Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

48 Hukum Kekuasaan (Bag. 1)

Kekuasaan adalah sesuatu yang menarik. Sedemikian menarik sehingga banyak orang berusaha mendapatkannya sekuat tenaga. Ada yang berusaha mendapatkan kekuasaan dengan tindakan vulgar, ada pula yang malu-malu mengungkapkannya. Kekuasaan bersifat adiksi, candu. Orang yang sedang berkuasa, cenderung mempertahankannya dan yang tidak berkuasa ingin mendapatkannya. Perebutan kekuasaan menjadi warna abadi tragedy dan dominasi manusia satu atas manusia lainnya.

Dalam mencari, mempertahankan, dan mengembangkan kekuasaan orang kadang berbuat apa saja. Perebutan kekuasaan kadang tidak hanya berakibat pada pihak-pihak yang terlibat langsung. Bahkan orang yang tidak berniat berebut pun bisa menjadi korban karena dijadikan alat oleh pihak yang berambisi.

Perebutan kekuasaan tidak hanya berada di dalam istana, kekuasaaan formal dalam sebuah Negara. Perebutan kekuasaan terjadi di mana-mana: di jalan, kantor, organisasi, bahkan di dalam rumah. Ia bisa mewujud dalam berbagai bentuk: kekerasan, konflik, intrik, tontonan, ucapan, penampilan, dan symbol-simbol.

Berikut ini adalah hukum-hukum kekuasaan yang perlu diketahui orang. Jika ia menginginkan untuk mendapat, mempertahankan, minimal agar tidak terjebak dan dimanfaatkan kekuasaan. 48 Hukum Kekuasaan ini kami ambil dari buku “48 Hukum Kekuasaan” karya Robert Greene terbitan Kharisma tahun 2007. Berbagai hukum berikut hanyalah ringkasan saja, jika anda ingin mengetahui lebih detail beserta contoh peristiwa nyata silahkan beli bukunya.

HUKUM 1 : JANGAN PERNAH TERLIHAT LEBIH BAIK DARI ATASAN ANDA. Senantiasalah buat atasan anda merasa superior. Walaupun anda ingin menyenangkan hati mereka atau membuat mereka terkesan, jangan terlalu berlebihan dalam menunjukkan bakat-bakat anda, jika tidak anda hanya akan berhasil memancing reaksi sebaliknya—memancing perasaan takut dan tidak aman mereka. Buatlah atasan anda tampak lebih brilian daripada sesungguhnya, maka anda akan memperoleh kekuasaan terbesar.

HUKUM 2 : JANGAN PERNAH TERLALU MEMPERCAYAI TEMAN, TETAPI PELAJARILAH CARA MEMANFAATKAN MUSUH. waspadalah terhadap teman-teman anda—mereka bisa lebih cepat menghianati anda, karena mereka mudah merasa iri. Mereka juga sering menjadi manja dan lalim. Tetapi pekerjakanlah mantan musuh anda, maka ia akan lebih setia daripada teman anda. Karena ia memiliki lebih banyak alasan untuk membuktikan dirinya. Sesungguhnya ada lebih banyak hal yang harus anda takuti dari teman anda daripada musuh anda. Jika anda tidak punya musuh, carilah cara untuk menciptakan musuh.

HUKUM 3 : SEMBUNYIKAN NIAT ANDA. Jagalah agar orang lain tetap kaget dan tidak tahu apa-apa dengan tidak pernah mengutarakan tujuan dibalik tindakan anda. Jika mereka tidak tahu apa yang sedang anda rencanakan, mereka tidak bisa mempersiapkan pembelaan diri. Bimbinglah mereka cukup jauh di jalan yang salah, lingkupilah mereka dengan kebimbangan yang cukup pekat, maka pada saat mereka menyadari niat anda, segalanya pasti sudah terlambat.

HUKUM 4 : SENANTIASALAH BERBICARA LEBIH SEDIKIT DARI YANG DIPERLUKAN. Ketika anda mencoba membuat orang lain terkesan dengan kata-kata anda, semakin banyak kata-kata yang anda ucapkan, maka anda akan tampak semakin biasa-biasa saja dan semakin kurang terkendali. Bahkan jika anda  mengucapkan sesuatu yang dangkal, ucapan itu pasti tampak orisinil jika anda mengucapkannya dengan samar-samar, tanpa akhir yang jelas, dan njelimet. Orang-orang yang berkuasa membuat orang lain terkesan dan mengintimidasi mereka dengan lebih jarang berbicara. Semakin banyak kata-kata yang anda ucapkan, semakin besar kemungkinan bagi anda untuk mengucapkan sesuatu yang konyol.

HUKUM 5 : BEGITU BANYAK HAL TERGANTUNG DARI REPUTASI – JAGALAH REPUTASI ANDA DENGAN NYAWA ANDA. Reputasi adalah landasan kekuasaan. Melalui reputasi belaka anda bisa mengintimidasi dan menang; namun demikian, sekali reputasi itu hilang, anda menjadi rapuh dan pasti diserang dari segala sisi. Ciptakanlah reputasi yang tidak bisa diserang. Senantiasalah bersikap waspada terhadap potensi serangan dan gagalkanlah mereka sebelum mereka muncul. Sementara itu, belajarlah untuk menghancurkan musuh anda dengan menguak lubang-lubang reputasi mereka sendiri. Setelah itu menyingkirlah dan biarkan banyak orang menilai mereka.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 21, 2010 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: