Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

PUASA : PHILOSOMA VS PHILOSOPHIA

Dalam tradisi barat modern awal, pembacaan atas manusia cenderung pada permasalah nalar dan logika, sebagaimana tampak pada lebih populernya status homo sapiens dengan jargon cogito ergo sum-nya penganut cartesian. Namun kemunculan Freud dengan uraiannya tentang kesadaran dan ego agaknya menyingkirkan pandangan tersebut dan dalam banyak kasus para ahli lebih melihat manusia sebagai homo desiderare (makhluk yang berkeinginan). Terlebih setelah era pemikiran Jacques Lacan, Hegel, Foucault, Derrida sampai Kristeva di mana kosakata seperti keinginan (want), hasrat (desire), gairah (passion), dan libido mulai banyak dipakai untuk menjelaskan kompleksitas makhluk manusia.

Hegel membagi hasrat menjadi dua: kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan bersifat fisiologis, sedangkan keinginan/hasrat bersifat imajinatif. Hegel membedakan hasrat manusia berbeda dengan binatang karena hasrat manusia bersifat historis. Misalnya, seseorang yang awalnya hanya berpakaian sederhana kemudian ia melihat orang lain memakai pakaian yang lebih bagus menurutnya, maka pengalaman itu membuatnya memiliki keinginan atau hasrat untuk mengenakannya juga. Karenanya semakin lama manusia hidup, jika ia tidak bisa mengendalikan hasratnya, ia akan terjebak pada keinginan-keinginan tanpa batas. Hal ini berbeda dengan binatang, karena binatang hanya memiliki hasrat yang berjenis kebutuhan (makan, minum, seksualitas) sedangkan manusia disamping memiliki kebutuhan juga memiliki keinginan (kekayaan, kehormatan, seksualitas lebih, dll).

Dalam konteks penyebab hasrat ini, filsuf zaman aksial seperti Sokrates dan Plato membagi faktor menjadi dua: karnal dan libidinal. Karnal adalah hasrat manusia kepada hal-hal yang material, seperti keinginan terhadap harta benda, makanan dan berbagai jenis kebutuhan material lain. Sedangkan hasrat libidinal (libido)—yang sering dikonotasikan oleh psikoanalisis dengan seksualitas—adalah hasrat kepada hal-hal yang imaterial seperti cinta, citra, harga diri, kepandaian, penghormatan dan berbagai kebutuhan imaterial lain. Dalam realitanya, karnal dan libidinal menyatu bersama membentuk hasrat yang lebih kompleks. Misalnya keinginan memiliki mobil (karnal) karena dianggap bisa menaikkan gengsi dan harga diri (libidinal).

Manusia harus bisa mengarahkan dan mengendalikan hasratnya agar tetap berjalan di atas rel kebaikan, bukan malah menjadi budak dari hasrat. Untuk mengatasi hal ini, seperti ungkapan Socrates dalam teks Phaedo-nya, adalah pemisahan Psyche dengan Soma. Psyche yang selalu mengarahkan manusia berbuat kebajikan tidak akan menang melawan Soma yang menawarkan pemuasan kebutuhan dunia. Karenanya tiada jalan lain untuk mencapai kebajikan kecuali pemisahan Psyche dan Soma. Pemisahan ini bermakna kematian. Kematian secara alamiah otomatis menyebabkan Psyche lepas dari Soma. Namun untuk memisahkan Psyche dari Soma kita tidak harus benar-benar mati, karena yang dimaksud kematian oleh Sokrates ada dua: kematian biologis dan kematian non-biologis. Kematian biologis adalah kematian dalam makna umum yang sering kita pakai, sedangkan kematian non-biologis adalah keterpisahan antara Psyche dengan Soma dengan jalan pengendalian hasrat. Soma dipakai sekedar untuk mendukung agar Psyche selama hidup ini bisa digunakan dengan benar.

Orang yang menjadi budak dari hasratnya dikatakan oleh Sokrates sebagai Philosoma, pecinta hasrat, pecinta tubuh, dalam bahasa agama ini disebut dengan penyakit Wahn (hubbuddunya wa karahiyatul maut). Sedangkan seseorang yang bisa mengendalikan hasratnya, malah hasratnya difungsikan untuk mendukung tercapainya kebijaksanaan oleh Psyche, maka orang seperti ini disebut Pshilosopia, pecinta kebijaksanaan, atau dalam bahasa agama dikatakan sebagai seorang yang hanif.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan, bulan dimana semua orang mukmin yang baligh dan berakal diwajibkan berpuasa. Dalam konteks manusia sebagai HomoDesiderare (makhluk yang berkeinginan), baligh dan berakal sebagai syarat wajib puasa menunjukkan bahwa puasa ini diarahkan untuk membatasi keinginan—dalam bahasa Freud, mungkin puasa termasuk superego yang menjadi represi hasrat. Sejalan dengan klaim Hegel tentang hasrat manusia yang bersifat historis diatas, hanya orang yang baligh dan berakal yang memiliki hasrat yang berpotensi besar tidak terkendali. Manusia pra-baligh belum dapat dikatakan sepenuhnya memiliki hasrat secara sadar, termasuk orang tidak berakal (gila), dengan kata lain hasrat mereka belum dipertanggungjawabkan.

Puasa (siyam) secara bahasa berarti menahan, atau secara terminologi diartikan dengan menahan hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari (yumsikuuna ‘anil mufthirati minal thulu’il fajri ilaa ghurubil syamsi). Dalam konteks pembahasan kita, puasa bisa dimaknai sebagai latihan ‘kematian’ non-biologis, independensi Psyche dari Soma. Ini karena dalam puasa, seorang mukmin diwajibkan menjauhi kebutuhan Soma baik yang karnal (larangan makan, minum) maupun yang libidinal (seks, larangan bertengkar, marah, berbohong, dll) dalam batas waktu yang ditentukan Islam secara manusiawi.  Dalam bulan puasa, seorang mukmin juga disunnahkan memperbanyak amal saleh, beribadah dan berkelakukan baik sebagai cerminan optimalisasi Psyche, yang mengarah kepada kebijaksanaan.

Jika Sokrates menyatakan bahwa independensi Psyche atas Soma bisa diwujudkan dengan Philosopia maka puasa juga bentuk Philosopia. Puasa adalah ranah pertarungan philosopia dengan philosoma. Jika philosopia yang menang, maka—seperti janji Allah—kita akan menjadi manusia muttaqin (QS.2:183), namun jika philosoma yang menang, maka kita hanya menjadi manusia budak hasrat, seperti sabda Nabi Muhammad: Berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus. Wallahu ‘alam. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2009 by in Uncategorized.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: