya sendiri”.

Card Staking, meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan, dan pernyataan-pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada suatu gagasan, program, orang, atau produk. Misalnya penggunaan kasus-kasus tertentu untuk menjegal lawan-lawannnya.

Bandwagon, teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan kepada sasaran bahwa semua anggota suatu kelompok (di mana sasaran menjadi anggotanya) menerima programnya, dan oleh karena itu sasaran harus mengikuti kelompok dan segera menggabungkan diri pada kelompok. Ini dekat dengan penggunaan pesan berupa hasil survey tentang penerimaan (akseptasi) suatu kelompok terhadap program-program tertentu atau calon itu sendiri.

Menolak Propaganda

Sejauh ini kita telah membahas cara penggunaan propaganda. Lalu bagaimanakah cara menolak propaganda? Karena sifatnya yang berada pada wilayah komunikasi, melawan propaganda juga tentu menggunakan teknik komunikasi. Saya menyebutnya dengan “kontra-propaganda”. Prinsipnya propaganda bisa dilawan juga dengan propaganda yang sama. Tentunya dalam melawan propaganda kita juga harus bersikap cerdas dan cermat.

Beberapa prinsip kontra-propaganda adalah :

Pertama, jangan terlalu agresif dalam menyikapi propaganda. Agresifitas malah akan memunculkan kecurigaan masyarakat terhadap isi pesan propaganda lawan kita.

Kedua, jangan melawan propaganda dengan memberikan pernyataan saja. Dalam menjawab propaganda, kita harus lebih fokus pada tindakan dan bukti nyata. Kalaupun memang yang disampaikan propagandis itu benar, maka fokuslah pada mencari pembuktian sebaliknya yang meringankan anda.

Ketiga, jangan berdiam diri. Lakukan propaganda yang ditujukan untuk menjatuhkan lawan anda. tapi ingat, jangan sampai keterlibatan anda terlihat terlalu vulgar. Buatlah kelompok diluar struktur yang melakukan aktifitas propaganda ini. []