Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Manusia, Khalifah dan Bahasa

Alkisah sebelum melantik manusia sebagai khalifah di bumi, Allah melakukan hearing dengan malaikat. Meskipun Allah memiliki otoritas penuh, namun untuk memberikan pelajaran musyawarah, Allah berkehendak mengetahui pendapat pembantunya yang setia itu, walau meski tanpa tanya Allah pastinya sudah mengetahui semuanya. Dalam “drama” itu Allah berkata kepada malaikat: “Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah”. Malaikat protes: “Mengapa engkau menjadikan di bumi itu (manusia) yang merusak dan menumpahkan darah”. Allah menjawab: “Sesungguhnya Aku tahu apa yang tidak kamu tahu”.

Untuk membuktikan bahwa pilihan Allah tidaklah salah, maka Allah menguji manusia (diwakili Adam) dan Malaikat. Allah mengajarkan nama-nama benda seluruhnya kepada Adam dan mengemukakannya kepada malaikat serta menyuruh keduanya untuk menyebutkan kembali kata-kata yang sudah diajarkan. Dalam fit and proper tes ini malaikat menyerah dan mengakui kelemahannya, sedangkan Adam berhasil lulus ujian.

Ada beberapa hal menarik yang perlu kita cermati dalam kisah ini yakni pertama, adanya perbedaan metodologis penyampaian nama-nama benda yang diajarkan oleh Allah kepada Adam dan malaikat. Dalam bahasa al-Qur’an dikatakan bahwa Allah mengajarkan (N¯=tæ) kepada Adam, sedangkan kepada malaikat hanya sebatas mengemukakan (Úztä). Ayat ini menyampaikan kepada kita bahwa dalam proses pendidikan (penyampaian informasi) yang paling efektif adalah ‘allama, bukan sekedar ‘aradha. Menjadi penting kemudian jika kita bertanya kepada diri kita sendiri, selama ini kita mengajari anak-anak kita, siswa-siswi kita dengan paradigma ‘allama ataukah ‘aradha? ‘allama bermakna bahwa pendekatan yang dilakukan dalam proses pengajaran adalah pendekatan ilmiah yang menekankan pada proses. Ada metodologinya, ada pengamatan, ada pengalaman, ada pengujian dan baru penarikan kesimpulan. Sedangkan ‘aradha hanya seperti angin lalu, informasi disampaikan tapi tidak ada telaah lanjut, maka pantas saja malaikat tidak bisa menyebutkan kembali nama-nama benda yang diajarkan Allah. Pelajaran apa saja yang harus disampaikan dengan paradigma ‘allama? Jawabnya, semua pelajaran. Termasuk pelajaran moral: membantu sesama, berbuat jujur, adil, dsb. Kisah populer pengajaran al-Ma’un oleh Kyai Ahmad Dahlan adalah bentuk pengajaran dengan paradigma ‘allama, menyuruh muridnya terlibat langsung dalam proses penarikan kesimpulan makna ayat.

Kedua, apa yang dimaksud dengan nama-nama benda ($yg¯=ä. uä!$oÿôœF{$# ) itu? Mengapa yang menjadi materi uji adalah nama-nama benda dan bukan yang lain, misalnya kepatuhan yang menjadi keunggulan yang dibanggakan malaikat? Nama adalah merupakan kata yang menunjuk pada identitas, keberadaan. Dengan memiliki nama sesuatu dianggap eksis, minimal secara lingustik. Nama adalah kata, dengan begitu nama-nama benda dapat dikatakan sebagai pengetahuan dasar akan bahasa. Mengapa bahasa menjadi penting? Karena bahasa adalah jembatan ilmu pengetahuan. Wittgenstein, seorang filsuf bahasa menyatakan bahwa dimana batas bahasa seseorang disitulah batas ilmu pengetahuannya. Jadi Allah mengajarkan bahasa dasar kepada Adam, dan dengan kemampuan ilmiahnya Adam mampu mengembangkan bahasa dasar itu menjadi ilmu pengetahuan yang fungsional. Sedangkan malaikat masih dalam tataran magis: ia terkungkung dalam nama-nama. Kata malaikat: “Aku tidak ada pengetahuan pada kami kecuali apa yang Engkau berikan”.

Ketiga, meski Allah sudah tahu bahwa prediksi malaikat tentang kecenderungan manusia untuk membuat kerusakan (߉šøÿム$pkŽÏù) dan menumpahkan darah (uä!$tBÏe$!$# 7Ïÿó¡o„u) akan benar-benar terjadi, mengapa Allah tetap memilih manusia menjadi khalifah? Terkait dengan kemampuan manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dengan bahasa sebagai jembatannya, manusia memiliki kemampuan berkreasi, berinovasi. Manusia dengan kemampuan ilmiahnya mampu mencipta—dalam artian merubah sesuatu menjadi bentuk lain—ini dipandang Allah sebagai representasi dari keMahaPenciptaan-Nya. Malaikat yang pasif dan jumud tidak bisa berkreasi, karenanya tidak pantas jadi wakil Allah di bumi.

Keempat, hubungan dengan ayat selanjutnya, mengapa malaikat disuruh menghormat kepada Adam setelah proses ujian itu selesai? Adam dipandang sebagai perwakilan Allah setelah diangkat jadi khalifah, karenanya semua makhluk yang lain tidak terkecuali malaikat harus sujud (menghormat) kepadanya. Penghormatan ini semata-mata bermakna bahwa manusia lebih mulia karena ia bisa mengembangkan pemberian Allah, ia berproses menuju perbaikan. Sedangkan makhluk lain akan selalu statis tidak berkembang peradabannya.

Setelah peristiwa pelantikan dilakukan, drama kehidupan manusia dimulai. Namun, benar juga prediksi malaikat: manusia membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Anak Adam yang awal, Qabil dan Habil sudah mengawali pembunuhan. Lalu salahkah Allah menujuk manusia sebagai khalifah? Ataukkah fit and proper test dulu tidak representatif? Kita harus menjernihkan pikiran dalam menjawab masalah ini. Ujian yang diberikan Allah kepada Adam adalah ujian kepada Adam secara personal, ia mewakili manusia hanya dalam tataran konseptual. Tapi dalam kehidupan praktis ini, masing-masing individu akan dilakukan tes sendiri-sendiri. Semua pribadi manusia akan dites oleh Allah, ia diajar ilmu melalui alam, mampukah ia mengembangkan pengetahuan dasar yang diberikan kepadanya?

Tidak semua manusia berhasil menjadi khalifah, ada juga yang gagal. Status khalifah hanya akan disandang mereka yang mampu mengembangkan kemampuan yang diberikan (Nèdr’t6/Rr& öNÎhͬ!$oÿôœr’Î/). Memaksimalkan potensi dirinya untuk menjadi wakil Allah di bumi ini. Menjadi wakil Allah artinya “membantu” Allah dengan kekuasaan dan sifat yang “sama” dengan Tuhan: mencipta,  memelihara, mengatur, dsb. Bagi manusia yang gagal menjadi khalifah, maka ia harus menaati manusia yang sukses sebagai khalifah, ia harus “sujud”, hormat. Jika tidak mau? Maka ia akan seperti iblis, yang angkuh meski tahu kalau ia gagal. Manusia seperti ini akan diusir Allah dari surga, baik surga di dunia maupun surga di akhirat.

Semoga kita sukses melewati ujian menjadi khalifah, kalaupun gagal, minimal kita mau menghormat kepada mereka yang terbukti berhasil menjadi khalifah, kalau tidak maka kita tergolong iblis. Wallahu ‘alam bisshawab. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 30, 2009 by in Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: