Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Mendamaikan Insting, Akal dan Hati

Kontroversi apapun yang ada di dunia ini jika dirunut sampai pada faktor primer penyebabnya dan kalau boleh dikelompokkan akan berpusat pada tiga aspek mendasar dalam diri manusia, yakni : Insting, Akal dan Hati. Berbagai persoalan yang terjadi, menyangkut apapun itu walau dengan kejadian yang sama akan menghasilkan respon yang berbeda jika didasari atas dominasi salah satu aspek di atas. Konflik dan kekerasan seringkali berakar dari perbedaan penyikapan atas sesuatu yang didasari atas perbedaan dominasi aspek ini.

Bertrand Russell, seorang filsuf agnostik yang keras ditolak oleh kaum agamawan konservatif agaknya perlu kita dengar pendapatnya tentang hal ini. Kehidupan insting meliputi semua dorongan yang dimiliki manusia bersama binatang yang lebih rendah, menyangkut kelangsungan diri dan naluri reproduksi, kehidupan instingtif amat personal. Kehidupan akal adalah kehidupan pencarian pengetahuan, dari rasa ingin tahu menuju penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah.

Ranah akal ini bersifat impersonal, dalam artian dia lebih focus pada obyek bukan karena ada hubungannya dengan insting kita. Kehidupan hati bersifat impersonal, dia misterius, sulit dikendalikan dan menyentuh bagian di luar wilayah akal Kehidupan hati amat erat kaitannya dengan wilayah insting, ini ditunjukkan oleh relasi dua hal: seni dan agama. Seni pada mulanya ada pada wilayah insting kemudian naik ke wilayah hati, dan agama pada mulanya dari wilayah hati kemudian mencoba mendominasi wilayah insting.

Insting, akal dan hati semuanya penting bagi manusia : jika ketiganya bisa diseimbangkan dan dipakai pada wilayah dan konteks masing-masing. Insting, akal dan hati bisa juga menjadi tidak berguna manakala ketiganya dipakai secara sporadis dengan melenyapkan yang lain. Pada bangsa primitif insting lebih dominan, akal dan hati terpinggirkan. Menjadikan menusia primitif sebagai makhluk buas dan tidak berperadaban, kanibalisme adalah contohnya. Pada kaum intelektualis murni, akal dominan tetapi insting dan hati tidak eksis. Menjadikan kehidupan kering, kosong dan tidak menusiawi. Menghasilkan sesuatu yang cenderung sinis dan destruktif, penciptaan senjata perang dan kerusakan lingkungan adalah eksesnya. Pada kaum asketis, seperti pertapa—dalam semua agama, kehidupan hati dikobarkan dengan melenyapkan insting dan akal. Menghasilkan kehidupan yang tidak progresif dan anti kemajuan.

Tidak ada yang lebih baik dalam kehidupan manusia melainkan menyatukan ketiganya dalam satu struktur yang koheren. Ketiganya bukan titik-titik yang terpisah. Antara insting, akal dan hati harus ada garis yang menyatukan dan—sekaligus—membedakan. Meletakkannya dalam ranah masing-masing, menggunakannya dalam wilayah masingmasing. Bagaikan sebuah segitiga yang berhubungan antara tiga titik-titiknya, menghasilkan tiga sudut dan tiga sisi, sebuah bangun dinamis : besar masing-masing sudut dan panjang ketiga sisinya mungkin berbeda antara satu orang dengan orang lain.

Tetapi jika kita bisa membuatnya seimbang, maka itulah jalan terbaik : besar sudut dan sisi yang sama! Ini adalah kondisi pada segitiga sama sisi di mana masing-masing bagian mendapat porsi yang seimbang. Ada baiknya merenungkan ayat 78 surat An-Nahl: Wallahu akhrajakum min buthuuni ummahaatikum laa ta’lamuuna syaia, wa ja’ala lakumu sam’a wal abshaara wal afidah. La’allakum tasykuruun.

Wallahu ‘alam bis shawab.

One comment on “Mendamaikan Insting, Akal dan Hati

  1. bey
    September 12, 2009

    pendengaran, penglihatan dan, hati…
    insting terbentuk dari kehidupan alam materi.
    akal dan hati mengasah insting sampai pada, terbebas dari ikatan duniawi, dan menjadi sebagaimana yang difirmankan,… ‘berhati-2lah dengan naluri seorang yg…(lupa lagi)”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 10, 2009 by in Humanis, Persyarikatan, Religius.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: