Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

DISFUNGSI INTERNET

 

Saya ingat dulu ketika masih duduk di bangku SMA di sekolah ini, fasilitas internet tidak sebagus sekarang. Waktu itu—saya lulus tahun 2004, masih baru—internet di sekolah tidak gratis. Setiap siswa yang ingin akses harus bayar 1000 rupiah per-jam, itupun hanya ada sekitar 3 komputer yang disediakan dengan akses yang lambat plus antri bergantian dengan siswa yang lain. 

Karena kurang puas maka saya bersama teman-teman redaksi Inspirasi (waktu itu masih bernama UHF Media) sering menggunakan internet sekolah pada malam minggu, alasannya mencari data untuk penerbitan majalah. Tentunya gratis. Jadi sambil hunting, kami juga browsing yang lain. Tiap malam minggu pasti saya dan teman-teman habiskan untuk menginap di laboratorium komputer sampai pagi harinya.

Browsing di internet menjadi favorit kami. Mulai dari cari perkembangan terbaru di dunia sampai pada baca cerita lucu. Sedemikian banyak informasi yang saya dapatkan, sehingga begitu lekat dalam benak kami internet amat penting. Mungkin juga dalam benak para pimpinan sekolah, karena pada tahun ajaran baru setelah kami lulus, internet langsung diadakan secara free oleh pihak sekolah. Sampai saat ini, fasilitas sudah berkembang sedemikian rupa. Infrastruktur dibangun dengan baik memenuhi kebutuhan siswa akan akses informasi global, mulai dari hot-spot di seluruh sudut-sudut sekolah sampai akses point dari sekolah ke pondok Madinatul Ilmi dan Unmuh Gresik.

Sekarang setiap siswa punya e-mail, beberapa diantara mereka punya web pribadi meski kebanyakan dalam bentuk blog. Browsing, chatting, download, upload, dan berbagai istilah networking sudah tidak asing lagi bagi mereka. Tugas sekolah? Mudah, cari saja di internet. Latihan soal? Tidak masalah, tinggal klik. Berbagai url populer sudah mereka hafalkan didalam kepala.

Tapi dari sekian banyak pengguna dan penggunaan internet, saya sebagai penjaga sekolah (bagian laboratorium komputer—maksud saya) dari pengamatan kasar di lapangan menemukan fakta bahwa siswa paling banyak memanfaatkan internet hanya untuk: main game dan friendster, dua hal yang tidak berdampak signifikan dalam dunia pendidikan (atau malah berdampak signifikan, dalam konteks negatif). Kalaupun browsing sesuatu yang lain, paling banter cari gambar bagus, foto cowok atau cewek cakep, atau—kalau laki-laki—buka situs info sepak bola.

Jadinya fungsi internet tidak maksimal. Ribuan informasi up-to-date dibiarkan saja berterbangan. Situs penyedia bahan ilmu pengetahuan semacam wikipedia atau space masih kalah populer dibandingkan dengan situs semacam friendster atau game online. Jadinya uang 2 juta perbulan untuk koneksi internet unlimited sebagian besar untuk main-main (disamping game juga jadi salah satu seringnya keyboard harus ganti sebelum waktunya).

Internet mengalami disfungsi. Dead link!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 12, 2008 by in Humanis, Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: