Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Corporate Governance dalam Mewujudkan Corporate Social Performance

Dewasa ini Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan menjadi bincangan yang ramai dibicarakan. Kesadaran akan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan menunjukkan pencapaian yang makin baik. Hal ini didasari pada pemahaman bahwa sebuah organisasi (tidak hanya perusahaan) memiliki tanggung jawab dalam setiap aspek operasionalnya dan tidak hanya memperhitungan persoalan finansial atau deviden semata.

Kepekaan dan kepedulian organisasi—terutama yang dilakukan banyak perusahaan—bahkan sudah diatur secara legal formal dalam berbagai bentuk, misalnya pengesahan undang-undang dan regulasi terkait serta pembentukan lembaga yang konsen terhadap penerapan CSR, bahkan ada ketentuan sangsi jika perusahaan tidak menerapkan CSR. Meskipun pada tataran operasional-praksis masih banyak celah yang perlu dikritisi, namun setidaknya konsen perusahaan dan masyarakat akan pentingnya CSR menjadi upaya penting yang harus selalu ditingkatkan.

Diantara konsep penting CSR adalah Corporate Social Performance (CSP) /Kinerja Sosial Perusahaan dan Corporate Governance (CG)/ Tata Kelola Perusahaan. Dibawah ini akan kita urai kedua konsep tersebut di atas.

Corporate Social Performance (CSP)

Kinerja Sosial Perusahaan/Corporate Social Performance (CSP) adalah penilaian kinerja sebuah perusahaan dilihat dari peran sosial CSR yang dimainkannya ditengah masyarakat. Semakin sebuah perusahaan mengimplementasikan CSR dan komponen terkait (misalnya Amdal) dengan baik, maka kinerja sosial perusahaan tersebut akan semakin terangkat. Hasil yang diharapkan, tentu kembali kepada perusahaan dalam bentuk dukungan publik dan penguatan faktor sosial terhadap pengelolaan dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dari masyarakat terhadap perusahaan yang bersangkutan.

Hasil Survey “The Millenium Poll on CSR” (1999) yang dilakukan oleh Environics International (Toronto), Conference Board (New York) dan Prince of Wales Business Leader Forum (London) diantara 25.000 responden di 23 negara menunjukkan bahwa dalam membentuk opini tentang perusahaan, 60% mengatakan bahwa etika bisnis, praktek terhadap karyawan, dampak terhadap lingkungan, tanggungjawab sosial perusahaan (CSR) akan paling berperan, sedangkan bagi 40% citra perusahaan & brand image yang akan paling mempengaruhi kesan mereka. Hanya 1/3 yang mendasari opininya atas faktor-faktor bisnis fundamental seperti faktor finansial, ukuran perusahaan,strategi perusahaan, atau manajemen.

Lebih lanjut, sikap konsumen terhadap perusahaan yang dinilai tidak melakukan CSR adalah ingin “menghukum” (40%) dan 50% tidak akan membeli produk dari perusahaan yang bersangkutan dan/atau bicara kepada orang lain tentang kekurangan perusahaan tersebut. Meskipun sikap ini masih berada pada tataran “idealisme”, dan belum tentu dapat diterapkan secara operasional dalam tataran praksis.

Secara teoritis, ada tiga kemungkinan relasi CSP dengan kinerja keuangan perusahaan: positif, netral, dan negatif. kelompok yang berpandangan negatif menyatakan bahwa CSP yang tinggi menyebabkan adanya cost tambahan yang dianggap merugikan (Aupperle, et al., 1985; McGuire et al., 1988; Ullmann, 1985; Vance, 1975).

Beberapa hasil penelitian empiris menemukan bahwa tidak ada hubungan antara kinerja sosial dengan kinerja keuangan (netral). Pihak-pihak yang menghasilkan pandangan ini (seperti Ullmann, 1985) berargumen bahwa ada sangat banyak variabel antara kinerja sosial dan kinerja keuangan, sehinga tidak ada alasan untuk mengharapkan terjadinya hubungan antara dua hal tersebut.

Di sisi lain, pihak yang berpendapat bahwa CSP akan berpengaruh positif bagi perusahaan juga memiliki argumen kuat. Menurut mereka, dengan CSP yang baik akan meningkatkan goodwill karyawan dan konsumen (Solomon dan Hansen, 1985; dalam McGuire et al., 1985), sehingga perusahaan tersebut akan menghadapi masalah dengan tenaga kerja yang lebih sedikit, lalu konsumen akan lebih setia kepada produk perusahaan. Menurut Margolis dan Walsh (2003) antara tahun 1972 sampai 2002, ada 127 publikasi studi empiris yang meneliti mengenai hubungan antara perilaku tanggung jawab sosial perusahaan dengan kinerja keuangan. Kompilasi sederhana dari hasil penelitian-penelitian tersebut menjelaskan bahwa ada hubungan positif, dan hanya sedikit yang bisa membuktikan adanya hubungan negatif antara kinerja sosial dengan kinerja ekonomi perusahaan (Margolis dan Walsh, 2003).
Studi dengan menggunakan metode meta-analisis terhadap 52 penelitian hubungan CSP-CFP yang dilakukan oleh Orlitzky, Schmidt, dan Rynes (2003) juga menunjukkan substansi kesimpulan yang sama.

Corporate Governance (CG)

Tata kelola perusahaan (Corporate Governance) adalah sebuah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang mempengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Atau juga bisa diartikan sebagai Sistem yang menjamin perusahaan mencapai tujuannya (melalui kewirausahaan, inovasi, pengembangan, dan eksplorasi) sekaligus memastikan akuntabilitas dan kontrol terhadap cara-cara yang dipergunakan.

Pihak utama dalam penerapan CG adalah pimpinan dan penentu kebijakan dalam sebuah perusahaan. Pimpinan perusahaan (pemegang saham, direksi, manajer, dll) memegang peran strategis dalam keberhasilan sebuah perusahaan dalam menerapkan CG, sedangkan pihak lain yang juga ikut menentukan efektifitas implementasi CG seperti karyawan, pelanggan, kreditor dan masyarakat.

Perhatian terhadap praktik tata kelola perusahaan di perusahaan modern telah meningkat akhir-akhir ini, terutama sejak keruntuhan perusahaan-perusahaan besar AS seperti Enron Corporation dan Worldcom. Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap masalah ini diwujudkan dengan didirikannya Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada akhir tahun 2004.

Beberapa prinsip CG antara lain :

  1. Perlakuan yang adil dan tepat terhadap pemegang saham: Organisasi harus menghormati hak-hak pemegang saham dan membantu pemegang saham untuk melaksanakan hak-hak tersebut. Mereka dapat membantu para pemegang saham melaksanakan hak-hak mereka secara efektif mengkomunikasikan informasi yang dapat dimengerti dan dapat diakses dan mendorong pemegang saham untuk berpartisipasi dalam rapat umum.
  2. Kepentingan stakeholder lain: Organisasi harus mengakui bahwa mereka memiliki hukum dan kewajiban lain kepada semua stakeholders.
  3. Peran dan tanggung jawab dari menajemen: manajemen memerlukan berbagai keterampilan dan pemahaman untuk dapat menangani berbagai masalah bisnis dan memiliki kemampuan untuk meninjau dan menantang kinerja manajemen.
  4. Integritas dan perilaku etis: pengambilan keputusan yang etis dan bertanggung jawab tidak hanya penting untuk hubungan masyarakat, tetapi juga merupakan elemen penting dalam pengelolaan risiko dan menghindari tuntutan hukum. Organisasi harus mengembangkan kode etik untuk para direktur dan eksekutif yang etis dan bertanggung jawab mempromosikan pengambilan keputusan.
  5. Keterbukaan dan transparansi: Organisasi harus menjelaskan dan membuat peran dan tanggung jawab pengurus dan manajemen diketahui publik untuk memberikan tingkat akuntabilitas kepada pemegang saham. Mereka harus juga menerapkan prosedur untuk memverifikasi secara independen dan menjaga integritas pelaporan keuangan perusahaan. Pengungkapan hal-hal material mengenai organisasi harus tepat waktu dan seimbang untuk memastikan bahwa semua investor memiliki akses yang jelas, informasi faktual

Secara singkat dapat dikatakan bahwa dengan penerapan Corporate Governance, perusahaan diharapkan mampu :

  • Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.
  • Bersikap dan berperilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
  • Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
  • Meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan yang didasarkan pada asas GCG secara berkesinambungan.
  • Melaksanakan fungsi ombudsman untuk dapat menampung informasi tentang penyimpangan yang terjadi pada perusahaan.

Disamping efek eksternal dan jangka panjang diatas, penerapan Corporate Governance secara langsung akan mambuat perusahaan itu sendiri memiliki kemampuan bertahan karena pengelolaan yang baik.

Bacaan :

  1. Artikel mengenai Corporate Social Performance dan Corporate Governance di wikipedia.org
  2. Artikel mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) di SCRIndonesia (www.csrindonesia.com)
  3. Pedoman penerapan good governance. Komite Nasional Kebijakan Governance (www.governance-indonesia.com)
  4. Pedoman Good Governance. Komisi Pemberantasan Korupsi (www.kpk.go.id)
  5. UU no. 40 th. 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 21, 2009 by in Pascasarjana Sosiologi.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: