Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

LEGOWO

Manusia bisa merencanakan apa saja yang dikehendakinya kemudian berusaha merealisasikan apa yang telah direncanakan itu. Namun Tuhan-lah yang menentukan apakah rencana yang telah disusun tersebut berjalan dengan baik atau sebaliknya, berantakan dan tidak mencapai tujuan.

Kadang kala sebuah rencana berjalan mulus dari awal, namun pada saat penentuan akhir semua bisa berbalik menjadi kegagalan. Atau sebuah rencana yang morat-marit tidak karuan dan manusia sudah under-estimate, namun layaknya sebuah keajaiban, ketidak-disangkaan eksternal bisa membuat tujuan diraih meski proses yang dilalui seakan tidak memperbolehkan hal itu terjadi. Untuk itu diperlukan sebuah ke-lapang-dada-an untuk menerima apapun yang terjadi, sesuai ataupun tidak dengan apa yang kita inginkan. Karena pada dasarnya, kita tidak berwenang sama sekali untuk menentukan keputusan apa yang bakal terealisasi menjadi sebuah takdir. Kita hanya berhak dan wajib merealisasikan bangunan dasar penyangga apa yang kita inginkan, bukan menentukan keinginan itu sendiri. Banyaknya kerusuhan, konfrontasi dan konflik menunjukkan bahwa kita masih sulit menanamkan perasaan legowo ini dalam hati kita. Pengennya sih semua harus sesuai dengan yang kita harapkan. Jika yang terjadi tidak sesuai, maka seseorang yang tidak mempunyai perasaan legowo akan berusaha merealisasikan keinginannya dengan cara apapun.  Banyak kasus di masyarakat yang menunjukkan ketidak-legowo-an. Massa pendukung salah satu calon yang tidak terpilih dalam proses pemilihan kepada ”apapun” (baca: negara, propinsi, kabupaten, lurah, RT, takmir dan sejenisnya) marah karena jagoannnya tumbang. Kasus pembunuhan karena perebutan warisan atau sekedar rebutan cewek.  Titik kulminasi ketidak-legowoan bisa mewujud dalam bentuk kekerasan fisik seperti pembunuhan dan efek paling rendahnya adalah ketidak-harmonisan hubungan. Jadi agar tercipta suasana harmonis, kita mesti berusaha belajar ber-logowo. 

Meskipun tidak menutup mata, bahwa legowo harus didukung proses yang ideal pula dan tidak dimanipulasi.

2 comments on “LEGOWO

  1. Ari
    April 12, 2008

    iyo bos di legawa’ne…moga cpet oleh gantine zo…

  2. ziqy
    April 12, 2008

    injih………….
    kadang manusia mesti bisa menerima apa adanya. tapi kadang pula manusia tidak harus langsung saja menerima keadaannya. harus ada yang diusalahan atas apa yang ingin ia peroleh. kalo legowo terus, kapan berjuangnya??????????????
    HIDUP LEGOWO ATO HIDUP PERJUANGAN?????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 2, 2008 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: