Explore, Dream, Discover!

Blog Percikan Pikiran Ahmad Faizin Karimi

TIDAK MENULIS

Akhir-akhir ini saya rasakan produktifitas menulis semakin menurun. Membaca mungkin masih sering meski nyicil, tetapi menulis sudah jarang. Kegelisahan serupa ternyata banyak dialami oleh penulis-penulis yang lain. Rutinitas harian paling dominan menjadi bulan-bulanan kambing hitam. Pagi berangkat kerja pulang sore kemudian keluar lagi (entah, pasti ada urusan) pulang paling cepat pukul 09.00 malam.

 


Ide dan gagasan yang muncul sepintas, entah dapat dari membaca buku atau melihat kejadian dalam kehidupan, menjadi terbang berputar diluar kepala dan tidak pernah terjabarkan diatas kertas, apalagi menjadi praksis. Beberapa permintaan dari teman atau relasi juga hanya mendapat jawaban ”sedang dalam proses” karena tidak sempat cari referensi. Walhasil, saya merasakan diri ini seperti Automaton, meminjam istilah Enrich Fromm, manusia mesin yang menjalani hidupnya secara datar-datar saja dan tidak mengekspresikan idealismenya sebagai seorang manusia. Dan tahulah sendiri bahwa idealisme seorang penulis pertama kali dijabarkannya dalam tulisan. Jadi, kalau menulis saja tidak pernah berarti idealismenya sendiri juga dapat dikatakan mulai luntur.

 

Melihat isi website dan blog yang wajib saya kelola, menjadi sungkan saya melihatnya. Bukan karena beritanya yang kurang. Berita sih selalu up-date, yang out of date adalah artikel atau opini, baik opini guru maupun opini siswa. Mungkin kita sama-sama terkena penyakit rutinitas yang membelenggu. Kalau web ini milik komunitas pebisnis atau birokrat mungkin masih bisa dimaklumi, tetapi ini milik lembaga akademik yang notabenenya identik dengan ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuan disimbolkan oleh tulisan.

 

Kadaluarsa

Seperti makanan, ide atau gagasan bisa kadaluarsa dan basi jika terlalu lama hanya disimpan di kepala. Untuk ”mengawetkannya”, ide atau gagasan itu harus di”teks”kan. Sekadar tahu, dalam filsafat wacana, konteks (kejadian, peristiwa, gagasan) yang di”teks”kan menjadi massif dan melintasi skala lokal dan temporal sehingga bisa dilakukan transformasi di kemudian hari. Jadi gagasan atau ide yang tidak terjabarkan (atau hanya keluar lewat bahasa ”oral”, seperti ”rasan-rasan”) menjadi barang ”sekali pakai”. Sebenarnya kita semua mempunyai idealisme masing-masing, tiap orang bisa berbeda. Ketika idealisme itu bersentuhan dengan realitas di lapangan, maka dalam hati orang tersebut akan ada beberapa kemungkinan, pro, kontra atau moderat. Saya yakin semua pembaca menyadari hal ini. Masalahnya adalah kita belum terbiasa mengekspresikan kesetujuan atau ketidaksetujuan kita secara tertulis. Minimal ngrundel dalam hati dan maksimal rasan-rasan. Menyadari saya mulai terjangkit kemalasan menulis diatas, saya harus berusaha menghilangkannya, dan satu-satunya cara adalah: menulis!. Bingung lagi apa yang ditulis, ternyata kebingungan itu sendiri malah menjelma menjadi sebuah ide. Ide tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 24, 2007 by in Intelektual.

Kategori Artikel

Archives

MY BLOG’S AWARD

My Book: Siapapun Bisa Menerbitkan Buku!

My Book: Think Different

buku think different

My Book: Politik Kiai Dahlan

Pemikiran dan perilaku politik kiai haji ahmad dahlan

My Book: Kurban; Kekerasan Berbingkai Agama?

buku kurban

The Inspiring Nature

Pengunjung

  • 46,642 pembaca
%d bloggers like this: