Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Memahami Facebook Dengan Filsafat Don Ihde

Sejak dirilis pada tahun 2004, situs jejaring social Facebook terus menuai kontroversi. Sama seperti jejaring sosial (social networking) lain pendahulunya, Friendster, Facebook mendapatkan banyak kecaman, disamping juga sanjungan di mana-mana. Efek positif Facebook misalnya digunakan sebagai media mobilisasi massa, sedangkan efek negatifnya seperti kasus-kasus kejahatan yang terjadi dewasa ini. Efek negatif lain dari Facebook adalah menurunnya produktifitas kerja, karena pada jam kerja efektif ternyata orang banyak mengakses Facebook. Tidak tanggung-tanggung, bahkan muncul wacana pengharaman Facebook.

Kontroversi Facebook ini sebenarnya bagian dari kontroversi yang lebih besar, yakni pro-kontra eksistensi teknologi dalam kehidupan manusia, relasi manusia-teknologi. Pembahasan filosofis mengenai hal ini sudah lama berlangsung, seperti diungkap Heidegger dalam Question Concerning Technology(1977) saat itu dikenal term Techne dan Poiesis. Techne adalah pengetahuan tentang cara produksi atau mentransfomasikan dunia, sedangkan poiesis adalah sebuah penyingkapan realitas melalui instrumen teknologis tersebut. Dalam kasus Facebook misalnya, Techne-nya adalah pengetahuan tentang coding dan bahasa pemrogramannya sehingga situs tersebut bisa menampilkan informasi, sedangkan Poiesis-nya adalah terbukanya realitas, dalam hal ini realitas komunikasi virtual antar Facebookers (pengguna Facebook).

Pandangan berikutnya dikemukakan oleh Jacques Ellul, filosof Prancis dalam bukunya The Technological Society (1964). Menurut Ellul, teknologi bersifat otonom dan tidak bisa dikendalikan. Jadi implikasi sosiologis, etis, dan teknis dan penggunaan teknologi hanya dapat dikontrol oleh teknologi itu sendiri. Misalnya teknologi virus computer, tidak bisa dikontrol langsung oleh manusia tetapi oleh teknologi lain, yakni anti-virus. Teknologi Facebook juga begitu, kita tidak bisa mengontrol dengan sepenuhnya privasi akun kita  namun itu bisa dikontrol jika secara teknis developer Facebook memproteksinya.

Don Ihde filsuf fenomenologi Amerika berbeda dengan Ellul, ia lebih menitikberatkan pada relasi teknologi dengan kebudayaan manusia, sebuah relasi hermeunetis. Menurut Ihde, nilai praktis teknologi dapat dilihat secara berbeda pada kebudayaan yang berbeda. Jadi misalnya nilai praktis dari Facebook, akan dilihat berbeda oleh kebudayaan masyarakat perkotaan (urban) dengan kebudayaan masyarakat desa (rural). Masyarakat perkotaan cenderung lebih “memanfaatkan” Facebook daripada masyarakat desa. Hal ini bukan hanya berdasar alasan ketersediaan fasilitas, namun lebih pada faktor kebudayaan.

Dengan pendekatan ini, Ihde melihat bahwa teknologi bersifat inheren dengan kebudayaan. Karena inherensi teknologi dengan kebudayaan inilah, Ihde memandang bahwa teknologi bukanlah sesuatu yang otonom, ia bisa dikontrol. Kontrol manusia atas teknologi, bisa dilakukan dengan melakukan control terhadap budaya itu sendiri.

Kembali pada inherensi teknologi dengan kebudayaan, Ihde melihat bahwa teknologi adalah instrument untuk memahami realitas sebagai sebuah teks. Seperti kita ketahui, teknologi diciptakan sebagai “perpanjangan” indra dan tubuh manusia. Misalnya saja teknologi sepeda, adalah perpanjangan dari fungsi kaki, teknologi kamera perpanjangan dari fungsi mata, dan sebagainya. Facebook bisa dipandang sebagai perpanjangan dari fungsi mata dan mulut, dalam artian Facebook (sebagai salah satu fasilitas internet) memungkinkan manusia berkomunikasi dan bersosialisasi dengan manusia lain secara virtual. Facebook, seperti berbagai social networking lain, adalah teknologi medium, perantara. Facebook secara techne adalah kumpulan web program untuk memfasilitas komunikasi antar Facebookers, tapi secara poiesis ia menghadirkan bentuk komunikasi baru, komunikasi virtual.

Dalam kasus maraknya kejahatan, penipuan, dan penyalahgunaan Facebook, jika kita kembalikan pada perpektif Don Ihde tentang inherensi teknologi dengan kebudayaan,  maka bisa kita simpulkan bahwa kebudayaan kita-lah yang sesungguhnya permisif terhadap kemunculan kejahatan, penipuan, dan penyalahgunaan itu. Facebook sebagai instrument teknologis hanya menciptakan bentuk baru kejahatan tersebut.

Realitas kehidupan manusia modern-lah yang yang memicu kejahatan terjadi. Misalnya kasus penipuan dengan korban rata-rata perempuan, latar belakang pemicu lebih pada alasan cultural, kondisi sosio-psikologis korban yang kurang perhatian misalnya, sehingga ia merasa senang jika menemukan orang yang perhatian dengannya di Facebook. Persoalan Facebook yang menimbulkan kecanduan karena orang selalu meng-update statusnya di Facebook merupakan cermin perubahan komunikasi sosial masyarakat. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita sudah sedemikian acuh pada perasaan orang lain, sehingga orang tersebut merasa menemukan “teman curhat” yang tepat, yakni Facebook. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 18, 2010 by in Uncategorized.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: