Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

MENGURAI PERSOALAN ZAKAT

Berita meninggalnya 21 orang dalam peristiwa bagi-bagi zakat di Pasuruan membuat kita terhenyak. Kejadian ini bukan hanya mengindikasikan tingkat kemiskinan—bukan hanya miskin harta, tapi juga miskin jiwa—yang cukup tinggi tetapi juga tingkat ketidakpercayaan kepada lembaga pengelola zakat dan untuk tujuan popularisasi.

Tidak hanya di Pasuruan saja, seperti diberitakan koran ini, tradisi bagi-bagi zakat dengan mendatangkan massa dalam jumlah besar juga terjadi di kota-kota lain, sebagian ada yang berlangsung tertib dan sebagian lagi juga terjadi musibah sampai menimbulkan kematian, seperti di rumah Muhammad bin Alwi pengusaha songkok di Gresik.

Zakat merupakan kewajiban setiap muslim yang memiliki harta yang senisab dengan syarat-syaratnya. Demikian kewajiban zakat ini sampai-sampai sahabat Abu Bakar pernah memerangi orang yang tidak mau berzakat padahal mereka mampu. Tidak dipungkiri lagi bahwa zakat memiliki potensi yang besar dalam pemberdayaan ekonomi umat.

Seperti disebutkan dalam hadits, ada delapan golongan orang yang berhak menerima zakat, yakni : fakir (tidak punya pekerjaan dan tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup), miskin (punya pekerjaan tetapi tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup dasar sehari-hari), amil (pengelola zakat), muallaf (baru masuk Islam), ghorimun (banyak hutang), riqab (hamba sahaya), sabilillah (pejuang di jalan Allah) dan ibnu sabil (perantau).

Ketidakpercayaan terhadap Lembaga Zakat

Salah satu alasan yang mendorong seseorang membagikan zakat secara langsung kepada masyarakat miskin adalah kepuasan batin menyaksikan zakat yang dikeluarkan benar-benar sampai kepada si penerima. Hal ini sebenarnya merupakan derivasi saja dari keyakinan bahwa jika zakat tersebut disalurkan melalui lembaga pengelola zakat maka belum tentu sampai kepada faqir-miskin secara penuh seperti yang diharapkan.

Perlu disadari bahwa amil (pengelola zakat) juga merupakan salah satu asnaf, namun pembagian dan peruntukan zakat juga tergantung niat muzakki. Jika zakat itu diniatkan untuk faqir-miskin saja maka harus disalurkan kepada faqir-miskin sepenuhnya. Tetapi jika niat muzakki peruntukan dan pembagian zakat diserahkan kepada amil, maka amil berhak mendapatkan juga. Jadi sepenuhnya masalah distribusi ini tergantung niat muzakki.

Namun yang terjadi dalam kenyataan bisa sebaliknya. Tidak jarang distribusi zakat itu malah lebih dominan kepada amil zakat. Ini yang menjadi pemicu ketidakpuasan dan kekecewaan muzakki. Mereka melihat amil menerima bagian yang lebih besar dari fakir-miskin dan hidup dari bayaran mengelola zakat. Belum lagi tidak jarang sasaran zakat juga berkutat pada keluarga atau kenalan amil zakat.

Belum lagi ada bagian dari zakat itu yang diambil untuk kas lembaga. Sehingga hal ini tentu semakin mengurangi jatah fakir-miskin. Dan terakhir yang terpenting adalah faktor transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Jika laporan penerimaan dan pengeluaran zakat pada lembaga pengelola memiliki dua hal yang disebut terakhir, insyaallah muzakki akan semakin percaya.

Dorongan Superioritas

Alfred Alder, dengan teori finalismenya dalam psikologi mengatakan bahwa ada tiga tujuan final manusia yang merupakan dorongan alamiah dan bawaan sejak lahir yakni : menjadi agresif, menjadi berkuasa dan menjadi superior. Peristiwa pembagian zakat langsung kepada massa dalam jumlah banyak bisa diterangkan dengan dua dorongan terakhir.

Pemberi zakat dengan massa besar dapat dibagi menjadi dua golongan : pengusaha dan penguasa/politikus. Keduanya bertujuan sama, yakni memanfaatkan momen bagi-bagi zakat untuk popularisasi diri. Para pengusaha berusaha menancapkan image pada masyarakat bahwa mereka respek terhadap kondisi masyarakat dan mereka juga dermawan. Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal ini, tetapi teknis penyaluran yang digunakan lebih bernuansa riya’ atau pamer. Sedangkan mereka yang tergolong penguasa atau politikus berusaha merebut simpati masyarakat untuk tujuan-tujuan politis. Dengan mengadakan pembagian zakat besar-besaran secara terang-terangan, mereka akan di-blow up media dan berita kedermawanan akan menyebar ke mana-mana. Ini sebenarnya bentuk pelanggengan kekuasaan, yang pertama kekuasaan kultural dan kedua kekuasaan struktural.

Sedangkan dari sisi masyarakat penerima zakat, dengan rela antri berdesak-desakan memperebutkan uang yang relatif sedikit sebenarnya mereka terjebak dalam karakter inferior dan kerdil jiwanya.

Pembagian zakat langsung dengan mengerahkan massa dalam jumlah besar memang banyak menimbulkan persoalan. Disamping riskan terjadi kerusuhan juga tidak efektif dan efisien karena membutuhkan biaya yang besar untuk pengamanan. Kalau memang tidak puas dengan distribusi melalui lembaga pengelola, maka distribusi langsung sendiri bisa dilakukan tanpa mengundang massa. Zakat bisa didistribusikan dengan metode door to door, jadi sebaliknya bukan asnaf yang mendatangi muzakki, tetapi muzakki yang mendatangi asnaf.

Atau jika memperhatikan prinsip kontinuitas, maka zakat (selain zakat fitrah) bisa diwujudkan dalam bentuk kekaryaan untuk tujuan pemberdayaan. Sehingga tidak berupa uang yang langsung habis tetapi berkesinambungan dan memberikan manfaat yang lebih besar.

One comment on “MENGURAI PERSOALAN ZAKAT

  1. ALGHI
    October 24, 2008

    bagaimana zakat bagi orang non islam?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 24, 2008 by in Humanis, Religius and tagged .

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: