Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

PILGUB JATIM PUTARAN II; AKU MASIH GOLPUT

Pada Pilgub Jatim putaran pertama kemarin saya memilih untuk tidak memilih alias golput, pada putaran kedua yang digelar 4 November ini saya masih tetap tidak memilih alias abstain alias golput. Tulisan ini selanjutnya akan menguraikan alasan saya untuk tetap golput tanpa bermaksud mengajak orang berpendapat sama, tidak juga sebagai bentuk pembangkangan terhadap sistem demokrasi politik negeri ini. Secara umum saya melihat bahwa kedua pasangan (Kaji & Karsa) sama-sama telah maksimal berusaha merebut simpati warga Jatim dengan berbagai cara : kampanye, debat, iklan, sowan ke kyai, menghadiri berbagai acara sampai blusukan ke pasar-pasar. Namun dasar saya ini orang yang tidak mudah percaya (entah itu negatif apa positif) jadi tetap saja sulit untuk yakin pada orang.

”Brengos” versus ”Jilbab”, ”Nasionalis versus Agamis-Tradisionalis”, adalah jargon-jargon perlawanan antar keduanya. Hal ini tidak menjadi masalah selama dalam batas kewajaran. Keduanya pun saling mengklaim dukungan dari kyai dan pimpinan ponpes di Jatim, ini juga wajar dalam pentas politik. Tulisan-tulisan di spanduk bertebaran di mana-mana. ”Kalau NU bisa gubernur, kenapa jadi wakil” kata Kaji, dijawab Karsa: ”Gus Ipul, punya nasab dari pendiri NU, direkomendasi Gus Dur”. ”Khofifah dekat dengan rakyat, tidak hanya dalam masa kampanye”, dijawab Karsa : ”APBD untuk rakyat”.

Pada dasarnya saya berpendapat bahwa memberikan hak pilih adalah wajib hukumnya. Hak suara adalah bukti eksistensi kita sebagai khalifatullah. Tetapi justru karena itulah saya masih belum berani memilih. Terlalu mudah memberikan hak suara hanya karena seseorang dekat kepada kita, termasuk golongan kita atau membayar kita untuk itu.

Suara yang diberikan harus ada, karena kalau tidak begitu tidak akan ada regenerasi kepemimpinan dan demokrasi akan macet, tetapi suara golput menurut saya juga memiliki kekuatan. Dengan adanya suara golput, mereka yang dipilih akan merasa bahwa kualitas kampanye mereka masih belum sepenuhnya sempurna dan harus ditingkatkan. Juga dengan golput, mereka akan merasa bahwa suara rakyat tidak mudah untuk dikumpulkan. Toh, jumlah besar golput tidak lantas mengurangi legitimasi hasil pemilihan. Kasarnya begini : ”dengan kualitas kampanye dan visi-misi yang seperti saat ini masih belum bisa meyakinkan saya”. Kalau semua orang memilih, pasangan peserta pemilu akan berpendapat : ”udahlah, dengan kualitas segini aja, rakyat udah bisa kita yakinkan”.

Kedua, pada umumnya mereka yang mencalonkan diri tidak diusung oleh kelompok. Pada awalnya, mereka lah yang menawarkan diri maju dalam pentas pilkada. Ini artinya mereka tidak ditawari amanah, tetapi meminta amanah. Sedangkan dalam hadits dikatakan : ”Wahai Abdurrahman bin Samurah, Janganlah kamu meminta jabatan. Apabila kamu diberi dan tidak memintanya, kamu akan mendapatkan pertolongan Allah dalam melaksanakannya. Dan jika kamu diberi jabatan karena memintanya, maka jabatan itu akan diserahkan sepenuhnya kepadamu” (HR. Muttafaqun Alaih)

Dari Abu Musa Al-Asy’ary ia berkata, bersama dua orang sepupu saya mendatangi Rasulullah SAW. lalu salah seorang dari keduanya berkata : Ya Rasulullah, berilah kami jabatan dari sebagian yang Allah kuasakan kepadamu. Dan yang lain juga berkata demikian. Kemudian Rasulullah berkata : Demi Allah, aku tidak akan mengangkat pejabat karena mereka memintanya, atau berambisi dengan jabatan itu. (muttafaqul alaih)

Ketiga, kualitas kampanye yang dilakukan belum mengena kepada saya dan tidak berkualitas. Seperti iklan Kaji pada pagi hari tanggal 4 November di Jawapos. Dikatakan: ”TIDAK BERPENGALAMAN KORUPSI”. Bagi saya ini lelucon. Tidak berpengalaman korupsi bukan berarti tidak akan korupsi, ini juga berarti mereka pernah korupsi tapi tidak pengalaman. Mestinya yang benar BERPENGALAMAN TIDAK KORUPSI. Lalu ada iklan Karsa yang mencantumkan tausiyah Kyai di Jatim. Isinya: jangan golput. Tapi di poin selanjutnya ada tulisan: DUKUNG KARSA. Ini sih sama saja.

Politik yang dilakukan masih politik patrenialis, sama sekali bukan politik intelek. Kyai dalam hal agama memang punya kemampuan, tapi dalam politik, mereka mestinya tidak usah pake merekomendasi santrinya untuk memilih salah satu pasangan.

Sebagian besar masyarakat memilih karena alasan-alasan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan : ikut kyai, ikut partai, ikut pimpinan organisasi, ikut keluarga, ikut bos. Semuanya sarat konflik kepentingan. Ini politik ikut-ikutan. Seruan anti-golput dilakukan banyak orang bukan karena mereka sadar politik tetapi lebih karena supaya suara golput bisa masuk ke kantong mereka.

Para golputers bukanlah mereka yang bodoh masalah politik, tetapi mereka-lah yang sadar akan fenomena sesungguhnya di balik realitas penampakan politik tanah air. Kami yang golput adalah manusia yang tahu bahwa eksploitasi suara sedang terjadi, diperebutkan kandidat untuk dijual pada investor politik. Kami para golputers bukan tidak peduli pada perbaikan kualitas bangsa. Kami telah memilih: memilih untuk tidak memilih.

Jadi, golput bukan masalah. Golput adalah kekuatan oposisi sesungguhnya dari sistem politik. Saya sendiri belum tahu, sampai kapan akan golput. Semoga tidak lama. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 4, 2008 by in Humanis and tagged , .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: