Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

Iklan Politik PKS Sarat Kepentingan

 

Beberapa waktu yang lalu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kembali menuai kontroversi terkait penayangan gambar KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari dalam iklan politiknya. Tak ayal, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama pun kebakaran jenggot. Din Syamsuddin mengatakan bahwa tindakan PKS mendompleng KH. Ahmad Dahlan itu tidak etis. Sebelumnya AMM Sumut juga mengajukan protes. Dari kalangan NU juga ada yang memprotes tindakan PKS tersebut.

Dalam kasus ini kita harus bersikap arif. Tindakan PKS dapat dipahami karena iklan politik itu bertujuan meraup massa dengan berbagai cara. Etis atau tidak etis, bukanlah faktor utama. PKS sebagai organisasi massa baru, belum punya figur yang memiliki ketokohan keagamaan secara nasional. PKS berdalih bahwa ketiga tokoh yang dicantumkannya bukan milik salah satu kelompok, jadi bebas digunakan. Tetapi masalahnya adalah, iklan tersebut adalah iklan politik, yang berorientasi kekuasaan. Dalam bahasa iklan, pencantuman seseorang dapat berarti persetujuan dan klaim kultural. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan yang dicantumkan berarti klaim yang seolah mengatakan : ”Jika keduanya masih hidup, mereka akan mendukung PKS”.

Kasus ini semakin mempertajam konflik Muhammadiyah dengan PKS dimana sebelumnya, kedua ormas ini sering konflik pada tingkat grass-root. Muhammadiyah merasa PKS banyak mengambil alih masjid dan amal usaha Muhammadiyah. Sekarang mau mengambil alih ketokohan Ahmad Dahlan. Jadi kekecewaan Din bisa dipahami.

Pendapat PKS yang menyatakan bahwa Muhammadiyah kurang dewasa dalam menyikapi iklan PKS terkesan sangat memancing permusuhan. Muhammadiyah sejak awal menjaga kedekatan yang sama dengan partai politik dan dengan tidak mencantumkan gambar Ahmad Dahlan, bukan berarti Muhammadiyah mengkultuskannya. PKS yang memakai gambar Ahmad Dahlan malah berarti bahwa PKS mengkultuskannya, karena melakukan eksploitasi ketokohan orang yang sudah meninggal untuk tujuan-tujuan politis. Orang Muhammadiyah di partai lain bukannya kecolongan ide, tetapi tidak mau menggunakan cara-cara yang tidak pantas dilakukan seperti itu.

Setiap sesuatu ada latar belakang yang menyertainya. Ada hal-hal yang dianggap sebagai representasinya. Misalnya jika ada iklan yang mengejek binatang ”banteng”, maka PDI akan marah karena dianggap melecehkan. Jika ada gambar Gus Dur dalam iklan politik SBY, misalnya, ini artinya Gus Dur mendukung SBY. Tidak ada sesuatu yang bebas nilai. PKS jangan suka berlaku munafik. Bersembunyi dari alasan sesungguhnya dengan terus-menerus menghembuskan permusuhan. Berharap lawannya ”jengkel” dan mempertontonkan pada khayalak bahwa PKS adalah sabar, toleran dan Islami sedangkan yang lain tidak.

Ayolah kita bangun relasi kekeluargaan yang harmonis dengan tidak ada niatan tersembunyi untuk saling menjatuhkan.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 4, 2008 by in Persyarikatan and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: