Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

RAJA YUDAS; DAN HOMO ECONOMICUS

Dalam mitologi Yunani, ada sebuah cerita tentang seorang raja yang kaya raya bernama Raja Yudas. Raja tersebut mempunyai kekayaan yang melimpah dan wilayah kekuasaan yang luas. Namun agaknya sang raja masih menginginkan harta yang lebih banyak lagi, untuk itu dia memohon kepada Dewa agar diberi mukjizat, yakni apa saja yang tersentuh oleh kulitnya berubah menjadi emas. Dengan begitu, dia dapat menambah hartanya menjadi berlipat ganda. Raja Yudas bersemedi berhari-hari agar keinginannya dikabulkan dewa. Akhirnya dewa mengabulkan keinginan Raja Yudas.

Setelah permintaannya terkabul, Raja Yudas bersorak kegirangan dan menyentuh semua benda yang ada di istananya. Semua berubah menjadi emas. Raja berteriak kegirangan. Tiba-tiba datang cucu yang sangat disayanginya. Lupa akan permintaannya pada dewa, sang cucu dipeluk dan digendongnya. Namun serta merta cucu raja tersebut berubah menjadi patung emas. Betapa menyesal raja menyadari hal itu. Dia menangis sesenggukan. Agak lama dan merasa lapar, raja meraih sebuah apel dan bermaksud memakannya. Namun apa daya, baru sampai di bibir, apel tersebut berubah menjadi apel emas yang tidak bisa dimakan. Lalu raja meraih gelas berisi anggur, juga berubah menjadi gelas emas. Ketika anggur itu akan diminum, air anggur berubah menjadi emas. Sang raja menanti kematian dalam penyesalan. Tidak dikisahkan di sini bagaimana akhir dari cerita tersebut.

Oo00oO

Dalam salah satu konsepsi yang ditelorkan oleh Adam Smith dalam The Wealth of Nation, dikatakan bahwa manusia adalah Homo Economicus, makhluk yang memenuhi keinginan-keinginannya. Muncul pertanyaan: “mengapa binatang—yang juga memenuhi keinginannya—tidak dikatakan Homo economicus juga?”. Jawabnya karena keinginan binatang terbatas pada kebutuhan primernya saja, seperti makan, minum, dan mempertahankan keturunan.

Namun keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak berhenti pada hal-hal seperti itu. Kebutuhan manusia tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan terbatas, begitu kalau saya tidak salah dengar penjelasan dari pelajaran ekonomi. Sifat kebutuhan manusia sangat relatif dan ekspansif. Dikatakan ekspansif karena keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bertambah seiring dengan bertambahnya usia, perubahan status sosial dan gaya hidup. Ketika bayi, kita mungkin tidak (atau belum?) butuh seragam sekolah, misalnya. Dan dikatakan relatif karena apa yang dikelompokkan dalam kebutuhan sekunder atau tersier saat ini, di kemudian hari bisa menjadi kebutuhan primer. Misalnya dulu HP adalah kebutuhan sekunder, sekarang di era kecepatan komunikasi dan informasi menjadi begitu diperhatikan, maka HP menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar orang.

Lihatlah lalu-lalang manusia di sekitar kita. Betapa bising suara kendaraan tidak berhenti meski hari sudah malam. Kepulan asap pabrik tak putus 24 jam sehari, 7 hari seminggu, untuk memproduksi alat pemuas kebutuhan manusia. Semua aktivitas itu dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski tidak semuanya, sebagian besar aktivitas pemenuhan keinginan manusia berkenaan dengan benda fisik. Bahkan, pemenuhan kebutuhan psikis pun membutuhkan barang fisik.

Dalam salah satu lagunya, Iwan Fals bernyanyi: “Keinginan adalah sumber penderitaan”. Salahkah manusia jika mereka memenuhi keinginannya? Tidak!, sama sekali tidak. Selagi itu semua dilakukan dalam koridor yang benar. Jangan sampai pemenuhan kebutuhan itu menjadi tujuan hidup. Bahkan agama sendiri memerintahkan manusia untuk mencari rizki bagi kelangsungan hidupnya. Slogan bijak “Makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan” mesti kita camkan baik-baik. Keinginan pun, meski di satu sisi berpotensi menjadi sumber penderitaan, tetapi sekaligus juga sebagai sumber kebahagiaan.

Sehingga masalahnya mengerucut menjadi: keinginan yang bagaimana yang menjadi sumber penderitaan, dan keinginan yang bagaimana yang menjadi sumber kebahagiaan?

Jawaban pertanyaan ini—meski agak terkesan kontradiktif—juga bisa diketemukan dalam tulisan Adam Smith yang lain: The Theory of Moral Sentiments. Bahwa disamping manusia adalah makhluk yang berusaha memenuhi kepentingan pribadi (homo economicus) tetapi di sisi lain dia juga merupakan makhluk yang bersimpati terhadap lingkungannya, ingin berbagi dan saling memberi. Disamping itu pula, jika menggunakan hermeneutics of retrieval, sampai pada akhir abad ke-19, ekonomi adalah bagian dari filsafat moral. Dengan kata lain, ekonomi tidak bisa dilepaskan dari etika dan prinsip sosial.

Dengan begitu, kita bisa menyimpulkan bahwa, agar tidak terjebak dalam pola kehidupan yang berorientasi ekonomi semata—yang mengandaikan egoisme—pragmatisme, maka dalam hidup ini, setiap tindakan kita tidak boleh dilakukan hanya berlandaskan kepentingan ekonomis. Jangan karena melakukan sesuatu itu tidak menguntungkan secara ekonomis, maka kita tidak mau melakukannya.

Namun realita di masyarakat kita agaknya berbicara lain. Kerja-kerja sosial yang mengandaikan kerelaan pelaksananya untuk sekedar  diberi imbalan dengan “ketenangan dan kesenangan batin”, seperti: aktif dalam organisasi sosial, menjadi relawan, kerja bakti,  menyumbang dana dan membantu orang lain tanpa imbalan uang/barang menjadi barang usang yang jarang diprioritaskan. Semua aktivitas ditujukan—pada akhirnya—untuk mendapatkan materi. Bekerja untuk cari uang semata, sekolah supaya dapat kerja yang pada dasarnya juga untuk cari uang, masuk sebagai anggota parpol untuk cari uang, jadi wakil rakyat untuk cari uang, jadi bupati, gubernur atau presiden untuk cari uang. Bahkan tidur juga berorientasi ekonomis: supaya besok bisa cari uang!. Iya kalau uang itu pada akhirnya digunakan untuk sesuatu yang bernilai non-ekonomis juga. Kalau tidak?

Jadi kita perlu diam sejenak dan duduk dengan tenang kemudian berpikir. Dalam keseharian kita, berapa jam aktivitas yang berorientasi ekonomi, berapa jam untuk sosial dan berapa jam untuk aktivitas religius.

Jika terjadi kepincangan dengan timbangan lebih berat pada hal  yang disebut pertama di atas, apalagi jika melulu hidup kita untuk memuaskan keinginan ekonomis, maka Raja Yudas telah berreinkarnasi dalam diri kita. Semoga tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 27, 2007 by in Humanis.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: