Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Rivalitas Politik dalam Teori Mimetik

Tahun 2009 dikatakan sebagai tahun politik. Berbagai pemilihan umum digelar, mulai dari pilkada, pileg sampai pilpres. Banyaknya partai politik yang didirikan dinilai banyak pihak lebih mempresentasikan keinginan untuk ikut andil dalam distribusi kekuasaan daripada motivasi membangun demokratisasi itu sendiri. Keinginan mendapatkan jatah kekuasaan itu juga berarti keinginan mencegah pihak lain mengambil jatah tersebut, kerenanya partai politik berusaha membangun aparatur yang tersebar di seluruh negeri.

Pada pemilu legislatif yang baru lalu kita laksanakan, tidak kurang dari 14 ribu caleg meramaikan pertarungan memperoleh dukungan rakyat. Sedemikian banyaknya nama calon ini sampai-sampai kertas suara yang besar hanya bisa memuat tulisan nama mereka saja. Pertanyaan yang disampaikan banyak kalangan, mengapa sedemikian besar jumlah orang yang ingin menjadi anggota legislatif? Pertanyaan itu juga mempunyai relevansi dengan pemilu presiden yang akan kita gelar sebentar lagi, mengapa banyak orang ingin menjadi presiden? Sampai-sampai rivalitas itu melanda sipil-militer, senior-yunior, jawa-non jawa, dan sebagainya. Semua politisi ribut ingin menduduki kursi RI-1, hanya saja ada yang berkesempatan karena didukung kekuatan partai, dan ada yang tidak.

Faktor keinginan berkuasa (will of power) seringkali dikemukakan sebagai jawaban dari pertanyaan di atas. Orang kemudian mengatakan bahwa banyak yang berhasrat jadi presiden karena dengan jadi presiden ia memiliki kekuasaan, bisa memerintah orang lain dan memaksakan keinginan. Dalam kekuasaan seorang presiden, juga include di dalamnya, kekuasaan partai politik pengusungnya, inilah mengapa koalisi dukung-mendukung capres tertentu terlihat lebih pragmatis-oportunistik daripada idealis. Dengan memiliki akses kekuasaan, parpol bisa mereduksi kompeksitas—meminjam bahasa Niklas Luhmann, bahkan lebih jauh seperti diungkapkan Michel Foucault, memiliki mekanisme sosial untuk mendisiplinkan masyarakat, membentuk diskursus mereka, keinginan mereka bahkan subyektifitas mereka. Parpol asal presiden melakukannya melalui jalur kekuasaan presiden dan parpol pengusung melakukannya melalui jalur menteri yang dijatahkan kepada mereka.

Namun jawaban di atas tetap belum memberikan penjelasan detail mengapa orang ingin berkuasa. Profesor Rene Girard, seorang antropolog melalui studinya yang mendalam dalam bidang kesusastraan, mengemukakan teori mimetik (peniruan). Menurut Girard dalam bukunya Mimetic, Desire and the Novel (1965) manusia secara ab origine terikat pada mekanisme sosial yang mengikat hasrat mereka dengan hasrat orang lain. Keinginan, hasrat (desire) seseorang tidak lagi berparadigma saya mengingkan sesuatu karena saya menginginkannya, tetapi yang lebih tepat menurut Girard, saya menginginkan sesuatu karena orang lain menginginkannya. Orang menghasratkan sesuatu karena meniru model idolanya, dan hasrat meniru (mimetic desire) itu seperti wabah, menyebar luas ke semua orang sehingga secara sosial mereka menghasratkan hal yang sama.

Jika dalam teori mimetiknya Palato lebih cenderung pada peniruan model yang bersifat idea—sempurna, ideal, maka Girard berpaling dan menganggap model itu sesuatu yang real, secara kasat mata bisa ditiru dan subyek bisa berusaha menyamai model. Inilah yang dinamakan mediasi. Subyek, obyek dan model berada dalam segitiga hasrat, orang menghasratkan sesuatu karena meniru model. Namun dalam perkembangannya, akan terjadi konflik jika model sudah dianggap sebagai saingan, bukan idola lagi. Idola yang awalnya model menjadi musuh karena dianggap saingan.

Inilah sesungguhnya yang terjadi pada politisi kita. Wabah mimetis menghantui semua orang, karena orang lain menghasratkan menjadi wakil rakyat, maka dengan cepat orang lain juga menghasratkannya. Model mereka adalah para wakil rakyat yang pada pemilu sebelumnya berhasil menduduki jabatan anggota legislatif. Masyarakat melihat kehidupan anggota legislatif tersebut lebih enak, memiliki akses besar, dihormati orang dan banyak uang. Akhirnya wabah mimetis menghantui, memaksa banyak orang berusaha menirunya, menghasratkan menjadi anggota legislatif juga dengan meniru model. Namun, model yang mereka tiru akhirnya menjadi musuh, karena model-model itu juga berusaha menjadi anggota legislatif lagi, maka pecahlah konflik. Partai politik memberikan lapangan konflik tersebut, konflik fisik dan nonfisik terjadi dalam percaturan politik nasional.

Begitu juga dalam perebutan kursi presiden. Bedanya jika mediasi yang terjadi dalam pemilihan legislatif, mediasi yang terjadi adalah mediasi intern—model dan subyek berada dalam kondisi yang sama, maka dalam pemilu presiden, mediasi yang terjadi adalah campuran mediasi ekstern dan intern. Mediasi ekstern sangat mungkin terjadi karena 3 pasangan capres-cawapres memiliki satu kesamaan : kedekatan emosional dengan Soekarno. Megawati, sangat mungkin mengidolakan bapaknya, sehingga ia akan menghasratkan menjadi presiden seperti mendiang Bung Karno. SBY, Prabowo, dan Wiranto merupakan kalangan militer yang mungkin juga menokohkan Bung Karno, sehingga mereka juga akan menghasratkan posisi presiden. Karena mereka menghasratkan obyek yang sama, maka pasangan lain secara otomatis dianggap sebagai rival. Konflik pun pecah,  rivalitas mereka mewabah dan menulari semua anggota dalam birokrasi politik sampai ke akar rumput. Mimetis memainkan peranan penting dalam terjadinya konflik antar pasangan capres dan konflik antar pendukung capres.

Mediasi intern juga dimungkinkan terjadi. Presiden SBY yang tampak berwibawa bisa jadi membuat orang lain—lawan politiknya—mengidolakannya. Terjadi dilema dalam hasrat para capres, satu sisi ia menginginkan bisa menjadi seperti presiden incumbent, sisi lain mereka harus bersaing dengannya (konsekuensinya menjadikan presiden incumbent sebagai rival). Dalam mediasi intern inilah, konflik sebenarnya lebih rawan terjadi, karena jika status subyek dan model sudah sejajar (sama-sama calon presiden) dengan hasrat penguasaan obyek yang sama (jabatan presiden), maka model menjadi rival. Dalam kamus politik, rivalitas memperbolehkan mereka melakukan segala cara agar hasrat bisa terpenuhi.

Inilah yang menjadi catatan kita bersama, bagaimana rivalitas politik bisa menjadi konflik jika kita melihatnya dalam bingkai teori mimetik. Terutama para capres-cawapres, karena hasrat metafisik dari mekanisme hasrat segitiga ini tidak kentara, sedemikian tidak kentaranya sehingga banyak pihak bisa menyangkal kalau mereka telah terjangkiti wabah mimetis ini. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2009 by in Uncategorized.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: