Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

UNAS DAN PILKADA

Ada dua agenda besar bangsa Indonesia akhir-akhir ini, yakni pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Apa yang menarik dari Unas dan Pilkada? Ada beberapa catatan penting dan menggelitik terkait dengan kesamaan antara keduanya.

Pertama, Unas dan Pilkada kedua-duanya dapat dikatakan sebagai “euforia”, yang satu euforia pendidikan dan satu yang lain euforia politik. Unas merupakan euforia pendidikan karena keterlibatan banyak pihak—pemerintah, sekolah, orangtua dan siswa—dengan banyak modal untuk suatu tujuan yang tidak jelas (atau jelas-jelas tidak?). Euforia pendidikan ini tampak jelas ketika siswa-siswi yang telah mengikuti Unas dinyatakan lulus, dan mereka dengan gegap gempita dan perasaan bahagia karena bebas dari dunia sekolah yang mereka kutuk kemudian melakukan karnaval jalanan, konvoi dan arak-arakan sambil mencorat-coret seragam sekolah yang menyimbolkan pelampiasan kekesalan kepada institusi pendidikan yang mereka benci. Dengan bangga mereka menunjukkan bahwa mereka bisa melampaui jenjang pendidikan terakhir sebelum dapat dianggap “dewasa”. Mereka tidak menyadari bahwa “pendidikan sesungguhnya” baru saja dimulai.

Pilkada juga begitu. Dalam pilkada, semua orang terjebak dalam euforia politik. Rame-rame mendukung calon penguasa mereka, tanpa tahu bahwa arti “politik” bagi rakyat mungkin tidak sama dengan bagi penguasa tersebut, seperti lirik Iwan Fals “rakyat lugu kena getahnya buah mangga entah kemana”. Rakyat dimanfaatkan hak suaranya oleh penguasa untuk memperkaya diri sendiri dan kroninya, melupakan konstituen setelah mereka merebut tampuk kekuasaan.

Kedua, dalam Unas dan Pilkada, sang pemilih sama-sama buta akan apa yang dipilihnya. Dalam Unas, siswa tidak harus paham akan soal yang dihadapi. Untuk bisa lulus, dia hanya perlu mengeluarkan modal uang dan jawaban akan didapatkan. Bukan rahasia jika dalam pelaksanaan Unas terjadi kecurangan. Isu terakhir, beberapa siswa di beberapa sekolah di kota saya (mungkin juga di kota lain), urunan membayar 1 juta rupiah per-soal kepada joki soal (yang tentunya sang joki sudah membayar ke polisi yang bertugas menjaga soal tersebut). Joki itu kemudian mengirim sms jawaban kepada siswa (tentu saja bisa karena HP kan bisa masuk kelas, wong pengawas kan hanya duduk-duduk sambil baca koran). Seringkali karena tidak tahu mengapa dia harus menjawab A atau B dan bukan C atau D, siswa kebingungan karena menerima SMS jawaban yang berbeda.

Dalam kasus Pilkada juga sama, pemilih sebenarnya tidak paham siapa yang bakal dicoblos dan diserahi amanatnya. Memilih pemimpin artinya menyerahkan eksistensi kemanusiaan kita kepadanya. Selama beberapa bulan, rakyat disodori “kampanye muka” calon penguasa, tapi tidak diberikan informasi tentang siapa sebenarnya mereka dan bagaimana kompetensinya.

Ketiga, Unas dan Pilkada sama-sama menisbikan proses yang bersih, keduanya menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai. Dalam Unas, pemerintah, sekolah dan siswa menghalalkan segala cara agar mereka bisa lulus. Lihatlah bagaimana kesibukan sekolah menghadapi Unas, mulai dari menyiapkan strategi, membentuk “tim siluman”, sampai kong-kalikong dengan sekolah lain agar kepengawasan silang penuh bisa membentuk “jejaring pengawas ompong”. Sekolah menyiapkan bacaan agar pengawas duduk manis dan acuh tak acuh dengan keadaan sekelilingnya.

Siswa pun berusaha keras agar bisa lulus ujian meski dengan cara-cara yang tidak halal. Kerjasama dan kesetiakawanan sosial menjadi term yang dipelintir maknanya. Perintah agama “Wa ta’awanu ‘alal birri wa taqwa, wa laa ta’awanu ‘alal itsmi wal udwan” tidak berlaku disini. Contek-mencontek adalah hal yang diwajarkan. Bahkan—yang membuat miris—seperti yang diberitakan beberapa hari kemarin, seorang siswi rela menyerahkan kegadisannya kepada seorang dukun agar bisa lulus. Goblok sekali! Apa hubungan antara dukun dan Unas? Kalau menyerahkan kegadisan kepada Mendiknas mungkin masih bisa diterima, artinya ada relasi antara Mendiknas dan Unas, tapi kepada dukun?!

Pun dalam Pilkada, calon yang dipilih menghalalkan segala cara agar mereka bisa terpilih. Mulai dari menyuap pelaksana pemilihan, membentuk pemilih fiktif, politik uang dan sebagainya.

Keempat, sama-sama tidak ada transparansi pelaksanaan dan penilaian. Kita tentunya masih ingat dengan kasus terbongkarnya praktek manipulasi nilai yang dilakukan oleh dinas pendidikan beberapa tahun lalu, dimana nilai siswa yang bagus sedikit dipangkas dan diberikan kepada siswa dengan nilai yang kurang. Hal ini ditujukan agar jumlah ketidaklulusan bisa diminimalisir. Ketidaktransparansian proses ini riskan menimbulkan manipulasi seperti beberapa tahun lalu. Dinas pendidikan bisa saja meninggikan nilai siswa jika ada masukan dana dari sekolah (siapa tahu?! Di negara kita, kejutan-kejutan seperti ini sudah biasa).

Dalam Pilkada, perhitungan hasil suara di lapangan dan suara yang masuk ke KPU pusat—seperti sering dikeluhkan teman-teman pemantau—tidak selalu sama. Crosscheck sulit dilakukan apalagi jika suara sudah terkumpul dalam scoupe nasional. Benarkah, misalnya, jumlah suara yang masuk di KPU pusat adalah jumlah suara murni dari hasil pemilihan di tiap bilik suara?

Dengan semua hal yang diuraikan diatas, pertanyaannya adalah, apakah kemudian Unas dan Pilkada adalah sesuatu yang in original memang negatif dan semestinya dihapus? Jawabnya: tidak! Pemilihan Umum langsung dan Ujian Nasional adalah nilai-nilai ideal demokrasi, baik demokrasi dalam bidang politik maupun demokrasi dalam bidang pendidikan. Namun, nilai-nilai ideal selalu mensyaratkan satu faktor primer agar semuanya berjalan dengan ideal juga, yakni: kesadaran. Agar dapat berjalan ideal, semua pihak harus memiliki kesadaran tentang pendidikan yang ideal: prosesnya, eksesnya, teknisnya dan orientasinya. Semua pihak harus memiliki kesadaran akan politik yang ideal juga. Kalau kesadaran itu muncul dalam setiap individu, maka Unas dan Pilkada akan memunculkan kesamaan lain yang lebih manis: kesamaan positif!.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 29, 2008 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: