Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

KITA MEMANG PANTAS MENERIMA BENCANA

Ironis. Mungkin itulah kata yang pas untuk menggambarkan suasana tahun baru 2008 yang baru lewat. Bukannya menyambut pergantian tahun dengan gembira, sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo malah harus merasakan kesusahan akibat banjir menggenangi rumah mereka. Masyarakat di beberapa kota seperti Solo, Bojonegoro dan Gresik hanya bisa mengelus dada menyaksikan rumah mereka tergenang air luapan sungai yang membelah Pulau Jawa itu. Bahkan di beberapa tempat, ketinggian air mencapai genting rumah sehingga memaksa mereka untuk tinggal di pengungsian. Meski diantara mereka ada yang nekad menolak dievakuasi dengan dalih ingin menjaga harta benda, sehingga mereka hidup di atas atap rumah.

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan suasana malam tahun baru di pusat perkotaan. Di beberapa titik keramaian di Gresik, seperti di Alun-Alun dan Bundaran GKB, pergantian tahun dirayakan dengan konvoi kendaraan bermotor dengan knalpot di-bredel sehingga membuat polusi suara dan memekakkan telinga. Para muda-mudi konvoi berboncengan, sambil mbleyer, meniup terompet, menyalakan kembang api, bahkan beberapa diataranya melepas pakaian. 

 

Saya tidak tahu, apa yang alasan logis para penganut teori hedonis tersebut dalam merayakan pergantian tahun dengan kegiatan semacam itu. Yang jelas, perilaku semacam ini termasuk dalam kategori “kejahiliyahan modern”. Bukannya melakukan kegiatan yang positif, konstruktif dan produktif, mereka malah bertindak seperti orang yang tidak berpendidikan (atau justru memang tidak berpendidikan). Sekedar untuk diketahui, perayaan tahun baru merupakan sisa-sisa kultur  yang menjadi ritual agama pagan (penyembah berhala) yang menganggap bahwa penciptaan dunia (kosmogoni) oleh dewa-dewa dengan cara mengalahkan monster naga, harus dikonstruk ulang tiap tahun berakhir (pengulangan kosmogonik), dengan harapan sang naga tidak kembali hidup dan membuat kekacauan (chaos).  Perayaan itu kini mewujud dalam konvoi, berboncengan pria-wanita, orkes-orkes, kembang api dan meniup terompet. Konsepsi Homo Festivus benar-benar hadir meniadakan realitas yang mestinya menumbuhkan empati.

 

Ironisnya, di tengah suasana keprihatinan akibat bencana yang menimpa saudara kita di beberapa daerah, justru pemuda-pemudi ini hura-hura. Malah para peserta konvoi dengan tidak merasa bersalah, sok hebat dan—mungkin—berniat mengejek, semakin mengeraskan suara knalpot saat melewati posko yang didirikan PDM Gresik yang kami jaga malam itu. Yang membuat saya semakin terenyuh, yakni saat dini hari kami meninjau lokasi banjir, kembali kami berpapasan dengan peserta konvoi yang pulang, berboncengan muda-mudi. Terrnyata sebagian besar peserta konvoi berasal dari daerah Gresik utara, yang sedang terkena banjir. Tidak peduli bencana, mereka tetap hura-hura. Maka jangan salahkan Tuhan ketika bencana melanda. Seperti syair Ebiet: Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa….

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 28, 2008 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: