Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, arti kata hantu adalah sesuatu yang menakutkan. Mengacu pada pengertian umum ini hantu bisa berwujud apa saja, tidak terbatas pada makhluk ghaib seperti dedemit, kuntilanak, tuyul dan sebagainya. Apa saja yang membuat orang takut kepadanya bisa dikategorikan sebagai hantu. Implikasi lebih lanjut adalah, hantu bagi seseorang belum tentu hantu bagi orang lain karena mungkin bagi seseorang sesuatu itu dianggapnya menakutkan sehingga dikategorikan hantu namun bagi orang lain hal itu biasa-biasa saja sehingga dikategorikannya bukan hantu.


Manusia dalam bertindak, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua jenis: mereka yang bertindak secara rasional-logis dan irasional-emotif. Seseorang yang bertindak secara rasional maka tingkah lakunya wajar, normal dan masuk akal, sedangkan sebaliknya mereka yang bertindak secara irasional-emotif seringkali apa yang dilakukannya dipandang tidak masuk akan dalam kerangka perspektif orang lain yang notabenenya tidak mengetahui konteks pengaruh emosi dan irasionalitas yang melatarbelakangi tindakan tersebut. Hal ini bukan berarti secara sporadis saya men-cap buruk perilaku emotif (bahkan dalam beberapa hal, perilaku emotif mesti diprioritaskan).

Dalam hubungannya dengan fenomena hantu, kita perlu menengok proses kerja otak dalam memberikan perintah kepada tubuh untuk merespon image dan rangsang yang diterima indra kita. Jika rangsangan itu adalah sesuatu yang sudah kita ketahui sebelumnya (pengalaman memberikan masukan dalam memori di otak) maka rangsang itu akan diterima oleh otak dan otak akan memberikan reaksi berupa perintah dari korteks. Impuls itu dikembalikan dengan perintah yang sudah dipikir oleh otak. Inilah asal tindakan rasional. Namun jika impuls yang diterima oleh otak tersebut tidak ada dalam memori, maka bagian otak yang mengatur emosi yakni amigdala yang lebih dominan memberikan respon. Impuls itu akan dikembalikan ke tubuh dengan perintah dari amigdala yang emotif. Inilah asal tindakan emotif.

Karena itu, ketika berada di tempat gelap tiba-tiba ada bayangan putih naik secara misterius maka amigdala yang emotif memberikan perintah takut pada diri kita dan karena itu menakutkan maka kita menganggapnya sebagai hantu. Kemudian secara spontan kita berlari, berteriak-teriak, menangis atau respon lainnya yang irasional.

Dalam kasus Unas juga begitu. Kehawatiran dan ketakutan yang berlebihan pada Unas didukung dengan sistem sikap masyarakat menjadikan respon kita bertindak terhadap Unas lebih bernuansa emotif daripada logis. Unas sudah menjadi hantu bagi pelajar, bagi orangtua siswa dan bagi sekolah. Karena sudah dianggap hantu, maka Unas disikapi dengan berlebihan.

Ekspos di media massa tentang siswa bunuh diri gara-gara tidak lulus Unas, gadis yang menyerahkan keperawana kepada dukun untuk mendapat jawaban Unas, pelajar stress gara-gara Unas, jual-beli soal, tim-tim siluman di sekolah, sistem konversi nilai sampai pada arak-arakan dan konvoi pelajar karena lulus Unas adalah bukti irasionalitas masyarakat karena terlalu takut dengan Unas.

Ini bukan berarti Unas adalah musproh dan hanya membawa mudharat, intinya adalah ketakutan kita yang terlalu berlebihan kepada Unas sehingga otak kita yang rasional (yang bertugas menjawab soal, belajar dan bekerja dengan jujur) dibajak oleh hantu Unas.

Mungkin sekali-kali kita perlu memanggil ghostbuster atau “pemburu hantu” untuk mengusir hantu Unas ini.

afkareem. (http://www.afkareem.co.cc)