Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

QURBAN & TEORI KAMBING HITAM

Rene Girard, seorang antropolog kelahiran Prancis yang kini menjadi Andrew B. Hammond Professor dalam bidang bahasa Prancis, sastra dan humanistik dari Stanford University pada tahun 1972 menerbitkan bukunya Violence and The Sacred yang didalamnya berisi teori Girard tentang mekanisme kambing hitam (scapegoat) sebagai unsur utama pembentuk agama. Sambutan terhadap teori itu baru meluas di kalangan ekseget (ahli kitab kristen) dan teolog kristen pada dekade 80-an. Namun tidak banyak intelektual muslim yang tertarik terhadap teori tersebut.

Girard berpendapat bahwa agama berasal dari ritual korbani, hal ini didasarkannya pada studinya tentang kesamaan ritual korbani pada agama-agama di dunia, dan disandarkan pada teorinya terdahulu: hasrat peniruan (mimetic desire) yang ditulis dalam bukunya Deceit, Desire and The Novel (1961). Secara singkat dapat diterangkan teori kambing hitam (the scapegoat theory) itu sebagai berikut: manusia pada dasarnya suka meniru karena ia memiliki hasrat peniru (mimetic), dalam meniru ia akan mencari model. Lama-kelamaan model itu dirasa sebagai saingannya, dan karena posisi model dan subyek peniru sejajar maka timbullah konflik. Konflik itu kemudian melahirkan kekerasan. Kekerasan menjadi wabah yang menjangkiti komunitas, karenanya harus dihindari. Namun manusia sudah terlanjur memiliki hasrat kekerasan dan hasrat itu harus disalurkan, jadilah penyaluran kekerasan itu diarahkan kepada yang lain. Sesuatu (manusia/binatang) yang menjadi sasaran kekerasan sebenarnya tidak salah, tapi ia dijadikan kambing hitam atas kesalahan masyarakat. Namun mekanisme korban pengganti itu haruslah tidak diketahui pelakunya agar penyaluran kekerasan bisa efektif, jadilah kemudian muncul tata ritus. Dari tata ritus berkembanglah mitos dan mitos berkembang menjadi agama. Inilah yang pada akhirnya membuat Girard berkomentar bahwa agama adalah ‘istilah lain bagi kegelapan terselubung yang menaungi manusia dalam usahanya untuk membela diri dengan tindakan-tindakan preventif dan kuratif melawan kekerasannya’ (Girard: 1972).

Mengapa teori ini begitu menimbulkan pro dan kontra terutama di kalangan teolog kristen? Hal ini tidak lain karena implikasi dari interpretasi teori ini terhadap keberadaan agama. Jika memang mekanisme korban pengganti haruslah tidak diketahui pelakunya dan itu dibingkai dalam agama maka jelas agama dianggap melakukan penipuan. Dan ini diakui sendiri oleh Girard. Pertanyaannya, bagaimana mungkin agama mengajarkan pemeluknya untuk tidak menipu sedangkan ia sendiri adalah institusi yang dibangun diatas landasan penipuan? Dan jika agama hanyalah institusi penanganan kekerasan, maka apakah dalam peradaban masyarakat modern dimana penanganan kekerasan sudah diserahkan kepada institusi formal bentukan manusia yang memiliki hukum legal (kepolisian) maka agama menjadi barang usang? Dua poin ini yang menjadi provokasi Girard terhadap para teolog.

Teori ini menjadi penting untuk kita kritisi menyangkut interpretasinya mengenai keberadaan agama dan ibadah qurban. Memang Girard tidak melakukan studinya dengan referensi al-Qur’an, namun kesimpulan teorinya mencakup semua agama. Jika benar begitu maka orang bisa mengatakan: Islam sudah usang dan agama hanyalah usaha manipulatif. Banyak diantara ahli ekonomi, militer dan pengamat sosial mengamini teori Girard ini semata karena kesesuaian teorinya dengan fenomena keterbatasan ekonomi, perang dan kriminalitas. Namun jika kita mengamini teori tersebut, maka kita juga mau tidak mau harus mengakui implikasi teologis yang dibawanya.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengikuti teori kambing hitam ini adalah: pertama, teori kambing hitam ini tidak bisa difalsifikasi—begitu menurut penuturan Girard sendiri. Dan seperti pernyataan Karl Popper, pernyataan yang tidak bisa difalsifikasi bukanlah sebuah pernyataan ilmiah. Ia tidak bisa dipertahankan sebagai sebuah teori ilmiah. Kegagalan  falsifikasi teori ini adalah tidak adanya fakta yang bisa dijadikan bukti bahwa agama memang diciptakan untuk menipu. Tidak jelas periode sejarah mana yang dianggap Girard sebagai awal terjadinya semua ini.

Kedua, Pernyataan Girard berpotensi meneruskan tradisi triumfalisme dalam Kristen. Triumfalisme ini menganggap tinggi ajaran agamanya dan memandang rendah ajaran agama lain. Resiko triumfalisme ini diperparah dengan referensi Girard yang berhenti pada teks Bibel dan tidak melakukan pembacaan terhadap kitas suci selanjutnya, al-Qur’an. Padahal semua tahu bahwa Bibel sudah tidak murni lagi, sehingga validitas datanya dipertanyakan.

Ketiga, mungkin teori kambing hitam ini relevan untuk menjelaskan ritus korbani dalam agama primitif dimana dalam proses pengqurbanan sangat terasa nuansa sadisme, namun dalam Islam binatang qurban diusahakan sebisa mungkin tidak merasakan sakit. Itulah mengapa binatang qurban dalam Islam diikat supaya tidak bisa bergerak dan pisau yang digunakan menyembelih harus diasah setajam mungkin.

Keempat, bagaimanapun hukum legal dalam masyarakat modern tidak akan bisa menggantikan peran agama. Girard beranggapan bahwa agama pada dasarnya ada untuk menangani kekerasan, karena masyarakat primitif tidak mengenal hukum legal maka mereka membuat ritus korbani sebagai katarsis kekerasan. Lalu apakah dalam masyarakat modern yang memiliki hukum legal ini agama bisa dihapus? Tentu saja tidak, karena aspek agama yang transenden melampaui alam fisik, bahkan metafisik, sangat luas dan tidak sebanding dengan hukum legal formal apapun yang selalu terbatas dan tidak sempurna. Mungkin agama memang akan hilang dari muka bumi ini, namun itu terjadi bukan semata karena penyaluran kekerasan sudah diambil alih institusi lain, namun semata karena sistem budaya yang mengarah pada kehancuran

Kelima, bagaimana Girard bisa menerangkan keberadaan agama atau sistem kepercayaan yang tidak memiliki ritus korbani, atau yang melakukan ritus korbani namun tidak mengurbankan binatang, tapi hasil pertanian. Misalnya saja agama Budha yang tidak menyetujui pengqurbanan karena dianggapnya menyakiti sesama makhluk?

Teori Girard didasarkan pada penekanan bahwa agama terutama adalah sistem ritus, dan ritus korbani adalah dasar dari semuanya. Padahal, agama disamping sebuah sistem ritus (ibadah), juga merupakan sistem kredo (keimanan) dan sistem norma (perintah-larangan). Girard—dan banyak intelektual barat—lebih memandang agama dari sistem ritus, karena memang secara kasat mata hal itu lebih bisa diamati daripada menelisik keyakinan dan aturan agamanya. Padahal agama bagi pemeluknya lebih dari sekedar menjalankan ibadah, namun yang terpenting adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta yang terutama meyakini keberadaan tuhannya. Jadi bukan ritus, tapi kredo-lah yang terpenting. Dalam Islam pun, bersyahadat adalah syarat pertama memeluk Islam, bukannya melaksanakan qurban. Setelah syahadatpun bukan qurban yang diprioritaskan, tapi shalat, puasa, zakat dan haji. Qurban hanyalah bagian dari haji, meski bukan berarti qurban tidak penting.

Meski secara metodologis teori Girard tidak bisa diterima, namun bagaimanapun ia tetap provokatif bagi pemeluk agama yang taat untuk menafsir dan membaca kembali kitab sucinya. Bukan dalam rangka menafsir agama dengan berdiri diluarnya, namun melihat agama sebagai instrumen harmonis dari dalam agama itu sendiri. Seperti kata Mircea Eliade, jika penganut suatu agama tidak berkata “ya” terhadap pernyataan anda terhadap agama mereka, maka pernyataan anda salah. Wallahu ‘alam. []

One comment on “QURBAN & TEORI KAMBING HITAM

  1. yahya
    November 3, 2009

    Dalam islam berqurban merupakan ajaran yang sakral, dan agama bukan seperti apa yang diperkirakan dalam teori tersebut. Agama merupakan wahyu Allah yang keberadaannya diakui oleh semua manusia jika manusia mau jujur dengan apa yang ada pada batinnya. tetapi manusia itu sendiri yan menipu dirinya dan orang-orang yang berada di sweisekitarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2009 by in Uncategorized.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: