Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

TYPING OR WRITING ; Sebuah Persoalan Pendidikan

Dimana pun siswa belajar, baik di lembaga pendidikan modern atau klasik, perkotaan atau pedesaan, sangat jarang kita temui nilai-nilai yang tercantum dalam rapor, atau hasil ulangan dan tes mereka menunjukkan angka yang maksimal. Sangat jarang sekali, kalau tidak dapat dikatakan tidak ada, suatu lembaga pendidikan yang berhasil membuat peserta didiknya paham dan mengerti materi yang diajarkan. Bukan berarti bahwa nilai yang tercantum adalah yang utama dan mengesampingkan prioritas pemahaman siswa. Tetapi paling tidak, nilai yang didapat siswa merefleksikan pemahaman siswa tersebut pada suatu pelajaran, atau nilai yang didapat siswa adalah cerminan pemahaman siswa tersebut.

Kemampuan siswa menjawab soal atau tes berbanding lurus dengan sejauh mana pemahaman siswa terhadap apa yang disoalkan itu. Semakin benar dan dalam pemahaman seseorang terhadap suatu hal, maka jawaban yang diberikannya terhadap soal tentang sesuatu tersebut semakin tepat pula. Dengan kata lain—dan bisa disimpulkan secara umum—nilai yang didapatkan oleh seseorang terhadap suatu soal atau tes tentang sesuatu, merupakan nilai persentasi pemahamannya akan sesuatu itu pula.

 

Dengan logika deduktif, kita bisa menarik kesimpulan lebih jauh lagi bahwa: persentasi pemahaman siswa melukiskan persentasi tingkat serap siswa terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Atau jika dibalik, persentasi keberhasilan guru dalam menyampaikan pelajaran berbanding lurus dengan tingkat pemahaman siswa. Maka pertanyaannya kemudian: dimana letak kesalahan yang menyebabkan pemahaman siswa itu kurang sempurna? Apakah pada peserta didik atau pengajar?

 

Ada dua kemungkinan. Yang pertama, dengan berpegang pada prinsip positif bahwa pertama,  pada dasarnya setiap siswa bisa menyelesaikan soal atau tes jika dia paham tentang yang diteskan, kedua, setiap pengajar mesti berusaha menyampaikan materi dengan segenap kemampuannya, maka saya yakin persoalan yang timbul lebih pada masalah komunikasi, dalam pengertian terjadi semacam gap antara apa yang ingin disampaikan guru dengan apa yang dianggap ingin disampaikan guru oleh siswa. 

 

Manusia, dalam salah satu konsepsi disebut sebagai Homo Symbolicum, makhluk yang membuat simbol. Bahasa, seperti kita ketahui adalah suatu sistem yang terdiri dari simbol-simbol, kata-kata, dan kalimat-kalimat yang disusun menurut aturan tertentu dan digunakan sekelompok orang untuk berkomunikasi. Keberhasilan suatu penyampaian tergantung sejauh mana mereka berhasil berkomunikasi, dan keberhasilan komunikasi tergantung pada sejauh mana penguasaan subyek terhadap “bahasa” sesuatu yang dikomunikasikan.  Mengutip ungkapan Galileo: alam semesta itu bagaikan sebuah buku raksasa yang hanya dapat dibaca kalau orang mengerti bahasanya dan akrab dengan lambang dan huruf yang digunakan di dalamnya, maka bahasa yang dimaksud bukan bahasa dalam pengertian linguistik saja, tetapi lebih pada definisi umum bahasa sebagai media komunikasi.

 

Karena selain khaliq adalah makhluq, selain Allah semua adalah alam, maka logika deduktif bisa memberi pernyataan: pelajaran juga alam. Dengan silogisme, dari premis diatas bisa ditarik konklusi pelajaran matematika adalah alam, ilmu sosial, sains, bahasa, seni dan semua pelajaran lain juga alam. Sehingga untuk dapat “membaca”nya, seseorang perlu bahasa. Bahasa yang diperlukan, tentunya, adalah “bahasa tentang” sesuatu itu.

 

Untuk dapat memahami pelajaran Matematika orang mesti paham “bahasa matematika”, begitu pula dengan pelajaran yang lain, untuk dapat memahaminya seseorang memerlukan bahasa yang relevan. Sangat tidak lucu jika kita secara sporadis dan radikal memahami simbol-simbol dalam Matematika dengan pengertian Biologi, atau memahami simbol Biologi dengan pengertian Ekonomi dan sejenisnya.

 

Hal selanjutnya yang tidak kalah penting adalah apakah pengertian yang diberikan oleh guru terhadap suatu simbol bahasa tertentu sama dengan pemaknaan yang dilakukan siswa terhadap simbol yang sama. Contohnya, apakah pemaknaan guru terhadap term “lebih besar sama dengan dari” dalam Matematika atau “inflasi” dalam Ekonomi sama dengan pemaknaan yang dilakukan siswa terhadap term yang sama. Jika pemaknaan term dasar saja berbeda, maka dapat dipastikan pemaknaan terhadap gabungan term semakin jauh dari kesepahaman.

 

Kemungkinan kedua, guru tahu bahwa peserta didiknya sebenarnya belum memahami sepenuhnya tentang materi yang disampaikan. Namun karena kurikulum pendidikan nasional kita yang terlalu membebani siswa dengan alokasi waktu yang terbatas, maka guru terpaksa “meningalkan” siswa yang tidak paham akan materi pelajaran dan melanjutkan materi berikutnya. Seringkali kita temui siswa yang masih tidak mudeng dengan materi pelajaran namun pembelajaran sudah beralih ke materi selanjutnya.

 

Yang terjadi kemudian adalah akumulasi “ketidak-pahaman” materi pelajaran. Ini yang kemudian menjadi alasan mengapa Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) menjamur dimana-mana, karena sekolah tidak berhasil memahamkan siswa. Di sisi lain, siswa butuh paham pelajaran semata untuk lulus ujian. Karena LBB menawarkan jalan keluar “mengatasi soal”, bukan “memahami soal”, maka dorongan pragmatis memaksa siswa masuk LBB.

 

Jika memang ini yang terjadi, maka dapat dipastikan bahwa selama ini siswa kita hanya melakukan typing (menanda), bukan writing (menulis) pada saat mencatat, mengerjakan soal dan belajar. Untuk dapat melakukan typing, seseorang tidak perlu pemahaman akan sesuatu tersebut. Dia hanya perlu mentrasformasikan bahasa lisan ke bahasa tulisan. Dia hanya perlu “memberi tanda” “A” di bukunya jika dari lisan gurunya terdengar kata “A”, tanpa memahami mengapa harus “A”, apa yang melatar belakangi sehingga mewujud “A” dan apa implikasi selanjutnya dari “A” itu.

 Analoginya, siswa seperti pemborong bahan bangunan. Bahan bangunan itu ia tumpuk saja tanpa disusun dan dibangun menjadi sebuah rumah. Dia tahu harus beli batu, semen, pasir, besi dan sebagainya tanpa paham fungsi dari masing-masing bahan. Tidak paham akan relasi yang mesti dibangun diantara bahan-bahan itu. Sementara, sebaliknya, untuk bisa melakukan writing, seseorang harus paham akan apa yang harus dituliskannya. Untuk itu dia butuh referensi, yakni dengan membaca. Makanya mengapa writing (menulis) sering digandengkan dengan reading (membaca), menjadi baca-tulis. Analoginya seperti juru masak yang tahu jenis-jenis bumbu dan paham seberapa komposisi yang dibutuhkan untuk bumbu tertentu sehingga menghasilkan rasa masakan yang lezat dan bisa dinikmati.  Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa siswa harus tahu dan paham semua hal, semua materi pelajaran. Namun, setidaknya persentasi pemahaman siswa menjamin penerimaan yang sepadan dengan apa yang sudah dikeluarkannya: tenaga, waktu, pikiran dan biaya. Hal ini mesti dipecahkan, sehingga guru tidak pusing ketika akhir semester ternyata masih banyak siswanya yang harus remidi, mengulang karena dulunya tidak paham tetapi dipaksa menurut.  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 1, 2008 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: