Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

SOAL FACEBOOK PEMKOT, BUKAN HANYA TENTANG BANDWIDTH

Demam Facebook ternyata tidak hanya melanda para remaja, bahkan sampai orang-orang dewasa pun kecanduan dengan situs jejaring sosial yang popularitasnya menggeser Friendster tersebut. Tidak masalah jika situs pertemanan maya tersebut dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif misalnya mempererat silaturahmi atau promosi bisnis, yang jadi masalah jika jejaring sosial itu digunakan tidak lebih hanya sekedar “cangkruk maya”. Ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada tujuan yang jelas. Ironisnya, jika penggunaan sekedar ngobrol tersebut dilakukan pekerja pada saat jam efektif. Ini jelas akan mempengaruhi produktifitas dan konsentrasi kerja.

Beberapa hari kemarin, media massa ramai memberitakan penurunan traffic internet Pemkot Surabaya terkait besarnya bandwidth yang dipakai user untuk mengakses Facebook (Fb) dan Yahoo Messenger (YM) hingga mengganggu fasilitas yang lain. Bahkan kepala Diskominfo Jatim Khalid Bukhari menyatakan bahwa penurunan bandwidth akibat pemakaian keduanya sampai sekitar 65 persen dari seluruh penggunaan bandwidth di lingkungan pemkot Surabaya (Jawapos, 8/9/09). Dan setelah diadakan pemblokiran terhadap situs Fb dan penggunaan YM, tercatat penurunan 9.000 homepage yang tidak dibuka setiap harinya.

Walikota Surabaya, Bambang DH menyatakan bahwa penyalahgunaan akses internet untuk Fb dan YM hanya oleh pegawai tertentu saja berdasarkan pengamatan tidak menjumpai pegawai bermain Fb dan YM saat dilakukan sidak (Jawapos, 8/9/09). Hal ini tidaklah benar 100 persen. Tidak terlihatnya pegawai pemkot menggunakan Fb saat sidak tidak lantas menunjukkan bahwa hanya pegawai tertentu saja yang melakukannya karena sangat cepat seseorang bisa menutup jendela browser sehingga terkesan dia sedang bekerja. Menurut saya, sebenarnya persoalan yang dialami oleh Pemkot Surabaya ini bukanlah masalah keterbatasan bandwidth saja, melainkan yang lebih substansial adalah soal produktifitas, efektifitas dan etos kerja. Dibawah ini kita akan menguraikannya satu-persatu.

Di tempat kami, teknologi Fortinet sudah digunakan sejak 3 tahun lalu. Sebenarnya, kebutuhan utama penggunaan fortinet ini bagi kami adalah sebagai filter terhadap situs-situs yang mengandung materi pornografi dan situs yang berpotensial menyebar virus ke komputer jaringan sekolah. Dengan fortinet, selain untuk memblokir situs negatif-destruktif kami juga bisa memantau situs apa saja yang dibuka, pada jam berapa dan oleh komputer mana. Seharusnya institusi sekelas Pemkot Surabaya sudah harus menggunakannya. Fortinet yang dimaksudpun tidak harus yang berharga milyaran rupiah, cukup dengan ribuan dollar atau sekitar puluhan juta sudah memadai.

Pemantauan ini dimungkinkan jika semua komputer yang ada di jaringan diidentifikasi dengan penomoran IP. Dengan register yang tercatat pada fortinet, administrator bisa mengetahui komputer mana yang sedang mengakses internet, kapan dan untuk apa dia menggunakannya. Solusi alternatif lain juga bisa dilakukan. Misalnya dengan menggunakan Java Virtual Machine, setiap user diberikan username dan password yang digunakannya setiap membuka browser untuk mengakses internet. Username bisa diberikan dengan kodifikasi tertentu, misalnya dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) atau kode instansi.

Pemblokiran situs Facebook dan Yahoo Messenger oleh Diskominfo Propinsi mungkin dilakukan dengan melakukan setting pada proxy server. Memang untuk pengguna awam hal ini bisa mengatasi persoalan. Tapi sekarang sudah banyak yang tahu bahwa ini bisa diakali dengan pemakaian tool by-pass proxy server yang banyak sekali jumlahnya. Dan jika banyak pegawai pemkot yang menggunakan ini, alhasil bandwidth sebesar apapun yang disediakan tidak akan mengatasi persoalan.

Ada baiknya kepada semua pegawai Pemkot Surabaya mengakses Facebook dari mobile phone saja, saat ini tercatat 65 juta pengguna Facebook mobile di seluruh dunia. Dengan akses dari handphone, setidaknya tidak mengganggu traffic bandwidth pemkot meski tetap berpotensi mengganggu kerja. Penggunaan Facebook mobile-pun tidak terlalu mahal, untuk provider di Indonesia harga langganan mulai 5 ribu rupiah perbulan.

Bukan soal bandwidth

Sebenarnya persoalan penggunaan Facebook di kalangan pegawai pemkot Surabaya lebih dari hanya sekedar persoalan bandwidth yang terbatas, tetapi pada soal produktifitas, efektifitas dan etos kerja. Berdasarkan pemantauan yang kami lakukan dengan monitoring tool, pengguna Facebook lebih banyak memanfaatkan situs tersebut untuk chatting atau menulis pesan di dinding (wall—dalam istilah Facebook), bukan mengupdate status. Apa artinya ini? Ini berarti intensitas dan konsentrasi user facebook cenderung dilakukan bukan sambil lalu, melainkan dengan serius. Semakin banyak teman seorang user, semakin banyak kesempatan ia berinteraksi dengan sesama teman yang sedang online. Dalam satu browser, ia bisa membuka jendela chatting yang jumlahnya puluhan.

Seseorang yang membuka Facebook akan cenderung tidak konsentrasi pada lingkungan sekitar dan lupa pada pekerjaannya. Ini terjadi di tempat kami, misalnya pada saat pelajaran komputer atau multimedia, siswa yang membuka Facebook cenderung tidak konsentrasi pada pelajaran. Sehingga dalam kondisi seperti ini, kami memblokir Facebook. Hal ini mungkin melenceng jauh dari harapan pendiri Facebook, Mark Zuckerberg seperti ditulisnya ‘Facebook’s mission is to give people the power to share and make the world more open and connected” yang tentunya tidak mengorbankan waktu kerja efektif.

Jika memang benar bahwa pengurangan bandwidth pemkot akibat pemakaian Facebook sampai 65 persen dan penurunan homepage yang diakses sampai 9 ribu, bisa dipastikan bahwa sebagian besar pegawai pemkot adalah pemakai aktif Facebook. Jika mereka menggunakan Facebook dalam jam efektif kerja, ini berarti kerja pegawai pemkot kurang efisien, tidak produktif dan tidak menunjukkan etos kerja pegawai negeri yang baik. Macetnya traffic internet pemkot menunjukkan pemakaian Facebook yang masif, artinya Facebook digunakan serius dan terus menerus. Jika pemakaian Facebook adalah terus menerus, artinya sebagian besar waktu digunakan untuk ngobrol ngalor-ngidul dengan teman di Facebook.

Mungkin ada baiknya pemkot melakukan penyadaran akan fungsi internet kepada seluruh jajarannya, ini saya rasa lebih baik dari sekedar memblokir situsnya yang sebenarnya bersifat netral, manusianyalah yang menyalahgunakan. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 30, 2009 by in Teknologi.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: