Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

PUASA DAN PROBLEMATIKA MODERNITAS

Marhaban ya Ramadlan. Kini kita kembali diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa menikmati kemuliaan puasa Ramadlan. Kesempatan emas ini harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan cara melaksanakan ibadah puasa seperti yang dituntunkan Rasulullah Muhammad SAW, mengisi Ramadlan ini dengan pelbagai amalan sunnah seperti shalat Tarawih, Tadarrus Al-Qur’an, Bersedekah dan sebagainya. Insyaallah dengan menjalankan puasa secara baik dan benar kita bisa meningkatkan derajat kita dari mukmin menjadi muttaqin.

Ibadah puasa secara umum ada pada semua agama. Misalnya pada agama Kristen, Yahudi, Hindu dan Budha. Bahkan dalam beberapa agama primitif dan aliran kepercayaan juga terdapat ritual semacam puasa dalam Islam. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat beberapa perbedaan, namun dapat dikatakan bahwa adanya puasa dalam semua agama menunjukkan pentingnya ibadah puasa itu sendiri. Dalam bahasa al-Qur’an disebutkan puasa juga diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu (QS.2:183). Bahkan Nabi Adam as dulu juga diwajibkan Allah “berpuasa” yakni tidak boleh mendekati “pohon” di surga.

Dalam Islam, puasa dikenal dengan terminologi siyam atau saum dan orang yang menjalankannya disebut dengan  soim. Dan pengertian puasa dalam Islam adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari (yumsikuna ‘ani al-muftiraati min al-tulu’I al-fajri ila al-ghurubi as-syamsi). Menurut al-Qur’an yang membatalkan puasa adalah makan, minum dan bersetubuh pada siang hari. Disamping hal-hal yang membatalkan tersebut, kita juga diharapkan menghindari hal-hal yang mengurangi pahalanya seperti berbohong, marah, menggunjing, mencuri, dan berbagai kejahatan lain. Alangkah indahnya dunia—meski bernada utopia—jika semua manusia selalu menjaga tingkah lakunya dalam keseharian seperti saat ia berpuasa.

Pola Hidup Masyarakat Modern

Saat ini kita hidup dalam era modernitas—bahkan ada yang menganggap sudah melewati modern, post-modern—yang dalam kritik Azyumardi Azra, dalam masyarakat barat telah menimbulkan akibat negatif yakni perancuan dan penyimpangan nilai. Masyarakat modern dengan budaya industri dikatakan dihinggapi rasa cemas dan ketidakbermaknaan dalam hidup. Masyarakat modern kehilangan nilai-nilai transendental dan kehidupannya dikotakkan dalam bingkai survival for the fittes-nya Darwinian sehingga semua orientasi perilakunya selalu diukur transaksional secara finansial. Semua hal dinilai dengan uang, bahkan sampai muncul slogan waktu adalah uang, karena waktu adalah uang semua jadi serba singkat. Orang berjalan singkat, tergesa-gesa dan dikejar waktu. Seolah-olah dalam modernitas ini manusia tidak lebih dari “sekedar” sumber daya, seperti mesin—atau meminjam istilah Erich Fromm, Automaton, berpikir serba otomatis.

Selain pola hidup diatas, budaya modern yang kentara adalah pola hidup konsumtif dan kompetitif. Hal ini memacu perasaan untuk selalu merasa kurang, sudah memiliki sesuatu masih ingin memiliki sesuatu yang lain. Pola hidup konsumtif digalakkan oleh industrialisasi untuk menggenjot produksi barang mereka, semakin konsumtif masyarakat maka semakin banyak omzet yang diraih. Semakin konsumtif suatu masyarakat, semakin menggurita pula industrialisasi. Semakin industri besar, maka potensi kerusakan lingkungan juga besar. Lihat saja polusi karena banyaknya pabrik, kendaraan, sampah bungkus makanan, alih fungsi lahan, dan sebagainya yang merupakan akibat pola hidup konsumtif. Sedangkan pola hidup kompetitif membuat manusia rentan terhadap persaingan tidak sehat, saling berburuk sangka, berselisih, menelikung lawan dan sebagainya.

Puasa Sebagai Solusi

Kalau kita lihat hakikat puasa pada dasarnya berlawanan secara diametral dengan dua efek negatif modernitas di atas. Puasa mengandaikan penahanan diri, pemberangusan nafsu lawwamah dari keinginan untuk memiliki yang berlebihan. Jangankan keinginan berlebihan, bahkan kebutuhan dasariah biologis semacam makan dan minumpun dilarang pada siang hari. Disamping makan dan minum, berhubungan suami-istri juga tidak diperbolehkan, ini merupakan kritik terhadap budaya seksualitas liar yang semakin tidak terkendali dewasa ini. Ini berarti jika saja puasa dapat dijalankan dengan benar, maka hasrat (desire) manusia modern yang disinyalir sudah melampaui batas ketersediaan obyek pemenuhan bisa ditekan dan diminimalisir.

Pola makan konsumtif juga menyebabkan problem medis yang cukup serius. Berbagai penyakit ditimbulkan karena pola makan yang tidak seimbang, sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa puasa bisa menyehatkan dan membersihkan kotoran endapan makanan dalam tubuh kita. Puasa juga digunakan sebagai terapi penyembuhan pada berbagai penyakit.

Selain persoalan konsumerisme, puasa juga bisa menjadi proteksi bagi kita untuk tidak berprasangka buruk kepada orang lain, tidak berbuat curang, tidak berselisih dan menggunjing. Hal ini sangat bagus mengingat dalam pola hidup kompetitif kecenderungan perbuatan semacam itu sangat besar.

Dalam al-Qur’an sudah disebutkan bahwa puasa membentuk manusia mukmin menjadi manusia muttaqin, dari beriman menjadi bertaqwa. Sedangkan dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa orang yang bertaqwa akan diberikan baginya jalan keluar dari segala persoalan dan diberikan rizki dari tempat yang tidak diperhitungkan (QS.65:2-3). Jadi kesimpulannya, dengan berpuasa orang bisa menjadi bertaqwa, dengan bertaqwa orang akan memperoleh solusi atas permasalahannya dan rizki dari tempat yang tidak diperhitungkan. Jika ketaqwaan ini bisa diraih dengan jalan ibadah puasa, maka ibadah puasa adalah solusi dari problem kehidupan masyarakat modern. Wallahu alam bis shawab.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2009 by in Uncategorized.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: